Pasar Balang-Balang di Pagi Hari

Setiap akhir pekan, penulis mengantar isteri menuju Pasar Balang-Balang Jalan Malino Kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.

Jarak tempuh dari rumah kediaman ke lokasi pasar dapat ditempuh dalam waktu 45 menit, melalui jalan pintas di Kawasan Danau Mawang.

Apa yang menarik di Pasar ini ??? Pasar Balang-Balang merupakan pasar trasidisional, namun terus berkembang dan di era kepemimpinan Bupati Adnan Purictha Ichsan.

Pasar ini ditingkatkan kapasitasnya menjadi pasar induk Kecamatan Bontomarannu dengan penataan los jualan didalamnya.

Berbagai hasil bumi dijajakan disini, dengan harga yang murah meriah dibandingkan dengan pasar lainnya di Kota Makassar.

Para  petani bisa datang mengelar plastik pengalas jualannya lalu memasarkan langsung ke pembeli, tentunya dengan harga tangan pertama.

Ada unik, kadang bukan musimnya tapi ada yang jual, satu dua orang pedagang  seperti, bakara (sukun), rebung (lebong), sayur jumpai dan cappa boyo, semuanya baru di petik dari lahan pak tani, inilah yang membedakan dengan pasar lainnya.

Demikian halnya dengan pedagang  yang datang  bersama mobilnya dan para pembeli dari kota, tentunya akan senang berbelanja karena selain murah juga banyak pilihan.

Keberadaan Pasar Balang-Balang menjadi hikmah bagi warga sekitar, karena halaman rumah mereka yang luas, dibangun tempat jualan bakso dan nasi kuning.

Ada yang menyiapkan halaman untuk parkir motor dan ada pula yang berjualan dalaam bentuk gerobak  dorong.

Bagi pengguna lalu lintas, maupun peseda yang sedang mengisi hari minggu, dengan sendirinya harus berhati-hati saat lewat di kawasan ini, karena jalan yang sempit dan lalu lintas manusia cukup padat, namun tetap memakai protokol kesehatan.

Sembari menanti sang pendamping berbelanja, tentu aktifitas menulis harus dimaksimalkan, sehingga kesempatan menulis melalui perangkat HP Xiaomi dapat dimaksimalkan.

Pasar tradisional Balang-Balang, posisinya sedikit berada di kerendahan, namanya juga balang-balang (tempat menampung air = Balang dalam Bahasa Makassar).

Sehingga pada musim banjir, warga disekitar dan penghuni pasar terpaksa harus ikhlas menikmati banjir dan hal ini,  tentu menjadi hukum alam, dimana tempat rendah disitu air mengalir, tuturnya

Pesan inti dari tulisan ini, daripada ke moll belanja sayuran, lebih baik ke Pasar Balang-balang, sekaligus  memberi kehidupan bagi rakyat kecil ditengah suasana dampak Copid-19 yang sampai saat ini, masih tengah dalam penanganan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

Copid-19 benar-benar telah meluluhlantahkan tatanan ekonomi, politik sosial, budaya dan ekonomi.

Pada gilirannya bisa berdampak terhadap kekacauan politik yang berujung pada kondisi ketidakstabilan sosial,  naudzubillah min dzalik (Syakhruddin 12.7.2020)

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.