Suasana tarwih malam ke 26 di Al Abrar

Suasana malam ke-26 ramadan 1440 H, diisi dengan ceramah dari Ustaz DR H Nurhidayat M.Said,MA yang datang dengan mengenakan jas coklat dipadu sarung coklat bergaris lembut.

 

Dalam uraiannya dihadapan jamaah Masjid Besar Al-Abrar mengatakan, “Tidak semua peserta ramadan tiba di garis finish” banyak diantara kita, menjelang akhir Ramadan berakhir di Mol “.ujarnya.

 

Dikatakan, manusia adalah  mahluk pertama yang diturunkan oleh Allah. Begitu mulianya manusia, sehingga Malaikat saja di suruh tunduk kepada manusia”.

 

Hanya saja, dalam perjalanan kita sering kehilangan kehormatan. “Diawali dari nenek moyang kita, Adam Alaissalam yang digoda Iblis laknatullah”

 

          “Dikatakan, Wahai Adam silakan masuk ke sorga dan nikmati apa yang ada di Sorga, kecuali satu, jangan dekati pohon quldi ini”

 

“Nenek moyang kita, digoda oleh iblis” dan memang itu permintaan iblis yang akan datang menggoda, dari depan, dari belakang, dari samping kanan dan samping kiri,” kecuali dua sisi yang tidak mampu di goda yaitu “ dari atas dan dari bawah”

 

“Akhirnya Adam terjatuh”, dari sudut pandang ini, seringkali mudah tergoda, Allah tahu itu, maka diturunkanlah  bulan suci ramadan, ungkap Nur hidayat.

 

“Seringkali yang difikirkan hanya aspek fisiknya, atau cara pandang yang esensial adalah pandangan rohani”.

 

Dengan menyetir Surat Al-Arab “Iblis berkata, masa saya harus tunduk pada Adam” bukan kah saya lebih mulia, karena saya di cipta dari api, sedangkan Adam dicipta dari tanah”

 

Dari dimensi fisik tidak perlu ada yang dibanggakan, makanya kalau kita meninggal dunia, kita dikembalikan ke tanah.

 

Dikatakan, “Rabb itu dari saya”  dengan demikian kita semua ini, berada dalam  dimensi Allah”, maka semestinya, prilaku ini, kita akan tunjukkan sifat sifat Allah, seperti yang terjabar dari Asmaul Husnah,” inilah yang ingin kita kembalikan kepada Allah Swt.

 

Sebegai ilustrasi “ Seorang tetangga yang ingin meminjam mobil tetangganya, mobil itu bersih, harum ruangannya dan bahan bakarnya penuh, lalu  dipinjamkanlah  mobil  itu kepada tetangga yang akan pulang.”

 

Karena kampungnya jauh, jalannya berlobang dan berlumpur. Di kampung mereka diberi ayam,  ada juga yang memberi ikan” tentunya mobil jadi berbau, apalagi belum diisi bahan bakar.

 

Kemudian mobil itu dikembalikan kepada sang pemilik. “Kira-kira apa komentar sang pemilik mobil”

 

“Begitulah gambaran RUH yang dipinjamkan Allah kepada kita”  Ruh itu bersih, tapi kenapa kita kembalikan dalam keadaan kotor” inilah yang harus kita jaga.

 

Jadi sebenarnya,  tradisi mudik atau pulang kampung adalah dimensi spiritual, makanya kalau kita kembali disebut “Innalillahi wa inna ilahi rajiun”  kembali ke asal usul manusia.

 

Kenapa kita mau pulang kampung ??? karena kita berhasil di kota, “Coba kita bayangkan, kalau kita sukses di kota, tapi berprofesi sebagai “Preman” atau jadi “Koruptor” pasti tidak mau kembali.

 

Kalau ada orang gembira, maka pasti akan kembali dengan riang gembira, “Dalam filsafat yang ditulis Ibnu Sina”  kita kembali dengan tersenyum, karena di akhir hayatnya ada kegembiraan, sehingga tersenyum diakhir hayatnya.

 

“Hal ini, dapat kita rasakan disaat berbuka puasa,” Karena di saat itulah terdapat kegembiraan spiritual dan kegembiraan berbuka puasa”.

 

“Adakah saat kita berbuka, bukan saja karena kekenyangan, tetapi ada dorongan spiritual yang kita jumpai”

 

Mengakhiri urainnya, Ustaz Nur Hidayat menghimbau untuk memanfaatkan di sisa akhir Ramadan untuk mendapatkan kemuliaan  bulan Ramadan dan tidak tergoda dengan diskon-diskon yang menggiurkan di Mol” katanya

 

          Demikian rangkuman tauziyah Ustaz Nur Hidayat M Said dihadapan jamaah Masjid Besar Al-Abrar, yang terbuang sayang terpublish ulang (salam syakhruddin)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *