dr Tirta kritik Jubir Corona, Achmad Yurianto di acara Indonesia Lawyer Club

SYAKHRUDDIN.COM, JAKARTA – Belakangan ini nama dr Tirta menjadi perbincangan Tanah Air. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu kerap lantang meneriakkan perlawanan dalam menghadapi COVID-19.

Di hari raya Lebaran tahun ini, perjalanan dr Tirta menjadi mualaf terungkap. Ia memutuskan memeluk agama Islam sejak tahun 2011.

Sejak kecil, tak ada satu agama yang fokus diyakininya. Ia bebas belajar agama apa pun dan sudah belajar dua agama orang tuanya.

Ayah dr Tirta beragama Islam dan ibunya Tionghoa. Perbedaan budaya dan agama tak membuat keluarga besarnya terpecah belah.

“Dari SD aku ke TPA. Tapi, Minggu aku sekolah minggu. Di situlah aku mengenal toleransi, karena aku mengenal banyak orang dari kecil,” ucapnya.

Perjalanannya menjadi mualaf 8 tahun yang lalu itu bermula dari sebuah hidayah. dr Tirta tak menyangka ia mendapatkan petunjuk dari Tuhan lewat sebuah mimpi.

Di mimpinya, dr Tirta melihat dirinya berbaring dan dijaga dua orang berpakaian serba putih. Tak disangka, seorang kyai mengatakan sebuah pesan kalau suatu hari nanti dr Tirta akan mengemban tugas yang besar.

Hidayah lainnya didapatkan ketika ia mendengarkan suara azan selama 7 hari berturut-turut.

Nama Dokter Tirta makin dikenal luas lagi setelah secara keras menyuarakan kritik terhadap Jubir Corona, Achmad Yurianto di acara Indonesia Lawyer Club.

Sebelumnya Tirta sudah dikenal di skena snekaer lokal karena dia adalah pereview sepatu olahan Tanah Air dan pebisnis cuci sepatu sekalgus pernah praktik sebagai dokter di Puskesmas Turi, Yogyakarta.

Tirta Mandira Hudhi ternyata juga seorang mualaf seperti Deddy Corbuzier. Hal itu diungkapkan lulusan kedokteran UGM itu kala usai mengisi podcast sang mentalist.

“Sama2 belajar muslim melalui muallaf, sama2 ngegas, semoga ini bukan obrolan pertama kita, dan terus kolaborasi,” tulis Cipeng kala berfoto bareng eks suami Kalina tersebut.

Dalam unggahan terbaru, dokter Tirta mengunggah foto lamanya kala masih praktik di Puskesmas di kampung halaman. Kala itu ia terlihat memakai alat bantu di leher karena kecelakaan kala naik motor.

Dokter Tirta cerita bahwa ia kecapekan karena kerja dan menjalankan bisnis berbarengan sampai akhirnya tertidur di motornya.

Tirta mengatakan, ia tak bisa mengimbangi waktu praktik dengan bisnis. Karenanya ia memilih mundur dulu dari bidang medis.

Tirta pun mengaku tak masalah dicap dokter gagal. Dalam pesannya, ia mengatakan bahwa membangun semua yang ia capai saat ini bukan pekerjaan mudah sama sekali.

“So buat yang bilang “dokter ga laku” “dokter gagal” Ya biarlah. Nanti juga tau sendiri hehe. Buat followers lama. Kenapa mereka loyal ama saya? Karena tau.

Saya bangun semua ini ga gampang. Saya anak muda biasa2 aja. Yg kebetulan emang suka edukasi di media sosial. Dan suka2 bagi hadiah tiap minggu.”

Tirta juga memberi isyarat keinginan praktik lagi di akhir kalimat. “Kapan praktek lagi? Tenang. Nunggu bronkitis dan berbagai penyakit saya kembali normal.” (berbagai sumber)

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.