Jumince Sabneno dari NTT, korban terbungkus seprai di Sungai Jeneberang

Identitas mayat perempuan yang ditemukan terbungkus kain seprai di tepi Sungai Jeneberang, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya terungkap. Mayat tersebut atas nama Jumince Sabneno.

Kabid Dokkes Polda Sulsel Kombes Raden Harjuno mengatakan korban yang ditemukan di tepi sungai di bawah Jembatan Barombong, Senin (18/11/2019), diketahui berusia 32 tahun. Korban berasal dari Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Korban datang dari NTT ke Makassar belum terlalu lama dan tinggal di rumah pamannya di Jalan Manuruki, perumahan Villa Kanaan, Kecamatan Tamalate,” ujar Harjuno dalam keterangan pers di kantornya, Selasa (19/11/2019).

Identitas korban terungkap, lanjut Harjuno, setelah tim Biddokkes Polda Sulsel membuka call center dan menyebarkan informasi serta ciri-ciri korban di media massa dan media sosial.

Kronologis kejadiannya, Warga di sekitar tepi Sungai Jeneberang, Makassar, Sulsel dikejutkan dengan mayat wanita terbungkus seprai warna ungu. Mayat dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Sulsel.

“Terbungkus seprai dari ujung kepala. Itu seprai dalam keadaan terikat,” kata Kepala Urusan Dokter Forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kaur Doksik Biddokkes) Polda Sulsel, Muhammad Ridho, Senin (18/11/2019).

Warga melaporkan temuan mayat wanita terbungkus seprai sekitar pukul 10.25 Wita. “Kita yang pergi ambil di sana. Dibawa dan tiba di sini (RS Bhayangkara) sekitar pukul 11.00 Wita,” sambung dia.

Mayat ini ditemukan mengenakan baju kaos lengan panjang hitam. Korban juga menggunakan celana kain warna hitam bergaris putih.

“Pada kuku jari kiri tengah menggunakan cincin warna silver polos berbahan besi putih. Pada kuku tangan kiri menggunakan kuteks berwarna ungu,” ujar dia.

Mayat perempuan tanpa identitas terbungkus kain seprai yang ditemukan di tepi Sungai Jeneberang, Makassar diduga korban pembunuhan.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko mengatakan dugaan ini didasarkan hasil pemeriksaan tim forensik Biddokkes. Ada beberapa bekas aksi kekerasan, seperti luka lebam di rahang kanan, tulang hidung patah, dan kaki korban yang lecet.

“Dugaan awal korban dibunuh, indikasinya kuat. Ada banyak tanda-tanda kekerasan di tubuh korban,” kata Indratmoko kepada wartawan, Selasa (19/11/2019).
Selain itu, dari hasil pemerikaan tim forensik, di organ vital korban ditemukan cairan sperma. Selain itu, tim forensik juga menemukan cairan lendir di hidung korban, yang mengindikasikan korban masih hidup sebelum dibuang ke sungai dalam keadaan terbungkus kain seprai.

“Hasil pemeriksaan forensik, korban masih hidup sebelum dibuang ke sungai, diduga korban meninggal dunia sekitar 7 jam sebelum jasadnya ditemukan di tepi sungai,” ungkap Indratmoko.

Polisi terus berusaha  mencari tahu identitas korban. Polisi sudah melakukan pengecekan sidik jari korban. Namun hasilnya tidak memiliki kesamaan dalam database kependudukan.

“Kita perkirakan korban belum melakukan perekaman KTP elektronik, karena kita periksa sidik jari tidak ada di database kependudukan,” pungkas mantan Kasubdit IV Sumdaling Ditreskrimsus Polda Sulsel ini.

Karena pemberitaan yang cukup gencar akhirnya terungkap. Mayat tersebut atas nama Jumince Sabneno, Korban berasal dari Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur  (bs/syakhruddin)


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *