“Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN , Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB, Mohon doanya untuk beliau,” demikian cuitan di akun twitter Pengurangan Resiko Bencana – BNPB tersebut.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho telah menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Wafatnya Sutopo itu dikabarkan istrinya, Retno Utami Yulianingsih.

 

“Retno yang menemani Sutopo menjalani perawatan kanker di Guangzhou, China, itu mengaku belum tahu kapan jenazah suaminya akan dibawa ke Indonesia. Ia mengatakan suaminya tersebut menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

 

Pria kelahiran Boyolali pada 1969 silam itu, wafat setelah berjuang lama melawan kanker yang menggerogoti kesehatan tubuhnya.

 

Dalam menyiapkan data bencana, sebelum disampaikan kepada media massa, Sutopo kerap menghabiskan waktu seharian penuh buat menyusunnya. Baginya tak mudah mendapatkan data-data saat terjadi bencana.

 

Dia terlebih dulu harus mengontak setiap posko, menyatukan data, menyortir, memeriksa dan menganalisisnya sebelum dibagikan ke media. Belum jika wilayah bencana sulit dijangkau atau jalur komunikasi putus.

 

Kini, Sutopo telah tiada, namun kesigapannya dalam memberikan informasi terkait bencana selalu dikenang.

 terutama di kalangan wartawan, dan netizen. Pasalnya, Sutopo memang terbilang ‘cerewet’ membagi pendapat dan keseharian di akun media sosial miliknya.

 

Pria yang pernah dianugrahi Asian Of The Year 2018 itu sebelumnya bertolak ke Guangzhou untuk pengobatan.

 Sutopo mengatakan bahwa kankernya sudah menyebar. Untuk itu ia meminta doa dan restu dari para netizen menjalani satu bulan pengobatan di Guangzhou.

 

Dalam pekerjaannya sebagai Kepala Pusdatin Humas BNPB, bisa dikatakan popularitas sudah ibarat menteri bahkan presiden.

Sutopo memang dikenal dan ‘disayang’ karena banyak memberikan layanan informasi bencana, ancaman, serta penanggulangannya kepada masyarakat.

 

Diceritakan Sutopo sendiri semasa hidupnya, ia divonis dokter telah mengidap kanker paru pada pertengahan Januari 2018.

 

“Dokter bilang saya kanker paru-paru stadium IV, pertengahan Januari lalu,” kata pria yang juga karib disapa Pak Topo itu dalam keterangan yang disampaikan di grup whatsapp wartawan, Senin (12/2).

 

Sutopo mengaku kaget atas penyakitnya tersebut. Apalagi selama ini ia tidak merokok dan selalu mengonsumsi makanan sehat.

 

Namun, Sutopo menyatakan menerima penyakit tersebut dan menganggapnya sebagai garis hidup yang memang harus dijalaninya.

Dia pun terus menjalani aktivitasnya seperti biasa, termasuk dalam pekerjaan sebagai Kepala Pusdatin Humas BNPB.

 

Dalam perbincangan dengan  media, 1 Oktober 2018, Sutopo mengaku mulanya ia menjadi juru bicara BNPB karena ‘dipaksa’.

 

“Waktu itu saya dipaksa dilantik. Saya enggak punya background komunikasi, tapi bisa menjelaskan itu (bencana),” katanya.

 

Latar belakang sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dulu membuatnya dekat dengan media. Dia pernah menjadi narasumber karena salah satu penelitiannya di Situ Gintung menjadi rujukan ketika tanggul itu jebol, dan menewaskan sekitar 100 orang pada 2009.

 

Sutopo pun sebenarnya siap,  jika harus digantikan orang lain. Namun, menurut dia menjelaskan data dan mekanisme bencana bukan perkara gampang, Selamat jalan sang pelayan informasi bencana, innalillahi wa inna ilahi rajiun (bs/syakhruddin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>