Sabtu, 23 Maret 2013 Pukul 08.30 Wita, bus Megamas yang dikemudikan Pak Awal, tiba di rumah kediaman Bapak Ilham yang biasa di sapa Bapaknya Yun.  

Bus Megamas yang membawa 35 orang penumpang akan menempuh route, dari Bungku Barat di Wosu, menuju dermaga Nuha di Luwu Timur, lama perjalanan sekitar enam jam dengan jeda waktu mampir di Cafe Bandung, sebelum naik Rob di Danau Matano Sorowako.

Menurut penuturan Bapak Hasyim, yang datang bersilaturahmi ke tempat Bapak Yun, sebelum kami meninggalkan Bungku Barat, beliau masih sempat berceritera banyak tentang Bungku, dari Pak Hasyim kami mendapat beberapa informasi. Pak Hasyim masih merupakan kerabat dari isteri Awar Anas itu, menuturkan, kalau dirinya juga dipercaya, sebagai petugas mandor dan pengawas lapangan pada dua perusahaan, sering berkeliling kampung.

Karena itu, kalau ada orang baru, Pak Hasyim langsung tahu, karena di Bungku Barat ini, merupakan kawasan yang penduduknya masih memiliki pertalian darah antara satu dengan lainnya.
Konon kata “Mororwali” berasal dari kata kupu-kupu, hal ini seiring dengan ditemukannya “kupu-kupu raksasa” di sebuah hutan lindung, saat ini menjadi satwa yang dilindungi termasuk Burung Maleo yang menjadi ciri khas Kabupaten Morowali. 

Dikisahkan bahwa di zaman kerajaan dahulu ada dua suku yang mendiami kawasan pegunungan di Sulawesi Tengah,  yaitu Suku Mori dan dan Suku Bungku.

Saat keduanya bermigrasi, Suku Mori yang turun gunung menuju kea rah Pantai, dengan afiliasi kegiatan di bawah pengaruh Belanda dan Portugis.
Sementara suku “Bungku” mengusai kawasan “daratan” dan banyak bersosialisasi dengan para penyebar agama dari Timur Tengah.
Bahkan, salah seorang tokoh masyarakat Bungku, belajar ke Timur Tengah dan mendalami  Islam kemudisn mengajarkan ilmunya kepada masyarakat Bungku, dengan pusat pemerintahan, persis berlokasi di Bungku Barat, yang saat ini, diatas lahan, bekas rumah kerajaan berdiri megah Masjid Nurul Iman yang di bangun oleh H.Muh.Ali alias H.Sun di Wosu.
Membicarakan Morowali, maka kita tak bisa melepaskan sejarah panjang perjuangan dari leluhur H.Muh.Ali (H.Sun) yang leluhurnya berasal dari Cina.
Kini setelah mendiami kawasan Morowali, beranak-pinak serta melalukan percepatan pembangunan dibawah bendera perusahaannya, maka di hari  Jumat, 22 Maret 2013, H. Muh.Ali yangmenikah dengan Hj.St. Sa’diah (almarhumah) di karuniakan enam orang anak, menikahkan putri keenamnya bernama drg.Musdalifah Daeng Tjaya, menikah dengan Azwar Anas,S.Kom Daeng Gassing.
Disaksikan keluarga besar dari dua rumpun Keluarga, Takalar dan Morowali, pada hari Jumat 22 Maret 2013 Pukul 09.00 Wita waktu Morowali dan sekitarnya.
Usai pelaksanaan acara perkawinan yang semarak, ditandai dengan pemotongan sapi sebanyak Sembilan ekor, untuk memenuhi kebutuhan makan minum. Pesta yang melibatkan begitu banyak orang itu, membuat H.Muh.Ali (H.Sun) membangun “SABU’A” sejenis panggung acara yang menggunakan seribu lembar seng, yang didatangkan dari Kota Palu. Seusai acara pernikahan, dilanjutkan Sholat Jumat di Masjid Nurul Iman Morowali, Sulawesi Tengah.
Keesokan harinya, Sabtu 23 Maret 2013, anggota rombongan meninggalkan Wosu di Bungku Tengah, masih dengan mobil “Megamas” yang memang menguasai pangsa pasar khusus penumpang Makassar–Morowali.
Dalam perjalanan dari Bungku ke Nuha, kami harus mengikuti jadwal tetap yang sudah menjadi komitmen pelayanan penumpang Megamas, harus singgah di “Cafe Bandung” Jalan Trans Sulawesi di Beteleme, kondisi itu juga berlaku saat pertama kami menginjakkan kaki  ke Morowali.
Usai bersantap siang, kami meneruskan perjalanan, di sekitar kampung Gowaha, kira-kira 5 Km sebelum perbatasan Sulteng-Sulsel, Bus Megamas, melewati jalan berkubang, kemudian jalan yang dilalui mendaki.
  
