Rumah kediaman Saudara Herman, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Provinsi Sulawesi Selatan yang sehari-harinya membawa mobil Resque Tactical Unit (RTU), Kamis 23 Oktober 2014 sekitar Pukul 12.30 Wita dilalap si jago merah, Korbannya 120 rumah hangus terbakar dan 1.867 jiwa kehilangan tempat tinggal, sebahagian mengungsi ke emperan toko di kawasan pemukiman padat penduduk di Kelurahan Rappocini dan Kelurahan Maricaya Kota Makassar.

rappocini

Herman bersama Isteri dan seorang anaknya memang masih hidup serumah dengan orang tuanya, sehingga ketika mendengar rumah Herman terbakar maka semua rekan-rekan TAGANA turut hadir untuk menunjukkan rasa duka cita yang mendalam atas musibah tersebut.

Ratusan warga berlarian berusaha menyelamatkan barang masing-masing. Ada yang membawa kompor, kulkas, buku, sepeda motor, kasur dan buntelan kain serta berbagai peralatan rumahtangga lainnya.

“Api Saya lihat berasal di lorong penghubung antara gang satu dan gang dua. Saya tidak sempat menyelamatkan sepotong pun barang-barang di rumah Saya. Semuanya sudah terbakar habis. Saya sekarang bingung mau tinggal di mana,”tutur salah satu warga yang bernama Daeng Eda (50) sambil menangis histeris.

Kebakaran di Kota Makassar terjadi hampir setiap hari. Dalam sehari bisa terjadi dua sampai lima kali kebakaran di lokasi yang berbeda. Kami prihatin atas kejadian yang menimpa warga. Petugas Damkar selalu bersiaga 24 jam untuk membantu warga Makassar. Ini adalah kebakaran ke-174 sepanjang tahun 2014,” kata Kepala Dinas Damkar Kota Makassar Imran Shamad

Dari data sementara dinas sosial, sekitar 140 rumah di dua kelurahan, Rappocini Raya Inspeksi Kanal dan Maricayya Baru, rata dengan tanah.

Warga yang panik berupaya untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya memanfaatkan air dari kanal. Namun, cuaca yang panas dan angin kencang membuat api dengan cepat menyebar sehingga korban rumah makin meluas. Api baru bisa dipadamkan sejam kemudian setelah puluhan unit mobil kebakaran diturunkan memadamkan api

Penyebab kebakaran yang menimpa rumah warga di daerah Rappocini belum diketahui. Namun, berdasarkan informasi warga, penyebab kebakaran diduga akibat ledakan kompor gas.

“Waktu kebakaran terdengan suara ledakan. Mungkin itu kompor gas,” kata salaha seoranga warga, Lina (29), saat ditemui dilokasi kejadian.

Dia mengatakan dari informasi warga sumber api berasal dari rumah milik Ustads Junaedi. Saat itu Ustads Junaedi sedang memasak air dan kompor yang digunakan meledak.

“Kalau cerita warga api dari rumah ustads Junaedi yang saat itu sedang masak air. Rumah saya juga jadi korban,” ujarnya.

Senada juga dikatakan, Nina (28). Dia menceritakan saat itu dirinya sedang duduk dirumahnya tepat didepan rumah milik ustads Junaedi. Api tiba-tiba membesar dari rumah ustads tersebut dan terdengar suara ledakan.

“Saya lihat api sudah menyala dari rumah Ustad Junaedi. Saya langsung lari bersama keluarga saya,” ucapnya.

Pihak Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Sosial Kota Makassar segera membuka Dapur Umum Lapangan (Dumlap) dan para anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Palang Merah Indonesia, Pemerhati Bencana dan relawan sosial melakukan pendataan di lokasi kebakaran dan  kerugian ditaksir ratusan juta rupiah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>