Sebanyak 35 Mahasiswa dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Konsentrasi Kesejahteraan Sosial (PMI/Kessos).

 

 

Kamis (9/8) melaksanakan kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) di Pulau Bali dan Lombok selama lima hari dan berakhir  pada hari Senin   (14/8).

Selain Mahasiswa PMI/Kessos terdapat pula pembimbing, praktisi sosial dan keluarga dosen yang berjumlah 18 orang, sehingga total anggota rombongan 53 orang, ditambah  satu orang tour leader an. Andi Iccank  dari Travel Cakrawala Timur Makassar.

Sesuai kesepahaman dengan anggota rombongan, maka pukul 02.00 dinihari, Rabu (9/8) sudah harus berada di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Mandai di Maros.

Pada  jam yang telah ditentukan, kami semua bergerak menuju Bandara, ada yang tepat waktu dan ada pula yang terlambat tiba, diantaranya Ayu Andira dan Nurhaerika serta Muhammad Dinul Akhsan Syah, ini penilaian pertama tentang penggunaan waktu dan kesepahaman sebagai modal untuk sebuah tim dalam jumlah besar.

Sebuah rombongan besar akan ditentukan oleh orang terakhir yang tiba di tempat yang telah ditentukan.

Setelah di telepon berkali-kali, barulah mereka panik dan menyebutkan  posisinya, “ Saya masih berada di kawasan Sudiang Pak ”, sementara anggota kelompok lainnya yang tepat waktu kehadirannya, sudah mulai mempersiapkan diri untuk bording.

Sejurus kemudian, ketiganya datang dengan tergesa-gesa dan kami segera memasuki ruang pemeriksaan barang.

Kami berbaris rapi menuju  tempat pemeriksaan, Sdr. Asbaruddin yang merencanakan untuk tinggal selama beberapa hari di Lombok bersama empat rekan lainnya seperti Rafi Zulfadhli, Asbaruddin Rahman, Al- Fatur Maulana Risa dan Ricky Febi Setyawan.

Dalam tas Sdr. Asbaruddin Rahman, terlihat empat tabung gas kosong yang rencananya akan di isi gas di Pulau Lombok untuk digunakan mendaki Gunung Rinjani.

Namun karena alasan keselamatan bersama, pihak petugas bandara menyita ke empat tabung tersebut dan menyimpannya di tempat penyitaan barang penumpang.

Sementara alasan yang dikemukakan Sdr. Asbaruddin mengatakan “Ini kan  hanya tabung kosong dan akan diisi nanti, sebelum mendaki di Pulau Lombok” Namun pihak petugas Bandara, tetap menyita dengan alasan keselamatan penerbangan.

Pada sisi lainnya, pihak Travel Cakrawala Timur bersibuk-sibuk karena ada beberapa orang yang belum ada tiketnya. Hal ini disebabkan karena pihak jurusan sering menambah-nambah anggota rombongan bahkan ada beberapa orang yang tiketnya harus diatur ulang, karena tinggal di Lombok atas permintaan sendiri.

Selain itu, ada yang harus pulang duluan, kesemuanya itu membutuhkan koordinasi antara pihak penerbangan, travel dan peserta yang akan berangkat.

Kesulitan tehnis dapat diatas, dengan pola tiga penerbangan berbeda, sebahagian anggota rombongan menggunakan pesawat lain.

Sehingga harus beralih dari Lion ke pesawat Garuda, yaitu Nuryadi Kadir, Rusli, Irvan (Ketua HMJ) yang dipercayakan membawa spanduk kecil untuk dipasang di mobil rombongan.

Hanya saja “ Spanduk, Dia lupa di Bandara” dan ini merupakan kepanikan awal, yang sesungguhnya tidak perlu terjadi, bilamana memahami hakekat sebuah perjalanan tim, yaitu koordinasi antar anggota dan saling mengingatkan satu sama lain.

Sementara itu, kelompok yang tergabung dalam kelompok kecil bergeser ke pukul 09.00 pagi, didalamnya tergabung Suharyadi, Rafi Zulfadhli, Ardianto dan Irawati Basri.

Mereka  menyusul dengan pesawat lain dan nanti bergabung saat berada di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Wana Seraya di Kota Denpasar.

 

Mendarat di Bali : Pukul 08.05 Waktu Denpasar, rombongan besar yang menggunakan pesawat Lion JT 9270 mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali.

Dalam penerbangan dari Makassar ke Denpasar, Penulis duduk berdampingan dengan Syahrul Amin, yang menurut penuturannya, merupakan penerbangan pertama kali dan ini merupakan pengalaman baru naik pesawat.

Bahkan untuk kepentingan pemberangkatannya, yang bersangkutan  diantar oleh kedua orang tua dan sanak family,  menggunakan dua buah mobil Kijang dari Batu Menteng Gowa menuju Bandara Sultan Hasanuddin Mandai di Maros.

Syahrul sangat bahagia dan sumringah saat pesawat mendarat dengan selamat, bahkan sempat berfoto selfie diatas pesawat yang merupakan pengalaman pertamanya, sejak kuliah di Kampus Bermartabat Samata Gowa.

Menuju Dinas Sosial Provinsi Bali di Denpasar : Sebuah Bus Pariwisata dengan kapasitas 50 orang yang di awaki Mas Budi, mengantar anggota rombongan dari Bandara Ngurah Rai menuju Kantor Dinas Sosial Provinsi Bali di Kota Denpasar.

Tiba di Instansi Sosial, kami mendapatkan rahmat, karena Wakil Gubernur Bali Bapak Ketut Sudikerta yang sedang melakukan kunjungan mendadak (sidak) ke Kantor Dinsos Bali yang terletak di Jalan Kapten Cok Agung Tresna No. 2 Denpasar Bali.

Saat keluar dari aula pertemuan di Lantai II, kami disalami satu persatu, selanjutnya Wagub meninggalkan Dinas Sosial dengan menggunakan sedan hitam dengan plat mobil DK 2. yang sebelumnya sempat foto rombongan bersama dengan beliau.

Di Dinsos Bali para anggota di bagi dalam tiga kelompok, masing-masing, kelompok pertama nomor urut 1 s/d 12, kelompok kedua nomor 13 s/d 22 dan kelompok ketiga dibagi dari nomor urut 23 s/d 35.

Yang pasti nomor urut terakhir adalah Elma Sulistia dan merupakan maskotnya perjalanan Bali – Lombok dan diakhir perjalanan menggunakan Levis robek, sehingga harus menggunakan sarung menuju pesawat.

Usai pelaksanaan peninjauan lapangan, rombongan bergerak menuju Kawasan Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar yang letaknya kurang lebih lima kilometer dari Dinsos Provinsi Bali.

Disana kami disambut para penghuni panti yang usianya tentu sudah dapat diterka, rata-rata diatas 70 tahun.

Rasanya ada sesuatu yang hilang di panti ini, tidak sama dengan penyambutan tahun lalu yang menggunakan gamelan, ternyata Lansia yang mampu memainkan gamelan telah tutup usia.

Kehadiran kami tanpa hiburan gamelan, namun bukan berarti tidak meriah. Karena para pembimbing, mampu membangkitkan suasana meriah bercampur haru.

Takkala seorang Lansia yang berada di atas kursi roda, namanya lupa dicatat, melantunkan lagu dangdut  dilanjutkan dengan “Goyang Dombrek

Pada kesempatan itu, pembimbing menggunakan topinya untuk mengumpulkan Susutante (Sumbangan sukarela tanpa tekanan) dan hasilnya diserahkan kepada Lansia yang menyanyi, dengan ketentuan hasil sumbangan ini akan  dibagikan pula kepada  Lansia lainnya.

Usai acara di PSTW, anggota rombongan sudah bisa berganti dengan busana santai terlebih  kondisi cuaca terik yang menerpa Kota Denpasar.

Akan tetapi  bukan menjadi tantangan, karena mobil Pariwisata “Poerwodadi” dengan pemandu “ I Ketut Susila “ selalu membangkitkan suasana meriah dalam  perjalanan, serta membuat ceritera-ceritera lucu, sedih hingga ceritera berbau porno.

Rombongan lalu diarahkan  menuju “Toko Kresna” untuk berbelanja pada pada sesi pertama, di pintu masuk anggota rombongan diberi label pada bagian lengan atau dada bagian atas, jumlah rombongan dan besar belanjaan akan berpengaruh terhadap penghasilan Pak Ketut, karena ia akan memperoleh tips dari toko.

Menurut Ketut,  demikian biasa di sapa, Kresna ini adalah salah satu bagian dari ekonomi kapitalis, karena dalam sebulan pemasukan dari para PSG harus mencapai target.

Jika tidak mampu berproduksi dan mencapai target yang ditetapkan, maka sang PSG akan dikeluarkan dari pekerjaan sebagai pelayan toko. Karena itu, berbelanjalah agar dia tak dipecat, tuturnya disambut senyum dikulum.

Ada yang memilih kaos Bali, daster untuk ibunya dan ada pula membeli ole-ole untuk temannya di Kampus II Samata. Tentu saja mereka yang memiliki sahabat dekat tak lupa membeli ole-ole termasuk gantungan kunci.

Ada juga yang melakukan foto selfie dengan menggunakan busana Bali dan membayar Rp 20 ribu per lembar, termasuk kesempatan ini digunakan oleh Keluarga Pak Thamrin.

Krisna merupakan lokasi perbelanjaan yang pertama di Bali dan akan menyusul lokasi lainnya yang sudah disiapkan oleh I Ketut Susila, setiap kali mampir di tempat perbelanjaan, pemandu tentu mendapat tips dari sang pemilik toko, termasuk layanan khusus untuk makan  bersama para kru Bus.

Di pusat berbelanjaan Kresna, Doktor IAN yang mengincar cincin berharga dua juta rupiah dari bahan perak, akan tetapi tidak jadi beli, karena cincinnya yang di beli di Thailand jauh lebih bagus karena bertuliskan “Allah” dan itu dipertotonkan kepada anggota rombongan, “ Ini jauh lebih menarik kan ???, katanya.

Demikian halnya dengan  T-shirt yang digunakan, ini saya  beli di Tokyo katanya berpromosi, Karena itu,  tahun depan kita perlu melakukan PPL di Bangkok, “ ujarnya berpromosi seraya di sambut tepuk tangan meriah.

Rombongan Menuju KUTA : Karena mobil bus yang digunakan tidak bisa masuk kawasan KUTA, maka kami disiapkan mobil taksi yang isinya tiap bus sebanyak 18 orang.

Taksi Bali adalah mobil Hi-Ace yang di cet biru dan memuat 18 penumpang.

Di pinggiran Pantai Kuta, masing anggota rombongan sibuk berfoto selfie, ada yang mengintip nuansa romantis dari para bule yang sedang bermandi di tanah berpasir.

Sebagian lainnya  menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat dan khusus kelompok praktisi, menggunakan kesempatan untuk ngopi bareng di lokasi pantai sambil menikmati suasana di rembang petang.

Menuju Jimbaran : Setelah bersantap malam di Kresna, rombongan bergerak menuju Hotel di Jimbaran yang letaknya di luar Kota Denpasar.

Disini para peserta menginap dan istirahat semalam untuk mempersiapkan perjalanan keesokan harinya,  sebagian anggota rombongan  memanfaatkan kesempatan  untuk jalan-jalan di seputar Jimbaran.

Hari Kedua di Kota Seribu Pura : Memasuki hari kedua pelaksanaan PPL, peserta menggunakan pakaian santai dan  merupakan wahana belanja dan rekreasi.

Rombongan diantar oleh I Ketut Susila, pemandu yang sangat cerdas dalam menggiring rombongan, karena beliau merupakan alumnus dari sebuah universitas terkemuka di Bali dan memilih jurusan sastera mesin, ujarnya dan itulah ceritera bohong di siang hari, katanya sambil tertawa.

