MEMBAGI HARTA PENINGGALAN

Dunia itu menyilaukan, dimasa kita masih memiliki tenaga yang kuat, kemampuan yang handal dan keterampilan yang memadai. Maka kita mengumpulkan begitu banyak harta benda untuk anak keturunan.

Akan tetapi dalam upaya dan proses pengumpulan harta benda, berbagai jalan yang ditempuh. Ada yang meraihnya melalui dengan tetesan keringat, namun hasilnya sungguh sangat luar biasa.

Sebagaimana di Bojonegoro, seorang tukang becak, yang menyekolahkan putrinya, sehingga berhasil meraih gelar sarjana, dan mengantar anaknya pergi wisuda dengan menggunakan becak yang di kayuh oleh ayahnya.

Rektor yang menyaksikan kisah nyata itu menjadi terharu. Dampaknya, Bupati Bojonegoro meminta orang tuanya untuk menjadi penjaga kebun miliknya, sementara anaknya melanjutkan pendidikan S II di luar negeri atas biaya Presiden Republik Indonesia, yang kala itu masih dijabat Susilo Bambang Yudhoyono.

Ada pula yang menghimpun harta dengan cara-cara yang kurang terpuji, mengambil hak orang lain, korupsi bahkan ada juga yang menipu sesama insan demi untuk meraih kejayaan harta benda.

Namun akhir dari perjalanan manusia sungguh menyedihkan, ada yang anak-anaknya hidup tidak karuan, ada pula yang harus berhadapan di meja hijau untuk memperebutkan harta peninggalan  orang tuanya, bahkan lebih ironis lagi ada yang berakhir dengan pertumpahan darah.

Karena itu, ada pesan bijak dari Sahabat Penulis, yang bermukim di Kalimantan TImur mengatakan; raihlah harta benda dengan hasil keringatmu sendiri dan jangan lupa berkorban atau bersedekah bagi sesama, karena dunia itu sungguh sangat menyilaukan mata.

Lain hal dengan harta peninggalan orang tua, ketika ayah bundanya telah berpulang kerakhmatullah, maka saudara-saudaranya memberikan kesempatan kepada kakak tertua untuk membagi harta dengan baik. Semua itu diterima dengn ikhlas dan lapang dada. Inilah harapan dari para orang tua yang telah mendidik anak-anaknya untuk tidak rakus terhadap harta benda peninggalan orang tua.

Pada sisi lain, ada seorang tetangga Penulis yang kelihatan hidupnya biasa-biasa saja, namun anak-anaknya berhasil mencapai tingkat pendidikan tertinggi dan semua bersaudara lima orang memiliki gelar sarjana, padahal hidupnya adalah seorang pegawai negeri golongan rendah, namun dalam melaksanakan pengabdiannya kepada negara, begitu tekun dan menjadi pengurus masjid baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan masyarakat dimana mereka bertempat tinggal.

Selamat menikmati harta peninggalan orang tua bagi mereka yang berhasil membagi dengan baik, sementara yang saling berebut dan menuntut untuk memiliki harta yang lebih banyak, Penulis ucapkan, semoga sukses berperkara, salamaki.

Makassar, 1 September 2015

Penulis,

H.SYACHRUDDIN.DN  (HP). 081 2424 5938

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.