Saat perusahaan RI tak mampu bayar utang

Sejumlah Perusahaan RI terancam gagal bayar utang  : Kabar tak sedap melanda dunia usaha Indonesia, dua tahun terakhir, banyak perusahaan yang dikabarkan tak mampu membayar kewajibannya.

Para perusahaan yang keuangannya terganggu itu, berasal dari berbagai sektor. Mulai dari transportasi, konsumer, asuransi, kawasan industri, transportasi hingga perusahaan pembiayaan.

PT Northcliff Indonesia tak luput diterpa kabar miring. Perusahaan investasi ini dikabarkan tidak mengembalikan dana investasi seorang nasabah.

Menurut, rilis yang diterima, nasabah tersebut bernama Johannes Theodor Go. Dia mengaku menanamkan investasi ke Northcliff sebesar US$ 400 ribu pada 9 November 2018 dengan imbal hasil yang dijanjikan 6,5% dalam jangka waktu 6 bulan.

Menanggapi hal itu, CEO Northcliff Indonesia Erry Sulistio mengatakan bahwa pihaknya tidak mengambil pusing tentang kabar tersebut. Perusahaan saat ini tengah membentuk tim investigasi.

“Ya kita biarkan saja, namanya mau naik kelas. Saya percaya sepanjang melakukan dengan kejujuran, ¬†pasti akan berbuah yang baik. Huru-hara itu tidak menjadi menjadi beban,” ujarnya.

Erry mengaku belum mengetahui apakah perusahaan memiliki nasabah dengan nama tersebut. Dia juga tidak bisa memastikan jumlah dana yang diinvestasikan itu.

Namun pihaknya membentuk tim untuk melakukan investigasi guna mempelajari berkas-berkas yang ada.

Pihaknya juga mengaku belum ada panggilan dari OJK. Namun tim Northcliff berencana untuk menyambangi OJK untuk menjelaskan meskipun belum ada panggilan.

Sementara itu, Institute For Development of Economics and Finance atau Indef mengingatkan pemerintah, agar mampu mengelola utang dengan baik.

Sebabnya sejumlah negara gagal membayar utang karena strategi pembangunan infrastrukturnya yang masif.

Menurut riset Indef, ada empat negara yang gagal membayar utang. Ekonom Indef M. Rizal Taufikurrahman mengatakan, ada negara yang berhasil membiayai proyek infrastrukturnya dengan utang, tetapi ada juga yang gagal.

“Ada negara yang gagal, mereka masif membangun infrastrukturnya dengan utang, tetapi yang terjadi, mereka tidak bisa bayar utang,” katanya dalam acara diskusi Indef, di Jakarta.

Menurutnya, infrastruktur merupakan proyek yang memberi dampak dalam jangka panjang. Sementara itu negara yang membangunnya juga harus memperhatikan dampak jangka pendek yang dihasilkan dalam pembangunan infrstruktur.

Empat negara yang gagal membayar utang adalah Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka dan Pakistan (bs/syakhruddin)

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.