LOMPO BATTANG

Dalam Bahasa Makassar Lompo (besar) Battang (Perut), jadi Lompobattang itu diartikan sebagai orang yang besar perutnya. Entah mengapa tiba-tiba saja itu menjadi Judul tulisan ini. Namun rasa spontanitas itu, diawali saat melihat perut Penulis yang mulai tambun, membuat penampilan sedikit terganggu dan celana yang selama ini digunakan harus dibuka jahitan belakang sehingga mampu menyusuaikan dengan kondisi perut.

Adapula yang berpendapat bahwa Lompobattang (besar perut) itu adalah bukti kesejahteraan sesorang, karena tentunya tidak miskin. Dimana ada orang miskin besar perutnya, kecuali kalau mengidap penyakit busung lapar. Sebagian lainnya menimpali, bahwa yang besar perutnya pertanda mulai menimbun penyakit karena jarang olah raga.

Apapun analisis seseorang yang dirasakan lebih awal bahwa celana panjang dan celana bagian dalam kini harus lebih menyesuaikan sehingga bisa lebih nikmat dalam beraktifitas. Selain itu, akselerasi untuk sujud dan rukuk memang terasa ada sesuatu yang mengganjal, apalagi saat bangkit dari duduk.

Lain halnya dengan Gunung Lompobattang yang berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Pangkep. Kedua gunung ini merupakan tempat pertapaan seorang sufi besar yang diakui sebagai pahlawan nasional dari dunia benua, Indonesia dan Afrika Selatan.

Beliau adalah sufi besar bernama : Syakh Yusuf Al-Makassary yang dikenal dengan Tuanta Salamaka. Kuburannya di Lakiung di Kabupaten Gowa tak pernah sepi dari para penziarah, baik yang datang untuk menebus nazar maupun yang hadir karena benar-benar mendapat wangsit akan kebesaran dan keagungan namanya sebagai seorang anak Raja Gowa yang memiliki kepandaian ilmu yang mencengangkan dunia.

Lompo Battang (Besar Perut) karena mengandung anak juga bermakna lain. Seorang Ibu senantiasa mengimpikan untuk bisa “Lompo Battang” karena daripadanya akan lahir generasi baru yang akan meneruskan ceritera dan kisah perjalanan keluarganya.

Walaupun banyak Ibu rumah tangga, sampai saat ini belum dikarunia rakhmat untuk bisa “Lompo Battangnya” karena berbagai sebab dan faktor yang mengganjal proses pembenihan dalam perutnya. Sementara di era kekinian banyak pula yang terpaksa besar perutnya akibat pergaulan diluar nikah dan terpaksa menanggung malu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Terlebih dewasa ini, Pemerintah Indonesia tengah giat-giatnya untuk melakukan operasi di rumah-rumah kost, sehubungan dengan banyaknya hubungan diluar nikah dan hidup serumah, pada rumah-rumah kost di kota besar di tanah air.

Ada yang berpendapat, ini disebabkan karena di hotel-hotel berbintang kini tengah dalam pengawasan yang ketat, sehingga bergeser lagi ke rumah kost. selain operasi hidup sekamar, izin tinggal di Indonesia bagi warga non pribumi juga sekaligus untuk mencari barang terlarang yang bernama Narkoba.

Lebih ironis lagi, apa dari rumah sewa / rumah kost yang bernilai jutaan rumah, menjadi ajang prostitusi tingkat tinggi dan bahkan lebih tragis karena puncak dari ketidakpuasan berujung kepada maut. Pemberitaan ini menjadi konsumsi pers tanah air di setiap pemberitaan di pagi hari, sehingga terkadang kita tercengang, sudah sedemikian rusakkah perangai dan bobot hidup bagi penduduk atau ini sebuah pola hidup hedonis yang teranyar.

Akhirnya tibalah pada ujung perenungan, dengan sebuah materi tulisan berjudul Lompo Battang pada akhirnya tercipta sebuah tulisan baru dan sekaligus menjadi pengisi blog di petang hari, sembari menikmati secangkir kopi dan sebuah roti dari toko rumah roti yang menjajakan rotinya di sekitar kompleks perumahan di Kawasan Jalan Andi Tonro Makassar dan sekitarnya, salamaki.

Salam Perdamaian,

www.syakhruddin@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *