Entah siapa yang membuka pintu burung perkutut yang terletak di depan rumah, sehingga kandang kami temui dalam keadaan kosong. Semula saya bisa menangkap satu, dia bertengger di dekat kandang burung yang ada disamping rumah. Sementara tetangga berhasil mendapatkan tiga ekor. Dua ekor lainnya yang umurnya masih muda ditemukan bertengger di atas bunga dalam kondisi kedinginan. Kini keenam ekor burung perkutut berhasil dikandangkan kembali, akan tetapi enam ekor lainya sudah terbang mencari kehidupan dialam bebas.

Burung Perkutut

56

Harus kah kami marah menyaksikan semua ini ??? Tidak, kataku dalam hati, biarkanlah burung-burung yang selama ini kupelihara dengan tulus, terbang ke alam luas dan menikmati kebebasan di jagat raya. Di hari ini, adalah hari kemerdekaan, mereka bisa mengembangkan keturunannya di pepohonan yang tinggi dan jauh dari jangkauan manusia.

Selamat jalan wahai burung piaraanku, pergilah engkau menikmati kebebasanmu, buatlah keturunanmu di alam bebas dan berikan suaramu kepada umat manusia yang sedang di landa cinta. “wahai burungku yang lepas, walau hati ini sedih, kecewa akan tetapi pada akhirnya harus ikhlas menerima kenyataan demi kepentingan generasi mendatang.

Sementara tiga ekor yang tertangkap dan tiga ekor yang belum bisa terbang jauh, karena bulunya yang belum sempurna, kini harus kembali ke kandang. Dengan demikian, enam ekor bebas terbang di alam luas dan enam ekor lainnya harus masuk kandang kembali, dan ini menjadi ketentuan alam dan sekaligus menunjukkan adanya keseimbangan dalam kehidupan.

Kembali kepada burung yang terbang, kutitipkan harap, pergilah di kau mencari sang kekasih, jemput dia dimana tambatan hatimu dan di pohon mana engkau akan bertelur, diriku tak pernah lagi akan melihatmu. Tetapi bagi perkutut yang tinggal. Apa boleh buat, engkau akan kembali menghuni sangkar yang terbatas, kemerdekaanmu terampas dan sebagai gantinya engkau bebas makan gratis tanpa harus mencari makan kesana kemari.

Akan tetapi aku merasakan, betapa derita batin yang engkau rasakan dalam keterbatasan, sekalipun sangkarmu terbuat dari emas akan tetapi bila kemerdekaan hilang maka semuanya tentu tak akan nikmat.” Tapi karena ini sudah suratan takdir, maka mari mensiasati hidup di sangkar dengan memberi suara indah kepada sang pemilik.

Wahai sang pemilik, terimalah suara merduku, walaupun terkadang “lirih” bercampur pilu, namun sang perkutut akan selalu berbunyi setiap waktu sebagai kewajibanku setelah diberi makan gratis. Akan tetapi di sudut paruh badanku yang ringkih, tersimpan keinginan untuk bebas seperti keenam ekor kawanku yang sudah terbang entah kemana.

Perlahan burung yang berhasil ku tangkap kembali masuk kandang, dua diantaranya terlihat stress, malas makan dan sering merunduk, “ Perkutut itu seakan menyesali dirinya yang pernah bebas walau sesaat, namun tak mampu terbang jauh, karena tahu posisinya, bulu sayapnya belum sempurna, atau dia itu mengamalkan arti pribadi, “ Jangan terbang sebelum bulumu sempurna”. Burung perkutut itu semakin menunduk saat aku mendekatinya, dia seakan berbicara pada dirinya sendiri, “Apa arti kebebasan bagiku”

Sang perkutuk itu tetap menunduk hingga tersentak saat aku menyodorkan makanan ke dekatnya, burung itu menatapku tajam, seakan ia berkata, lepaskan daku agar bisa bebas di angkasa raya. Namun tiba-tiba datang perkutuk lainnya sambil mematuk kepalanya dan keduanya larut dalam cengkrama sesama burung perkutuk.

Kunikmati suasana itu dan membayangkan diriku saat menikmati kebebasan dan saling mengurai rambut di suatu tempat yang begitu indah, saat seperti memang saat mengasyikkan, sebagaimana burung yang ada dalam kandang. Kedua perkutut itu, langsung meloncat ke dasar lantai kandang dan mematuk pasir yang ada dalam kandang, dalam kondisi seperti itu, diriku meninggalkan kandang  dalam suasana penuh tanda tanya. Apakah masih akan  pintu burung terbuka atau memang ada orang lain yang datang membuka pintu burung kembali, aku tak mampu menjawabnya, hingga suara tetangga terdengar kembali, Pak burungnya terbang, kemanakah burung itu akan bertengger, tak seorangpun yang mampu meramalnya, kecuali sang perkutut itu sendiri dengan khaliknya,  salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>