Peristiwa penyembelihan binatang ternak, merupakan refleksi dari ketulusan dan keyakinan Nabi Ibrahim AS, yang dengan penuh kesadaran  keikhlasan dan keyakinan yang tiada bandingannya, mampu dipertontonkan kepada kita sebagai umat yang hadir di mayapada ini.

Pada zamannya, Ibrahim merupakan Nabi yang paling banyak berkorban, suatu ketika, beliau memotong kambing 10, tahun berikutnya 50 ekor sapi dan selanjutnya berkurban 100 onta, sehingga malaikat saja, kagum melihatnya.

Kemampuannya dalam berkurban, membuat sahabatnya bertanya, “Wahai Ibrahim, kenapa begitu banyak engkau berkurban, sampai seratus ekor onta ???

Jawab Ibrahim, “Jangankan Onta, anakpun akan saya korbankan demi kecintaanku kepada Ilahi Rabbi. Akan  tetapi saat itu, Ibrahim yang sudah mulai menua belum dikarunia anak.

Akan tetapi dengan kebesaraan Allah, Ibrahim di karunia seorang anak lelaki bernama Ismail. Kehadiran Ismail membuat perhatian Ibrahim terbagi, antara Anak dan Allah. Kemudian Allah Swt. menguji Ibrahim akan kecintaannya.

Di masa anak sedang menuju dewasa, tiba-tiba Ibrahim bermimpi tetap pada tgl 8 Dzulhijjah, dalam mimpi Ibrahim disuruh  menyembelih putra kesayangannya  Ismail, AS.

“Dalam hatinya ia bertanya, “Apakah ini mimpi atau godaan setan” Itulah sebabnya pada tanggal 8 Dzuljjah disebut bulan ragu-ragu.

Keesokan harinya, 9 Dzulhijjah bermimpi lagi di Padang Arafah, “Disini Ibrahim makin yakin,  kalau hal  ini adalah perintah dari Allah.”

Ibrahim lalu bertanya kepada anaknya Ismail,” Ya bunayya, aku diperintahkan untuk menyembelihmu,” dan jawaban Ismail, ” Lakukan Abi apa yang menjadi takwil mimpimu,  saya siap untuk menjalaninya.”

Dalam perjalanan ke lokasi penyembelihan, setan menggoda isteri Ibrahim, dan ia lalu melempari setan, dan itulah wujud  pelemparan dari “Pelontaran Ula”

Karena tak berhasil, setanpun menggoda anaknya Ismail, namun yang digoda tak bergeming,” Ismail melempar setan” dan lemparan itu sebagai perwujudan dari “Pelontaran Usta”  dan yang terakhir di goda adalah Ibrahim.

Wahai Ibrahim, itu adalah anakmu satu-satunya, mengapa engkau tega mau menyembelih darah dagingmu ???, Ibrahim lalu mengambil batu dan melempari setan, ” itulah perwujudan dari lemparan “Aqabah”

Di hari ke 10 Dhulhijjah, tiba di Mina dan mempersiapkan penyembelihan putra kesayangannya, Ismail AS. Salah satu permintaan Ismail.

 “Wahai Abi, tajamkanlah parang yang akan digunakan, sehingga proses penyembelihan berjalan lancar dan tutupnya mataku dan matamu “Abi” agar tidak melihatku darahku mengalir.

Alhamdulillah, dengan kebesaran Allah, “Ibrahim menunjukkan kecintaannya kepada Allah dari pada putranya,” Ibrahim menidurkan anaknya, lalu berdoa dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.”

Disaat akan menarik parang tajamnya, secepat kilat malaikat menggantinya dengan sekor kibas, dan itulah wujud dari “Pemotongan Napsu kebinatangan”

Maka marilah kita semua, menjadi Ibrahim-Ibrahim dan menjadi Ismail-Ismail, yang rela untuk disembelih dan menjadi Ibrahim yang mampu membuktikan ucapannya, “Inna sholati wanusuku, wamahyaya, wamamati, walillahi rabbal alamien”.

Ibrahim mampu dan sanggup memotong kecintaanya kepada dunia bahkan kepada anaknya sekalipun, demi keimanannya kepada Allah Swt.

Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya kita senantiasa ‘Siap menyembelih napsu kebinatangan” keangkuhan dan kesombongan sebagai seorang hamba.

Menjadi ismail-Ismail yang ikhlas menerima ketentuan Allah dan menjalaninya dengan penuh ketulusan.

Demikian uraian tentang hakekat Idul Qurban yang disampaikan sang Ustaz di hari Jumat (1/9) di Mesjid Besar Al-Abrar Gunungsari Baru Makassar yang ditulis ulang dengan gaya bertutur (syakhruddin.dn)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>