Garuda kandangkan Pesawat Boeing 737NG yang retak

Seorang Pilot mengatakan bahwa di balik sertifikasi Boeing 737 MAX, terdapat masalah pada sistem penanganan utama penerbangan ketika dia melakukan tes simulator.

Sebagaimana diketahui, Boeing 737 MAX juga mengalami kecelakaan fatal di Indonesia pada 2018. Karyawan Boeing menyebut masalah pada Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver, sebuah mekanisme penanganan penerbangan yang diyakini menjadi penyebab utama dari dua kecelakaan (Indonesia dan Ethiopia) MAX yang menewaskan 346 orang itu.

Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terpaksa mengandangkan satu pesawatnya Boeing 737NG. Garuda terpaksa mengandangkan pesawat itu karena mengalami keretakan.

Tak beroperasinya satu pesawat itu ialah buntut dari laporan pelaksanaan DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) nomor 19-10-003 dan FAA Airworthiness Directives Nomor 2019-20-02.

Dalam laporan tersebut ditemukan adanya retakan pada pesawat Boeing B737NG. Garuda Indonesia saat ini sedang pikir-pikir untuk meminta ganti rugi ke produsen Boeing karena tak beroperasi armadanya tersebut.

Kepala pilot teknis Boeing untuk 737, Mark Forkner, mengatakan kinerja fitur keselamatan otomatis pada 737 MAX atau sistem MCAS selama tes simulator terlihat mengerikan.

“Saya pada dasarnya berbohong kepada regulator (tanpa sadar),” ujar Forkner melalui pesan singkat.

Pesan itu yang juga diketahui Boeing beberapa bulan sebelum memberikan keterangan kepada Federal Aviation Administration (FAA) yang kemudian menimbulkan pertanyaan terkait pengetahuan perusahaan tentang masalah yang dialami MAX jauh sebelum kecelakaan.

Hal itu juga saham perusahaan yang menurun tajam. Para pakar penerbangan mengatakan, temuan itu juga dapat menunda lebih lama lagi bagi pesawat untuk kembali beroperasi.

Kecelakaan dan sertifikasi FAA atas MAX sedang diselidiki oleh sejumlah otoritas, termasuk Departemen Kehakiman dan komite kongres yang telah menjadwalkan audiensi dengan Ketua Pelaksana Boeing Dennis Muilenburg akhir bulan ini.

Berdasarkan hasil investigasi kecelakaan sebelumnya, kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines, sistem anti-stall (MCAS) mengakibatkan pesawat menukik tajam ke bawah akibat kesalahan pada pembacaan sensor, sehingga pilot tidak bisa mengendalikan pesawat setelah lepas landas.

FAA, berdasarkan diskusinya dengan Forkner dan rekan lainnya di Boeing, meyakini sistem MCAS hanya akan aktif pada kasus tertentu dan tidak menimbulkan ancaman terhadap keselamatan pesawat.

FAA mengkritik Boeing karena mengetahui pesan singkat itu “beberapa bulan yang lalu,” tetapi tidak mengungkapkan temuan mereka kepada regulator keselamatan sampai Kamis kemarin.

“Tadi malam, saya meninjau dokumen yang diberikan Boeing kemarin kepada Departemen Perhubungan,” kata Administrator FAA Steve Dickson dalam sebuah surat kepada Muilenburg (bs/syakhruddin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *