Perjalanan panjang dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur melalui jalur darat, membawa begitu banyak kenangan yang sulit dilupakan,  berikut Penulis menyampaikan dengan gaya bertutur ;

DSC_0454

20141105_102811

Dengan bus malam Maharatus trayek Banjarmasin-Balikpapan – Samarinda,. Kami bertiga naik bus pukul 16.00 waktu setempat, menelusuri jalur Martapura, Barabai, dan tiba di terminal Kandangan.

Disana para penumpang diberi kesempatan untuk menuju kamar kecil atau berbelanja dodol Kandangan atau Apam Barabai yang banyak dijajakan oleh penjual di terminal Kandangan.

Sekedar ingin merasakan dan menebus kerinduan akan kenangan masa silam, sengaja kami membeli dua bungkus untuk sekedar bekal dalam perjalanan.

Selanjutnya Bus Maharatus meneruskan  perjalanan, menelusuri jalur selatan di Provinsi Kalimantan Selatan, kemudian tiba diperbatasan di Tanjung dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang, amat kontras dengan kondisi jalan yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, diperbatasan Kalsel-Kaltim kondisi sedikit memprihatinkan.

Tiba di Kampung Muara Langon di Provinsi Kalimantan Timur, Bus Maharatus berhenti dan para penumpang memasuki warung yang menjadi langganannya.

Disini setiap penumpang bebas mengambil menu makan yang dibutuhkan, persoalan banyak atau sedikit, bayarannya tetap sama, Rp 25 ribu setiap kali makan.

Usai bersantap malam, kemudian terus melaju menelusuri lintas provinsi saat memasuki kawasan Batu Kajang, ban mobil bagian belakang sebelah kiri, kempes karena tertusuk baut, akhirnya mobil bus meminggir dan keneknya segera mengganti dan memasang ban cadangan.

Melihat cara kerja kenek bus, teringat akan kenangan lama saat dahulu pernah mengganti ban mobil milik ayahku yang juga bocor di tengah jalan. Cara mereka mengunci baut, memasang dongkrat dan memutar baut roda, mengingatkanku akan posisi seorang kenek bus.

Malam semakin larut, perjalanan panjang yang melelahkan, namun tak sedikitpun mata mau terlelap karena ingin menyaksikan kondisi daerah yang sudah 30 tahun silam ditingalkan.

Menjelang subuh hari,  Bus Maharatus tiba di Terminal Kuaro  Kecamatan Kuaro Kabupaten Tana Paser. Karena belum ada angkutan yang akan membawa ke Tanah Grogot, akhirnya menunggu sampai tiba waktu subuh.

Sebelum memasuki waktu sholat subuh, muncul empat buah kendaraan RTU (Rescue Tactical Unit) dan sebuah bus memasuki terminal kuaro membawa rombongan Tagana Kalimantan Timur dengan tujuan Balikpapan dan Samarinda. Enam orang diantara anggota rombongan yang turun di Kuaro dan  akan melanjutkan perjalanan menuju ke Tanah Grogot yang sekarang berubah menjadi Tana Paser.

Usai sholat subuh berjamaah di Masjid Kuaro, kami  melanjutkan perjalanan ke ibukota Kabupaten Tana Paser di Grogot dengan menumpang bus mini yang membuat anggota Tagana Kabupaten Paser.

Kami semua berjumlah tujuh orang dan seorang diantaranya adalah Pegawai Dinas Sosial Kabupaten Tana Paser yang bertindak sebagai instruktur di kegiatan Bhakti Sosial di Banjarmasin.

Alhamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di Tana Paser di sambut keluarga Andi Mustari Mappa. Karena semalam tidak tidur di jalan maka setelah ngalur-ngidul tentang keluarga di Makassar.

Maka kami minta istirahat  lalu tertidur dengan pulas di ranjang milik Andi Mustari Mappa sampai saat masuk waktu Sholat Jumat.

Memasuki waktu sholat Jumat, kami bergegas menuju Masjid Agung Tanah Grogot lalu mengunjungi para sahabat diantaranya Muh. Thaufik Rizal,MH yang sekarang menjadi pengusaha “Persewaan Alat-Alat perkawinan dan Salon Kecantikan yang dikelola oleh Isteri Thaufik”

Lalu berkunjung ke rumah kediaman Bapak Sunardi (mantan Kandepsos Kab.Paser), ke kediamanan Sdr. Murjani dan Muhiddin yang ketiga sudah hidup menjanda.

Secara berseloroh mereka menyebutnya kalau lorong tempat tinggal mereka adalah  “Gang 3 J” alias gang tiga janda, maka pecahlah tawa di rumah kediaman Ny. Sunardi.

Kami lalu bertamu ke rumah Syahrumsyah yang kini kesehatannya terganggu karena penyakit gula, silaturahmi ke rumah Komaruddin dan terakhir ke rumah Atmawijaya di HOC. Cokroaminoto.

Sdr. Atmawijaya adalah anak mantu dari Bapak Sunardi (Mantan Kadis Sosial Kab. Paser) dan kondisinya memang sangat memprihantinkan, namun kami berikan terus,  semangat untuk tetap bertahan dan tidak usah terlalu bersedih.

Muh. Thaufik Rizal yang kehidupannya lebih mapan dibanding teman lainnya, Thaufiklah yang menjadi pemandu wisata dan  mengantar kami keliling kota.

Selain itu, Thaufik membawa kami ke tempat Wisata Rimba untuk menikmati gurihnya masakan ikan tambak yang letaknya jauh dibalik  belantara pohon kelapa sawit di Kampung Kuaro Kabupaten Paser.

Belum selesai menyaksikan akan kemajuan kota Tanah grogot, dengan nuansa Ungu, termasuk pembangunan “Telaga Ungu Paser” Muh, Thaufik Rizal mengantar kami ke rumah Bapak Haji Abd. Latif yang memiliki Hotel Indah.

Orang Selayar yang satu ini memang sangat cekatan dahulu cari duit akan tetapi stroke yang menyerangnya beberapa tahun silam membuatnya  harus di papah bila berjalan.

Menjelang sore Sdr. Thaufik Rizal  menawarkan untuk menyaksikan rumah peninggalan Raja Paser yang kini berubah menjadi Meseum Pasir Belengkong yang merupakan salah satu destinasi budaya dan menjadi sasaran kunjungan wisatawan,  salamaki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>