Anggota Rombongan berbelanja di Joger :  Dalam perjalanan menuju Bedugul untuk melaksanakan sholat Jumat, lama perjalanan ke destinasi ini, ditempuh sekitar tiga setengah jam.

Pemandu I Ketut, kembali mengeluarkan jurus-jurus mautnya membuat kami tak jadi tidur di mobil,  dan semua pembahasannya terekam  dalam otak, khususnya peserta an. Elma Sulistia.

Setelah tiba di Joger kami bertemu dengan enam bus dari rombongan lainnya yang berasal dari Pulau Jawa.  Dalam Joger terdapat tulisan “ belanja atau tidak belanja, tetap thank you

Ada pula tulisan, “Disini tempat pembuangan sisa-sisa amunisi yang tak terpakai alias WC” dan joger merupakan pusat kata-kata di Pulau Bali.

Puas berbelanja, perjalanan dilanjutkan menuju “Bedugul” I ketut mengetahui pasti kondisi rombongannya yang rata-rata mahasiswa.

Maka saat melewati sebuah bangunan yang sudah 20 tahun belum tuntas, dia menghubungkan dengan ceritera tentang hantu, leak yang ada di Pulau Bali, sehingga di sebuah bangunan tua yng terletak di pinggir jalan, dijadikan sebagai obyek “rumahnya para hantu di Bali  atau rumah angker”

Di akhir pembicaraannya selalu di tambah, itulah ceritera bohong di siang hari ini, katanya yang disambut dengan kalimat, hu hu huuuuuu.

Saat jalan berkelok – kelok pada posisi pendakian menuju Bedugul, I Ketut Susila, mengajak anggota rombongan untuk melirik ke kanan, dan menyaksikan bangunan “Rumah Angker atau rumah hantu “ berada di posisi kanan.

Saat bus berbelok ke kekiri mengitari gunung, rumah itu dapat dilihat dari berlawanann, artinya terlihat dari arah kiri” Nah, itulah rumah hantu karena sering berpindah-pindah tempat, tutur Ketut yang tawa anggota rombongan.

Pukul 12.00 Wita tiba di Bedugul, lalu melaksanakan “Sholat Jumat berjamaah” di Mesjid Al-Hidayah Bedugul. Suasana yang adem membuat jamaah terasa khusyu melaksanakan ibadah. Apalagi dari teras mesjid, anggota rombongan dapat menyaksikan kawasan Bedugul dari segala arah.

Sementara itu, anggota rombongan yang perempuan  sudah lebih memasuki “Pura Besakih” yang letaknya lima puluh meter ke bagian utara.

Disana mereka menyaksikan pemandangan alam di atas ketinggian serta berfoto dengan turis-turis yang juga datang ke lokasi wisata ini.

Pukul 02.00 siang, kami kembali dari lokasi dan singgah santap siang di salah satu rumah makan. Usai santap siang, sholat dhuhur dan ashar yang dijamak, khususnya kaum perempuan karena yang laki-laki sudah sholat Jumat tadi di Bedugul.

Disini suasananya mulai terlihat kabut, sehingga hampir sama dengan kondisi di Kota Bogor, setelah semuanya selesai lalu berfoto dengan menggunakan spanduk Tagana Kompi UIN dengan latar belakang   embun yang sangat tebal.

Perjalanan dilanjutkan menuju Tanah Lot : Anggota rombongan satu persatu mulai tertidur dalam bus, untuk mensiati kondisi dan semangat tim diadakan “Kuis Berhadiah” atau bersenandung dengan lagu-lagu pilihan anggota rombongan.

Macam-macam pertanyaan yang dikeluarkan, mulai dari Pak Wadek Satu, Doktor Ian hingga suami Ibu Aisyah Bapak Thamrim, S.Ag yang kami nobatkan sebagai penyandang dana “Thamrin Coorprotion”. Setiap pertanyaan yang dijawab disiapkan hadiah langsung.

