WhatsApp dapat menyehatkan secara psykhologis

WhatsApp didirikan pada 24 Februari 2009, kini sudah memasuki tahun kesepuluh. WhatsApp didirikan oleh Brian Acton dan Jan Koum yang pernah bekerja sebagai pegawai Yahoo.

WhatsApp adalah aplikasi pesan instan untuk smartphone, jika dilihat dari fungsinya WhatsApp hampir sama dengan aplikasi SMS yang biasa Anda pergunakan di ponsel lama.

Tetapi WhatsApp tidak menggunakan pulsa, melainkan data internet. Jadi, di aplikasi ini tak perlu khawatir soal panjang pendeknya karakter. Tidak ada batasan, selama data internet sobat memadai.

Meskipun merupakan aplikasi pesan instan, ada yang unik dari WhatsApp. Jadi, sistem pengenalan kontak, verifikasi dan pengiriman pesan tetap dilakukan melalui nomor ponsel yang sudah terlebih dahulu didaftarkan.

Sebuah studi menyatakan bahwa banyak menghabiskan waktu memakai WhatsApp ternyata bisa menyehatkan secara psikologis, tepatnya meningkatkan rasa percaya diri dan memperkecil kemungkinan merasa kesepian.

 

 

Studi berjudul “Psychosocial Outcomes Associated with Engagement with Online Chat Systems” yang dikutip NDTV itu menyebutkan, bahwa aplikasi WhatsApp, yang memiliki fungsi chat grup, punya dampak positif pada kesehatan psikologis.

 

 

Disebutkan, bahwa semakin banyak seseorang menghabiskan waktu WhatsApp-an setiap harinya, rasa kesepian mereka akan semakin berkurang. Sebaliknya, mereka juga jadi lebih percaya diri sebagai efek merasa lebih dekat dengan teman dan keluarga.

“Ada banyak perdebatan mengenai apakah menghabiskan waktu di media sosial buruk buat diri kita, tapi kami mendapati bahwa mungkin nyatanya tidak seburuk yang kita duga,” kata Linda Kaye, profesor di Universitas Edge Hill.

 

“Semakin banyak orang menghabiskan waktu di WhatsApp, mereka bisa merasa kian dekat kepada teman dan keluarga, dan mereka merasakan hubungan tersebut benar-benar berkualitas.

 

Lebih eratnya hubungan persahabatan itu dan semakin orang merasa dekat dengan grup WhatsApp mereka, kian besar pula hal itu berdampak positif ke rasa percaya diri dan kompetensi sosial,” tuturnya.

 

Menurut para peneliti, rasa terhubung dengan grup tertentu juga membuat pengguna WhatsApp tak terlalu merasa kesepian.

Keberadaan WhatsApp, yang menghubungkan pengguna dengan orang-orang terdekat, ternyata menguntungkan buat keberadaan seorang individu.

Dalam merumuskan studi ini, tim riset memilih 200 pengguna WhatsApp yang terdiri dari 158 perempuan dan 42 laki-laki pada usia rata-rata 24 tahun.

Ditemukan pula bahwa mereka rata-rata menggunakan WhatsApp selama 55 menit per hari.

 

Silain pihak beredar kabar, bahwa WhatsApp mulai menyebar update berisikan fitur yang bisa jadi solusi buat pengguna agar tidak salah kirim foto saat chat dengan pengguna lain.

Seperti diberitakan sebelumnya, fitur ini sebelumnya juga sudah disebar oleh WhatsApp walaupun masih dalam tahap beta.

Menurut Independent, Rabu (26/6/2019), versi penuh berisikan fitur tersebut kini mulai disebarluaskan ke seluruh pengguna WhatsApp.

“Cuma pengguna WhatsApp pada perangkat Android, termasuk pemilik smartphone Samsung, Huawei, dan Sony, yang akan mendapatkan update tersebut, mengingat pengguna iPhone sudah kebagian fitur ini pada WhatsApp versi teranyar buat iOS.”

 

Dalam fitur tersebut, pengguna WhatsApp pada dasarnya bisa melakukan cek dan ricek sebelum mengirimkan konten-konten media, termasuk seperti foto dan video, agar terhindar dari insiden salah kirim, sehingga bikin malu. (bs/syakhruddin)

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.