Menjaga Marwah Tagana

SYAKHRUDDIN.COM – Pelaksanaan Jambore dan Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun Taruna Siaga Bencana (TAGANA) ke-17 berlangsung semarak di Pantai Timur Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat.

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini yang akrab disapa Bu Risma, dengan busana TAGANA lengkap, hadir di Pangandaran yang memberi semangat patriotisme di kalangan anggota Tagana dan Para Perintis Tagana Indonesia, untuk terus menjaga Marwah danPanji-panji Tagana yang telah dikibarkan sejak 24 Maret 2004 di Lembang Jawa Barat.

Mensos sendiri mengakui, kalau selama menjadi Walikota Surabaya selama dua periode, tidak terlalu memerhatikan Tagana, akan tetapi setelah menduduki sebagai orang nomor satu di Kementerian Sosial dan menyaksikan langsung di lapangan.

Ternyata TAGANA sebagai salah satu bentuk kearifan lokal (semangat gotong royong) utuk saling membantu satu sama lain, benar-benar dirasakan kehadirannya.

Ketika mengunjungi korban bencana gempa bumi di Mamuju Sulawesi Barat, melihat dan menyaksikan sendiri Tagana yang datang dari berbagai provinsi yang bertetangga.

Mereka hadir dengan sukarela, menggunakan potensi kekerabatan dan dukungan dari Dinas Sosial provinsi/kabupaten/kota yang selama ini menjadi pembina tehnisnya.

Bahkan ketika di Mamuju, Risma mengakui, saya belajar membungkus nasi dari anak-anak Tagana. Ternyata, ngga perlu pake karet mestinya”, ungkap Mensos saat memberikan arahan pada puncak acara HUT Tagana ke 17 yang disiarkan langsung melalui channel youtube Linjamsos Oke.

Jadi, lanjutnya nanti yang dari luar Jawa, mungkin bisa belajar. Jadi, nanti kalo bungkus nasi, ngga perlu pake karet, nanti kalo karetnya habis, gimana cara bungkusnya?.

“Ternyata ada teorinya, saya masih ingat, begini, begini, terus ini dimasukkan begini, yaa”, kata Risma sambil memeragakan cara membungkus nasi menggunakan kertas yang dipegangnya.

Risma juga mengajak Tagana untuk terus belajar kepada sesama Tagana yang memiliki pengetahuan dalam bidang kebencanaan.

Oleh sebab itu, menjadi kewajiban kita untuk secara bersama-sama,  mulai dari Menteri Sosial dan segenap jajarannya, khususnya pada Direktorat Jenderal Perlindungan & Jaminan Sosial untuk senantiasa berfikir dan mengembangkan kapasitas para anggota Tagana dari Tagana Muda ke Tagana Madya dan lanjut ke Tagana Utama.

Dengan busana PDH Tagana yang dikenakan Mensos,  menunjukkan kecintaannya kepada Tagana Indonesia dan memberi spirit kepada rekan-rekan Tagana se-Indonesia.

Perjalanan waktu 17 tahun, tidaklah muda sebuah organisasi sosial yang tetap konsen pada pengabdiannya. Maka menjadi sebuah pertanyaan besar, bilamana di era kekinian, masih ada yang alergi dengan kebesaran Tagana yang dibangun dengan Para perintis yang berasal dari 30 provinsi se Indonesia.

Bukan suatu kebetulan, karena Direktur Pelayanan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), Syafei Nasution merupakan salah seorang Perintis Tagana,  dimasa silam merupakan utusan Dinas Sosial Provinsi Jawa Jabar dan tergabung dalam Regu III.

Demikian halnya dengan Iya Kusmadiana, yang menjadi komandan upacara pada saat pencanangan lahirnya TAGANA  di halaman Balai Besar Diklat Kessos di Lembang, tempat dimana mengabdi kala itu.

Dengan demikian, perjalanan sejarah harus senantiasa diingatkan, bahwa para Perintis yang terdiri 60 orang peserta dan Direktur PSKBA kala itu, dijabat Drs Andi Hanindito, telah meletakkan landasan pijak untuk kita terus melangkah.

Di era kekinian, dengan kemajuan tehnologi informasi dan beraneka ragamnya jenis bencana, maka sudah perlu difikirkan unit pengembangan keterampilan Tagana yang berbasis tehnologi informasi yang canggih, tanpa melupakan kesejarahan perjalanan di usia ke-17 tahun.

Dalam pertemuan dengan Perintis di Pangandaran, disepakati bahwa untuk menggali kembali para Perintis sebelum tahun 2004, diantaranya yang mengikuti pelatihan persiapan pembentukan di tahun 2003 dan 2002, untuk didata kembali guna diberikan “Piagam Penghargaan”

Ini upaya untuk menghargai tetesan keringat dari kawan-kawan yang pernah merumuskan hadirnya sebuah pasukan siap pakai pada kesempatan pertama, yang menurut mantan Mensos Khofifah Indar Parawansa, Tagana harus tiba di lokasi bencana satu jam setelah kejadian bencana.

Hal itu bukanlah sebuah keniscayaan, mengingat anggota Tagana yang tersebar diperbagai pelosok nusantara, akan senantiasa siaga, terlebih lagi dengan digalakkannya KSB (Kampung Siaga Bencana) dan Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang didapat dikembangkan kemudian menjadi Tagana Masuk Kampus (TMK), seperti yang telah diujicobakan pada Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Menjaga Marwah Tagana, tidak harus dengan mengkultuskan para Perintis Tagana Indonesia, termasuk pejabatnya pada masa itu, akan tetapi dapat menjadikan sebuah rujukan untuk senantiasa menjaga “Marwah Tagana” agar tidak dibelokkan untuk kepentingan sesaat, terutama dalam pelayanan korban bencana alam, maupun bencana lainnya yang senantiasa mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bersinergi dengan berbagai multi pihak termasuk dengan TNI, tentunya kelak dapat dilatih agar TAGANA dapat menjadi anggota cadangan terlatih yang bisa digerakkan dalam kondisi Negara dalam keadaan darurat.

Disisi lain dengan pembagian klaster yang sudah diatur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBN) menunjukkan identitas dan tugas pengabdian dari relawan Tagana terlatih, sebagaimana spesifikasi dan lambang-lambang yang terpampang didadanya.

Ada yang ahli di bidang  Manajemen Vertical Rescue, ke-Posko-an, Dapur Umum Lapangan, Layanan Sosial, Perrtolongan Pertama pada kondisi gawat darurat, Water Rescue serta Pengungsian, semuanya butuh waktu untuk senantiasa dilatihkan di daerah masing-masing.

Bukan dengan selesainya perayaan peringatan, selesai pula kegiatan dan kembali ke daerah, kemudian istirahat dan tidur sambil menanti datangnya bencana. Tetapi teruslah berlatih dan bersiaga, baik sebelum bencana terjadi – terlebih pada siatuasi darurat dan yang tak lah pentingnya adalah rehabilitasi pasca bencana.

Seiring dengan kemajuan dan perkembangan penanganan bencana dewasa ini, maka aspek “Kesiapsiagaan” harus lebih diutamakan, makanya pelatihan dalam kondisi sebelum bencana terjadi, perlu terus digelorakan di masing-masing provinsi.

Dirgahayu Tagana Indonesia ke-17 dan tetaplah selalu siaga dan menjaga “Marwah Tagana Indonesia”

 

Makassar 2 April 2021

by. syakhruddin Perintis Tagana

Dari Sulawesi Selatan

 

 

 

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.