Praktis, memilih cara mati ala Haji Siga

Wasiatku padamu semua “Bila kelak saya kembali kehadirat-Nya, maka tugasmu semua adalah, memandikan jenazahku, menkafani, mensholati di Masjid dan mengantarkan ke kuburan, tidak perlu ada upacara pelepasan atau pelaksanaan takziyah dan lain-lain, karena saya ingin segera berjumpa denganRabb-ku”  bunyi wasiat beliau.

Melaksanakan amanah beliau, maka Fitriadi yang mewakili pihak keluarga menyampaikan wasiat almarhum dihadapan para pelayat yang memenuhi tenda biru.

Karena takut akan wasiat beliau tidak dilaksanakan, maka sejak menghembuskan nafas terakhir di rumah kediamannya, pada hari Minggu 10 November 2019 Pukul 19.00 Wita, masih dalam suasana peringatan “Hari Pahlawan” maka tepatlah, beliau gugur laksana “Pahlawan umat, inspirator, guru, politisi dan kakek yang dicintai anak cucu dan cicitnya”

Usai dimandikan pada pagi hari Senin 11 November 2019, Pukul 10.30 Wita, dengan ditandu satuan Kokam yang berseragam organisasi, mengusung jenazah naik ke ambulans menuju Mesjid Besar Limbung, tempat dimana almarhum sering menjadi imam.

Selanjutnya disholati oleh  para pelayat, sanak family dan handai tolan yang tersebar dipersada nusantara, hadir dan datang mensholatinya kemudian mengantarnya ke kuburan keluarga di Limbung Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

Banyak yang memperediksi, beliau akan dimakamkan seusai sholat dhuhur, tapi rupanya, sesuai wasiatnya, dipercepat penguburannya.

Dengan diantar ribuan jamaah menuju ke tempat perisitirahatannnya yang  terakhir, di lokasi kuburan keluarga yang telah dipersiapkan sejak lama, lalu beliau dimakamkan, ditimbuni dan dipasang tonggak papan namanya dan acara selesai bahkan tidak ada acara takziyah tiga malam, sebagaimana lazimnya yangs erring kita saksikan.

Tak ada penyiraman air ke pusara, tak ada pemasangan karangan bunga dan tak ada sambutan, benar-benar sangat praktis dan itulah yang penulis sebut, “Cara mati ala H.Siga”.

Sungguh luar biasa dan sangat praktis, sesuai dengan tuntunan agama. begitulah cara wafat di tanah suci, tidak perlu repot karena sang hamba hanya berpindah tempat.

Penulis sengaja bertahan lama pulang, beberapa tokoh yang menjadi murid-murid beliau, membacakan doa dengan khusyu, walaupun yang lainnya sudah pulang.

Demikian halnya dengan “Pasukan Kokam dibawah koordinasi Ustaz Syahrir” berdiri dengan sikap sempurna, membacakan doa, sementara yang lainnya sudah pada meninggalkan lokasi Kuburan.

Bak pasukan para komando, mereka memberikan penghormatan terakhir terhadap “Sang Mahaguru” dan Kokam telah menunjukkan integritasnya sebagai sebuah organisasi di Muhammadiyah yang memiliki tata cara penghormatan terhadap jenazah.

Selamat jalan ayahanda, Nenek  dan sang panutan masyarakat  “Bapak KH.Zainal Abidin Dg Siga” dalam hitungan usia  82 tahun, Lahir 27-7-1937 wafat 10-10-2019)

Pihak keluarga kembali ke rumah, menerima ungkapan duka dari tetamu dan para pelayat yang terlambat datang dan tidak lagi menyaksikan jenazah almarhum.

Ayahandaku tercinta “Kami telah memenuhi wasiatmu ayah” tutur Wahyuni Zainal Abidin, sungguh sebuah cara mati yang sangat praktis sebagaimana tuntunan agama.

Sanggupkah kita melaksanakan semua itu, kembali kepada diri kita masing-masing sebagai seorang pengikut Muhammad ??? jawabnya ada pada keluarga masing-masing. (Wassalam syakhruddin HP 081 2424 5938).

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.