Di Tanah Lot, kami menikmati suasana pemandangan alam, berfoto selfie dan sebagian anggota rombongan menuju “Ke Pura yang terdapat ular belang” sehingga Pulau Bali di kenal dengan Negeri seribu Pura dan Lombok mendapat julukan Kota dengan Seribu Mesjid.

Menurut Ketut, di Bali apa saja di sembah, karena  terikat oleh adat, Ole sebab itu di Bali  antara “Tradisi – Budaya dan Agama”  menyatu dan itulah hebatnya Bali.

Menjelang petang, rombongan meninggalkan Tanah Lot menuju Pelabuhan penyeberangan ferry di Padang Bae.

Dalam perjalanan ke Padang Bae, singgah sejenak bersantap malam, sekaligus melaksanakan sholat magrib dan isya dengan cara menjamak sholat. Disini kami berpisah dengan keluarga Pak Thamrin, karena akan pulang lebih awal menuju Makassar.

Pelabuhan Ferry Padang Bae : Disini kami berpisah dengan Bus Poerwadadi dan I Ketut Susila, pemandu yang menjadi idola dari anaknya Pak Misbahuddin.

Bus Poewadadi tidak ikut menyeberang, berbeda dengan tahun lalu  dan kami melanjutkan perjalanan melalui ferry dengan lama perjalanan lima sampai enam jam.

Masing-masing peserta membawa sendiri barang-barangnya, menarik tas kopernya sampai tiba di atas ferry.

Ada dua rekan yang mengalami kondisi yang kurang sehat, alias “kemasukan roh jahat” mungkin karena capek dan kelelahan dalam perjalanan.

Adalah Ita Ariana dan Sry Astuty yang pandangan matanya seperti “kosong” dan Ita yang siap-siap menari ular seperti waktu di Datara, namun cepat diberikan ”Air penawar” yang sudah dibawa dari rumahnya di Samata.

Sementara Sry Astuty di urus oleh teman-teman cewe lainnya, demikian halnya dengan Tuty yang sakit uluhatinya, mungkin karena pengaruh masuk angin.

Setelah disewakan kasur dari pihak “ABK (Anak Buah Kapal) akhirnya bisa tidur nyenyak hingga ferry merapat ke dermaga. Justeru Penulis yang tidak bisa terlelap.

Para praktisi bertugas mengawasi anggota rombongan  yang tidurnya dengan berbagai gaya.  Ada tiga buah kamar yang disewa, masing-masing untuk pimpinan rombongan dan keluarganya, kelompoknya Elma dan Kelompok Rahma, semuanya tertidur pulas dalam kamar.

Menjelang pukul 02.00 dinihari, ombak mulai mengganas dan membuat kapal ferry bergoyang dangdut. Bagi yang tertidur pulas tidak merasakan, tapi kami yang masih melek menikmati goyangan selama satu jam.

Sejurus kemudian, kapal ferry kembali dalam kondisi tenang mengarungi laut menuju Pelabuhan Ferry di Lembar  di Lombok Tengah.

Penulis bersama Adhy Casanova dan Mirwan Rauf, memilih lokasi istirahat di ruang Mushallah Kapal sehingga dapat menyaksikan siapa anggota rombongan yang menjalankan sholat subuh.

Alhamdulillah, rombongan tiba di Pelabuhan Ferry di Lembar disambut oleh Mas Teguh dan Driver Fajar bersama keneknya.

Kami diminta untuk melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu sebelum melanjutnya perjalanan dan ada tujuh orang anggota rombongan laki-laki tidak menunaikan sholat subuh dengan alasan kotor pakaiannya atau mungkin karena malas.

Pemandu Teguh mengantar kami ke City Hotel di jantung Kota Mataram.  Sebelum masuk kamar, anggota rombongan di kelompokkan dengan pola “satu kamar untuk tiga orang.

Sebelum masuk kamar, menikmati terlebih dahulu sarapan pagi berupa nasi goreng – kopi dan buah-buah. Mungkin karena terasa lapar dari kapal, akhirnya Penulis yang dibagian belakang tidak mendapat makanan dan pihak hotel meminta maaf untuk menunggu lima belas menit karena nasinya belum masak, ujarnya.

Setelah sarapan, masuk kamar dan siap-siap untuk menuju ke Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebelumnya diajak dahulu ke tempat penjualan ole-ole permata, lalu ke Dinsos.

Mengingat kondisi saat itu bertepatan dengan hari Sabtu 12 Agustus 2017 tidak ada pegawai berkantor maka disepakaati untuk diterima oleh Koordinator Tagana dan jajarannya.

Usai acara yang berlangsung meriah di Aula Dinsos Mataram dilanjutkan menuju ke Islamic Center Mataram dan santap siang bersama di slaah satu tempat makan yang menunya “Kangkung Plejin” yang beraroma pedas.

Para pedagang kaki lima juga tak ketinggalan memasarkan dagangannya dan sebagian anggota berbelanja dengan senang hati.

Perjalanan berikutnya menuju ke lokasi Malimbu untuk berfoto dengan latar belakang tiga gili  (pulau). Sebelum sampai ke tempat tujuan, mampir sejenak berbelanja di Pusat Ole-ole Lombok dan menikmati secangkir Kopi Lombok.

Begitu tiba di Malimbu, lokasi pemotretan dengan latar belakang tiga gili (pulau), sembari menggelar spanduk yang dipertanggungjawabkan oleh Dewy. Puas berfoto-foto kami kembali ke hotel, sayang sekali spanduk perjalanan tertinggal dan tak ada yang memperhatikannya.

Dewy dan rekannya telah melalaikan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya, sama nasibnya dengan Ketua HMJ yang meninggalkan spanduk di Bandara Hasanuddin di Makassar.

Apalagi saat itu, dari pemandu kami di Lombok mengeluarkan aroma yang tak sedap dan busana yang digunakan, sehingga beberapa anggota rombongan bergeser ke belakang dan digantikan oleh Elma Sulitia ke depan.

Kami kembali ke hotel, dengan perasaan puas, dan tiba di City Hotel menjelang senja. Setelah santap malam, para peserta dapat memanfaatkan suasana malam minggu di Kota Mataram, sementara Penulis memilih untuk tidur lelap.

Semula kami bermaksud tidur di Kamar 211 akan tetapi kamar tersebut mengalami kerusakan sehingga dipindah ke Kamar 217.  Dan selanjutnya tidur dengan nyenyak hingga subuh hari.

Pagi hari Minggu 13/8 anggota rombongan berkunjung ke Nermada, sebelum meninggalkan hotel, ruangan diperiksa dan ternyata ada lima kamar yang minum cocacola yang ada di lemari hotel, sehingga harus bayar sebelum tinggalkan hotel.

Lokasi pertama yang menjadi tujuan Destinasi wisata, disini para peserta diajak untuk turun ke lokasi air suci. Karena kami terlalu cepat datang, maka dapat dispensasi dulu masuk tanpa karcis, dan di pandu oleh Pak Made yang beragama Islam.

Di Nermada, selain menikmati air suci, peserta diajak keliling kawasan, berfose di tempat mandi para bidadari, lalu bergeser ke tempat peluncuran (flaying fox)

Disini peserta yang ingin meluncur termasuk Pimpinan rombongan, Dr Misbahuddin bersama dua orang anaknya, menikmati flying fox dengan penuh percaya diri.

Kegiatan berikutnya para anggota rombongan berfose dengan menggunakan spanduk dari pihak Travel Cakrwala Timur, lalu berbelanja pada saat jalan keluar.

Selanjutnya para peserta menuju ke Kuta-Mandalika kemudian ke Tanjung Aan dan meninggalkan Kota Mataram menuju Pelabuhan Lembar untuk selanjutnya merapat di dermaga  Pelabuhan Padang Bae di Bali.

Ada sebuah catatan kecil tentang pengambilan gambar di Tanjung Aan, “Anak-anak disana mampu menggunakan HP untuk penambilan gambar dengan berbagai latar belakang” dengan biaya sesuai dengan “Keikhlasan” disinilah kami mendapat pengalaman baru tentang cara pengabilan gambar, terima kasih ya adik-adik di Tanjung Aan.

Setelah melayari lautan bebas, akhirnya tiba dengan selamat pada Pukul 03.00 dinihari dan dijemput oleh Bus Poerwadadi yang dikemudikan oleh Pak Budi, dan langsung masuk ke penginapan Dahlia di Bali.

Dengan tidur sekitar dua jam, selanjutnya rombongan harus siap  menuju Bandara Ngurah Rai di Denpasar`

Mengingat penerbangan senja hari  maka sisa waktu yang ada, digunakan untuk berbelanja di Pasar Seni Sukowati.

Kemudian menuju ke  Pantai Pandawa dan menyaksikan para turis berjemur di pantai Pendawa yang oleh Pak Ketut menyebutnya  dengan “SUMUR” alias susu di jemur, ada juga dengan SUSNO AJI dan ada satu lagi ……………………… (lupa akronimnya)

Setelah seluruh rangkaian kegiatan para anggota rombongan menuju Bandara Ngurah Rai di Denpasar, claim bagasi yang lancar, peserta menuju ruang tunggu di gate 6 sembari bersantai dan berfoto selfie sambil menanti penerbangan ke Makassar pada pukul 19.40 menuju Makassar.

Setelah melalui penerbangan selama satu jam akhirnya tiba dengan selamat di  Bandara Internasional  Sultan Hasanuddin Makassar dan claim bagasi para peserta kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia.

Banyak kenangan yang diperoleh, ada pengalaman baru dan semua itu akan memperkaya khazanah pengetahuan untuk kelak menjadi seorang Pekerja Sosial yang handal, salamaki (Syakhruddin   HP 081 2424 5938).  

 

Dari Penulis :

Catatan ini pastinya belum sempurna, mungkin ada masukan dan tambahan dari Anda, kirim ke email : syakhruddin@gmail.com

PENGALAMAN UNTUK TAHUN DEPAN :

 

  1. Perhatian untuk pemandu yang berbau Sakkulu Madendang karena merusak suasana di bus

  2. Makan/minum utamakan dosen atau praktisi

  3. Jangan minum dan makan yang disediakan di dalam kamar hotel, karena harganya dua kali lipat,

  4. Jangan pakai levis robek-robek karena kesannya seperti pemakai Narkoba (Wany di Singapura dan Elma di Bandara Ngurah Rai)

  5. Petugas spanduk harus dua orang

  6. Obat-obatan pribadi agar disiapkan, terutama yang ada penyakit bawaan

  7. Buat pita yang mudah mengenal barang rombongan

  8. Buat label nama yang di laminating untuk dipasang di koper

  9. Perkuat catatan dan rekaman Anda

  10. Bila melalui Lombok – Bali diupayakan terbang pulang dari Lombok ke Makassar saja untuk mengurangi tenaga yang terkuras.

  11. Membeli paket rombongan harus tegas, jangan ada keluar masuk, jadi atau tidak jadi sehingga menyulitkan pihak Travel

  12. Dalam Negeri bisa membawa HT tapi lepas batereinya saat naik pesawat kalau luar negeri tidak usah bawa karena diperiksa Imigrasi

  13. Membawa strika kecil untuk perjalanan panjang

  14. Kantong kresek untuk pakaian kotor

  15. Kamera yang terbaik dibawa serta

  16. Kalau kunjungan ke Instansi Pemerintah jangan di hari libur

  17. Siapkan pertanyaan atau quiz yang relevan dengan mata kuliah

  18. Kuasai informasi dan publikasi segera kegiatan anda

  19. Siapkan air minum di mobil / bus

  20. Gunakan kaos seragam (HMJ-Tagana dan Travel)

  21. Saat melakukan flaying fox sebaiknya bawa bendera

  22. Tuliskan bila ada usulan anda ……….. salamaki

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>