Karena bus yang kamui tumpangi, tidak bisa melakukan tanjakan seperti mobil lain yang berbahan bakar bensin. Bus Megamas memakai bahan bakar solar, sehingga untuk melakukan akselerasi pendakian dibutuhkan landasan pacu yang datar.
Untuk meringankan beban bus, AC dimatikan dan para penumpang dipersilakan turun sementara, sebagian penumpang ada yang memberikan dahan dan ranting kayu yang kering, ada juga yang mendorong, sambil berteriak, satu,dua,tigaaa… dan bus Megamas dapat melalui rintangan dengan selamat.
 
Salah seorang penumpang Megamas, namanya Mr. Signh, dia seorang bisnismen dari India dan sudah dua bulan bertempat tinggal di Morowali. Penumpang ini, turut berpartipasi di saat mobil terjerembeb ke kubangan. Mr.Signh memerintahkan mematikan AC, kalau menggunakan AC makan beban mesin semakin berat, ujar Mr. Signh dalam bahasa Inggeris.
Please close air contition”, isi perintahnya, silakan matikan AC agar ada kekuatan untuk mesin,  akhirnya Bus dapat melalui rintangan dengan selamat, para penumpang kembali masuk dalam bus dan perjalananpun dilanjutkan, dengan penuh keriangan.
Perjalanan dilanjutkan, menelusi kawasan lokasi transmigrasi, disisi kiri dan kanan jalan, ada bangunan “Pura”, kemudian ada juga “Gereja” termasuk bangunan masjid, kerukunan antar umat beragama terpancar dalam kehidupan keseharian.
Disalah satu pasar kecamatan, ada juga “Coto Makassar” dan yang lebih seru, adalah “Café Bandung”.
Pemilik warung adalah Orang, suaminya seorang dari Suku Mori, tapi isterinya dari Bandung. Penulis sempat menyapa beliau dengan pertanyaan, “Kumaha Damang” dan beliau pun menjawab “Damang” sambil tersenyum manis.
Dalam hati kecilku berkata, wow orang Bandung dimana-mana nih, mengusai nusantara tercinta. Usai santap siang, rombongan meninggalkan “Café Bandung”, Jam tangan sedang menunjukkan angka 12.oo waktu setempat.
Kondisi fisik kembali segar, setelah santap siang disusul dengan secangkir kopi susu. Bus Megamas yang dikemudikan lelaki Awal, menuju dermaga penyeberangan di Nuha Luwu Timur.
 

 
Setelah melalui  perjuangan panjang yang melelahkan, akhirnya tiba di dermaga Tanjung di Nuha, di jemput Sdr. Muslimin, Koordinator Tagana Luwu Timur di Soroako.
Dari dermaga, kami diantar ke Masjid Agung Soroako. Setelah melaksanakan sholat dhuhur dijamak Ashar, lalu diantar ke Perwakilan Megamas di Soroako.
Di Terminal, anggota rombongan sedang menyantap “Bakso” yang dijajakan oleh Sdr. Widodo dari Jawa Tengah. Setelah menikmati suguhan bakso kami kembali naik Bus Megamas yang berbeda.
Pukul 17.00 Wita, perlahan-lahan Bus Megamas yang memiliki daya muat 40 penumpang, meninggalkan Terminal Soroako, menuju Makassar. Sempat mampir untuk santap malam di Luwu Utara di Malili, kemudian meneruskan perjalanan menuju Makassar dan tiba pada saat menjelang subuh di Kota Makassar.
Tiba di perwakilan, barang-barang anggota rombongan dipisahkan, selanjutnya dengan menggunakan taksi, menuju ke rumah masing-masing untuk istirahat, sebuah perjalanan panjang yang memakan waktu 36 jam telah dilalui dengan selamat, kini tinggal kenangan untuk ditulis dalam paparan naskah, “Selamat Tinggal Morowali”, salamaki.

Salam Takzim,

SMS : 081 24242 5938 PIN 2A2 7F 722
email : syakhruddin@gmail.com
email : syakhruddin@yahoo.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>