Fikri Fadhilah & Jamhari, hilang di Gunung Dempo

Dua warga Kabupaten Muaro Jambi,  dinyatakan hilang kontak saat mendaki Gunung Dempo, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan sejak Selasa (15/10/2019).

Keduanya adalah M Fikri Fadhilah (19 thn) dan Jamhari (26 thn). Kepala Basarnas Kota Pagaralam Alfariz mengatakan pihaknya telah mendapatkan laporan dari keluarga korban pada Selasa (22/10/2019), bahwa kedua pendaki tersebut hilang, setelah pamit untuk mendaki ke Gunung Dempo.

Kedua pendaki tersebut berangkat ke Pagaralam pada Minggu (13/10/2019) dan terakhir kontak kepada keluarga pada Selasa (15/10/2019).

Setelah mendapatkan laporan tersebut, pihaknya segera menerjunkan tim yang terdiri dari 18 personel untuk mencari keberadaan dua pendaki tersebut. Alfariz berujar, terdapat dua jalur pendakian di Gunung Dempo.

Tim Pencari Gabungan yang terdiri dari Basarnas, Kepolisian, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri) serta sejumlah elemen pecinta alam dan masyarakat, menemukan dua dari tiga pendaki yang hilang di Gunung Api Dempo, Sumatera Selatan sejak sebulan lalu.

Kedua korban ditemukan meninggal di sekitar kawah Gunung Api Dempo bagian timur.

Menurut keterangan salah satu anggota Tim Pencari Gabungan, Ari Affandi, korban pertama ditemukan 300 meter dari puncak Gunung Api Dempo. Saat ini, Tim Pencari Gabungan tengah melakukan evakuasi korban ke posko penyelamatan


Tim SRU I (Search Rescue Unit) yang beranggotakan empat orang anggota WANADRI berhasil menemukan korban pada Sabtu (2/11/2019) pukul 17.30.

Mereka menyisir daerah puncak dan menelusuri jalur ke kawah Gunung Api Dempo,” ujar Ari yang kerap dipanggil Otek Cemehe melalui keterangan tertulisnya, Minggu (3/11/2019).

Ari menjelaskan penemuan korban pertama bermula dari kecurigaan Tim Pencari Gabungan setelah melihat gundukan benda besar berwarna biru melalui teropong.

Saat mendatangi lokasi yang dicurigai, tim pun menemukan sejumlah jejak kaki pada tanah yang terperosok di sekitar puncak.

Tak ingin mengulur waktu, Tim Pencari Gabungan menyusuri bekas tanah terperosok yang menjadi indikasi tempat terjatuhnya korban.

“Tim SRU I yakni Indra dan Wahyudi memutuskan untuk menyisir jejak kaki ke arah kawah. Setelah itu mereka menemukan korban dalam keadaan tidak bernyawa lagi,” ujar Ari (bs/syakhruddin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *