Apa itu Palu Nomoni?

Nomoni artinya berbunyi. Palu Nomoni berarti Palu berbunyi. Berbunyi karena banyaknya orang yang meniup seruling, memukul genderang dan gong. Dan orang yang meniup pun bukan orang sembarangan.

Sebenarnya tradisi ini sudah lama hilang semenjak kedatangan Guru Tua Habib Idrus. Tetapi di tahun 2016 ritual ini dihidupkan kembali.

Bahkan festival yang di rencanakan berlangsung tanggal 28-30 September 2018 di sepanjang teluk Palu dan dipusatkan di Pantai Talise, Pemerintah mengeluarkan dana sebesar 40 milyar lebih untuk event ini.

Kegiatan inti dari festival ini adalah RITUAL BALIA. Pada hari Jumat tgl 28 September 2018 sebelum gempa dan tsunami, banyak warga yang menghadiri event ini untuk melihat RITUAL BALIA yang sudah lama hilang.

Sejarah Ritual Balia : Ritual balia biasanya dilakukan oleh masyarakat adat yang percaya api dapat mengusir penyakit. Ritual ini salah satu adat SUKU KAILI.

Tercatat ada sepuluh ritual yang harus dilakukan dalam prosesi balia yang terdiri atas ritual pompoura atau tala bala’a, ritual adat enje da’a, ritual tampilangi ulujadi, pompoura vunja, ritual manuru viata, ritual adat jinja, balia topoledo, vunja ntana, ritual tampilangi, dan nora binangga.

Berbagai ritual tersebut dapat memakan waktu hingga tujuh hari tujuh malam, tergantung tingkat keparahan penyakit yang ingin diobati.

Proses Ritual Balia : Prosesi dimulai dengan persiapan berbagai bahan upacara mulai dari dupa, keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban seperti ayam, kambing, atau kerbau tergantung kasta sang penyelenggara prosesi.

Ketika persiapan rampung, PAWANG yang harus dibawakan oleh laki-laki mulai menyebut jampi dan mantra. Ia menyebutkan berbagai mantra untuk memanggil arwah dan memberikan sejumlah sesajian berbeda pada tiap prosesi yang diletakkan dekat dupa.

Tarian khas balia juga harus terus dilakukan menemani orang sakit yang diusung hingga acara puncak, penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban tersebut adalah simbol harapan kesungguhan atas kesembuhan.

Ritual Balia ini diselenggarakan untuk mengharapkan perlindungan roh nenek moyang atau tempat yang dianggap keramat.

Ritual ini biasanya diselenggarakan ketika ditemukan warga atau masyarakat yang tak kunjung sembuh dari penyakit yang diderita atau penyakit karena gangguan kekuatan supranatural.

Kisah Pilu Salah Satu Warga Palu : Saya mewawancarai langsung korban Palu yang 5 hari setelah gempa di Palu, beliau meninggalkan kota Palu menuju Kota Makassar. Beliau menceritakan, semenjak ritual ini dihidupkan selalu saja ada hal aneh yang terjadi. Di tahun 2016 terjadi angin yang sangat kencang dan di tahun 2017 terjadi angin kencang dan hujan deras. Dan di tahun 2018 terjadi gempa,tsunami dan lumpur.

Beliau menceritakan sambil menangis, peristiwa ini tidak dapat beliau lupakan sepanjang hidupnya bagaimana tidak,  kiamat belum datang tapi kejadian pada tanggal 28 September 2018 di waktu maghrib serasa seperti kiamat telah terjadi. Suara gemuruh yang belum pernah beliau dengar seumur hidupnya. Di hari itu, suara gemuruh itu sangat sangat besar bagaikan benda besar jatuh dari langit menimpa Kota Palu.

Sungguh apa yang terjadi di Palu bukanlah sekedar peristiwa alam tapi Sang Pemilik Langit dan Bumi-lah yang memerintahkan alam ini.

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ

“Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi”. QS Al-Anbiya : 19

🌺Dan tidaklah Musibah itu turun kecuali disebabkan oleh tangan manusia.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS Ar-Rum : 41

Palu Nomoni adalah PESTA KESYIRIKAN  yang dibalut dengan nama budaya dan seni…

Kesyirikan yang terjadi pada ritual tersebut antara lain:  adanya binatang yang disembelih tidak sesuai dengan syariat islam lalu dijadikan sesajen untuk kemudian dibuang ke laut, pembacaan mantra-mantra, serta meminta perlindungan kepada selain Allah.

Bagaimana mungkin mereka meyakini ada yang dapat memberi kesembuhan selain Allah?? Dan meminta perlindungan kepada selain Allah???

Sungguh, kesyirikan adalah dosa yang paling besar, tidak ada lagi dosa diatasnya dan kesyirikan adalah kedzaliman yang besar.

   لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم

“janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS Luqman:13

Ritual Kesyirikan ini di hidupkan kembali tetapi meluluhlantakan Kota Palu dan menenggelamkan Balaroa dan Petobo serta mematikan jiwa 2.000 lebih (jumlah ini terus bertambah karena masih banyaknya korban yang belum ditemukan).

Serta Kerugian akibat musibah ini di perkirakan mencapai 10 Trilyun.

Inilah sedikit cerita tentang Palu NOMONI, seperti namanya yang berarti berbunyi seketika berubah menjadi berbunyi SUARA TANGISAN Masyarakat Palu….Allohul Musta’an.

Ali bin Abi Tholib Radhiyallohu ‘Anhu Berkata: “Tidak Ada Satupun Musibah Yang Terjadi Melainkan Sebabnya Adalah DOSA. Dan Musibah Tersebut Tidak Akan Diangkat Kecuali Dengan TAUBAT….”

Makassar, 10 Oktober 2018.

Dikutip dari : SumberArtikel Hidayatullah dan CNNIndonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>