Uus sang penulis puisi, pergi untuk selamanya

SYAKHRUDDIN.COM, SOPPENG – Kepergiaan Uus, panggilan akrab Asmaul Husna (21 thn), mahasiswa semester VII Jurusan Akuntasi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, membawa luka yang mendalam bagi keluarganya.

Setelah dijemput oleh Diana, keluarga yang dating dari Soppeng di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, almarhumah disemayamkan di rumah duka di Perumahan Mario indah, Takkalala Kabupaten Soppeng hingga mengantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di Pekuburan Umum Tettikenrarae, Minggu (15/12/2019).

Pihak keluarga berharap agar pelaku pembunuhan lelaki Ridhoyatul Khaer (21 thn) alias Ridwan alias Ridho, dapat dihukum seberat-beratnya, karena selain telah menghamili Uus juga melakukan pembunuhan berencana.

Ayah Uus bernama Makka Caning tidak pernah menduga kalau anak ke-5 dari 7 bersaudara tewas ditangan seorang lelaki yang menjadi kekasihnya. Orang tua Uus berusaha di Morowali Sulawesi Tengah.

Uus dikalangan sahabatnya dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas, rajin menulis puisi bahkan pandai membuat foto gif. Salah satu gambar gif yang pernah dibuatnya adalah perempuan yang terikat kedua tangannya dan matanya meneteskan airmata.

Kepergian Uus yang tragis menjadi pelajaran berharga bagi para mahasiswa UIN yang saat ini, sedang menuntut ilmu di Kampus Islami, karena dengan perbuatan perorangan akan mencoreng nama keluarga besar UIN Alauddin Makassar.

Oleh sebab itu, hendaklah hati-hati dalam mengikuti proses belajar mengajar, ungkap salah seorang aktifis mahasiswa.

Uus yang Ia menjadi salah satu pengurus di majalah Forum Kajian Ekonomi Syariah UIN Alauddin Makassar  sering menulis puisi. Suatu ketika coretan penanya berkisah tentang perpisahan dan  di postingnya ke media sosial .

Berpuluh kali pergi,

Berjuta kali pun kembali,

Iya, ini rumah bagi kami yang tak memiliki tempat kembali

Iya, ini rumah bagi kami yang tak pernah menemui jalan pulang

Iya, ini rumah dimana orang-orang menyambut kami dengan kehangatan

Walau seringkali beradu mulut,

Saling melempar ego,

Berderai drama air mata,

Diam bisu tak ada sapa,

Tapi kami tetap keluarga,

Bercerita dipenghujung malam tentang masa lalu dan masa depan saling menghangatkan kembali

Iya, Forkeis rumahku, rumah kami, rumahmu dan rumah kita.

Jika ada benci dihatimu,

Jangan benci Forkeisnya,

Bencilah sifat individunya,

Tapi jangan membenci terlalu lama,

Sebab kita saudara yang tumbuh bersama.

Bukankah makan nasi sepiring bersepuluh sudah biasa kita lakukan?

Maka redupkan bencimu,

Redahkan kecewamu,

Berdamailah,

Dan kembali kerumah

Jika langkahmu sudah terlalu berat, dan tanganmu sudah tak mampu menggenggam tangan-tangan untuk membuatmu pulang,

Maka tinggalkanlah rasa bencimu,

Berdamailah dengan egomu,

Pergilah dengan tenang dan temukan rumah-rumah yang lain,

Tapi ingat!

Kami selalu akan menyambut kepulanganmu dengan hangat,

Entah itu benar-benar pulang atau hanya sekedar menyapa.

(bs/syakhruddin)

.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *