Merubah sesuatu itu memerlukan perjuangan, sebagaimana merubah sikap seorang, dari mentalitas pejabat yang baru saja pensiun menjadi warga biasa, maka memerlukan waktu untuk bisa bersosialisasi dengan kondisi baru.

Dahulu saat menjabat, tas saja dibawakan staf, baru turun dari mobil semua orang siap dan memberikan hormat, apakah hormat itu tulus atau terpaksa atau karena ada udang dibalik batu, wallahualam.

Dengan menghormat bos bisa mendapatkan lembaran sudirman, ini terkait dengan sekuriti dan petugas satpam yang berada di garda terdepan.

Sekarang kondisi itu berubah seratus delapan puluh derajat, semua harus diurus sendiri dan tak ada lagi yang membawakan tas apalagi orang hormat, karena jabatan sudah tidak ada dan tanda tangan tak berguna lagi.

Mereka yang mampu menerima kenyataan bisa langsung bersosialisasi dengan warga setempat, ada yang aktif jadi pengurus mesjid atau ketua ORT atau organisasi sosial apa saja yang penting selalu terlihat sibuk, mereka yang tidak siap, bisa dilanda penyakit “power syndrome”

Akan halnya kebersihan di Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar sudah berusaha untuk membersihkan kota dengan berbagai upaya, salah satunya ada dengan program LISA (Lihat Sampah Ambil) yang belakangan kadang dipelesetkan (Lihat Janda Ambil).

Petugas kebersihan yang sudah melaksanakan tugas sejak pukul 04.00 dinihari bahkan lebih cepat dari jamaah mesjid yang akan melaksanakan sholat subuh,

Harapan para penyapu jalan ini, pada pukul 06.00 sudah tidak ada lagi yang buang sampah terutama mereka yang bermukim  di jalur utama.

Faktanya, sebahagian warga masih  membuang sampah pada pukul 06.00 pagi, akibatnya petugas sampah, khususnya yang menggunakan  motor viar harus kembali bekerja untuk kedua kalinya.

Inilah kondisi yang masih sulit  merubah kebiasan terlebih lagi mereka yang seenaknya membuang botol aqua di sembarang tempat yang membuat kondisi kota menjadi kotor karena botolnya berserakan dimana-mana.

Pendek kata, merubah karakter warga untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, masih membutuhkan perjuangan. Demikian halnya dengan warga yang bermukim di lorong-lorong dalam kota.

Sekaluipun lorong itu sudah dibersihkan, masih saja ada orang atau oknum melemparkan sampah seenaknya, diperlukan satu generasi untuk pendidikan disiplin agar mampu tertib dan hidup sebagai insan yang bersih dan beradab.

Penulis

H.Syakhruddin.DN HP 081 2424 5938

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>