Jalur Sutra Baru Berubah dari OBOR ke BRI

SYAKHRUDDIN.COM, JAKARTA –  Proyek One Belt One Road (OBOR) yang kini berubah nama menjadi Belt and Road Initiative (BRI) sempat menuai polemik di Indonesia. Proyek milik pemerintah China itu dianggap merupakan strategi besar China membangun jalur sutra baru demi menguasai dunia.

Dilansir dilaman CNN, Pada 27 April 2019 lalu dilakukan penandatanganan 23 Memorandum of Understanding (MoU) antara sejumlah pebisnis Indonesia dan China dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II BRI di Beijing.

Langkah itu menuai kritikan di dalam negeri lantaran dianggap Indonesia akan dimanfaatkan China yang berhasrat menguasai perdagangan dunia termasuk memanfaatkannya untuk kepentingan militer.

Duta Besar RI untuk RRC, Djauhari Oratmangun menampik pandangan tersebut. Sebagai diplomat yang turut andil dalam kerja sama itu, dia menjamin kedudukan Indonesia dengan China setara. Sebab proyek BRI milik China itu juga disinergikan dengan misi Indonesia yang ingin menjadi poros maritim.

“Dalam konteks BRI ini kita sinergikan juga dengan poros maritim kita. Jadi bukan berarti kita terima saja BRI itu, tidak. Kita berunding, proses perundingan yang cukup memakan waktu, bahwa dia harus investasi dalam konteks poros maritim kita dan mereka setuju. Lalu dapatnya itu adalah sinergi antara poros maritim dan BRI,” ujarnya dalam wawancara Blak-blakan dengan detikcom yang tayang Rabu (24/6/2020).

Djauhari menekankan, dalam konteks penyelarasan BRI dan poros maritim kedua negara memiliki kedudukan yang sama untuk menjalankan kepentingannya dalam mengembangkan koridor ekonomi.

“Kita dapatnya 4 koridor ekonomi, koridor ekonomi pertama itu Sumatera Utara, kedua itu di Kalimantan Utara, ketiga itu di Sulawesi Utara, dan keempat itu di Bali. Jadi kita tidak sekedar investasi yang di-drive oleh mereka saja, tapi oleh keduanya,” terangnya.

Dengan kesepakatan itu, menurut Djauhari China juga akan turun berinvestasi dalam kepentingan pengembangan poros maritim terutama di 4 koridor ekonomi tersebut. Dia menegaskan masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir karena proses diplomasi Indonesia tidak akan mengorbankan NKRI demi kepentingan negara lain.

“Jadi nggak ada lah pandangan seperti itu, darah kita ini NKRI, kita tahu persis ini apa yang harus kita negosiasikan,” tegasnya (sumbercnnindonesia)

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.