KELUAR DARI BANK LAPTOP MELAYANG

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak, “demikian pepatah lama yang tak lekang karena panas dan tak lapuk harena hujan. Musibah  menimpa penulis di hari, Senin 13 Oktober 2014 sekitar Pukul 12.15 Wita. Sebuah tas berisi Laptop, Ipad, Blackberry, Kartu Tabungan dan empat buah Flashdisk dan pulpen laser untuk mengajar, raib di sambar maling bermotor dari mobil, di Jalan Landak Lama samping RS. Labuang Baji Makassar.

Mobil Core

Mobil CORE

Malam sebelum terjadi, Penulis bermimpi dipasangkan PIN pada sisi kiri leher baju, saat bangun di subuh hari, duduk terhenyak di sudut tempat tidur. Seraya berfikir, apa gerangan yang akan terjadi, kenapa Penulis diberikan pin, begitulah perasaan menggelayut, dan berlanjut menuju Masjid Besar Al-Abrar Gunungsari Baru Makassar untuk Sholat Subuh berjamaah.

Tapi peristiwa itu, tidak sampai mengganggu aktifitas di pagi hari. Makanya setelah sarapan pagi berupa nasi kuning dengan sebutir telur bercampur kerupuk. Keluar rumah dengan mengendarai mobil Ertiga DD 1077 MW menuju bengkel untuk penggantian olie mesin karena sudah mencapai jarak tempuh 20.000 km.

Beberapa komponen mengalami penggantian oleh Pihak PT.Megahsejahtera Latimojong yang merupakan bengkel resmi Suzuki di Makassar. Penggantian meliputi, olie mesin, penggantian busi empat buah, pemasangan spark plug (saringan AC) serta pemeriksaan tekanan ban.

Kendaraan Ertiga yang biasa dijuluki “Si Putih” oleh Penulis, melaju kencang menuju BNI Kantor Cabang Mattoanging di Jalan Cendrawasih No. 133-135 Makassar.

Kedatangan Penulis ke BNI untuk pembuatan Kartu ATM, di kasir Nomor 4, di layani Andi Wahyuni. “Pak, ini berkas Bapak sudah lengkap, selanjutnya akan dikirim ke Lantai IV Menara Bosowa, jadi selanjutnya Bapak akan dihubungi via telepon atau email, jelas Pak ??? ujarnya dengan nada tanya. Ya, sangat jelas dik.

Andi Wahida lalu balik bertanya, “ Masih ada yang bisa saya bantu, katanya sambil tersenyum manis. Oh ya, masih adik dik. Apa itu Pak ??? teruskan layananmu yang bersahabat itu pada konsumen lainnya. Dengan wajah sumringah, Penulis meninggalkan  counter Nomor 4 tempat dimana Andi Wahida bertugas.

Di Pintu keluar, dengan lincah dua Sekuriti membuka pintu, di BNI Mattoanging di kenal dengan pelayanan konsumen yang bersahabat. Para nasabah mendapat kesempatan yang sama, karena sistem nomor antri yang mekanis, jadi tidak saling berlomba.

Budaya yang dipergunakan “Awal bil awal, akhir bil akhir” ungkap salah seorang petugas Sekuriti yang rajin membuka dan menutup pintu masuk.

Belum usai kekagumanku atas layanan dari petugas,” Seorang anak paruh baya, berteriak, terus … terus … kanan komandan, ternyata itu adalah teriakan juru parkir BNI Cabang Mattoanging.

Disaat akan meninggalkan BNI Mattoanging, tas hitam berisi Laptop, IPAD dan buku untuk referensi perkuliahan di Semester V Jurusan Kesos, langsung saya taruh di jok belakang, persis di belakang pengemudi.

Karena memang disitu selalu saya taruh, apalagi kalau sendirian. Rupanya kondisi itu dipantau oleh seseorang yang berniat jahat. Setelah membayar jasa parkir, perlahan “Si putih” melintas di Jalan Cendrawasih kemudian berbelok ke kiri di Jalan Kakaktua.

Di depan Kantor TVRI, ada seseorang pengendara motor yang sepertinya selalu mau menyerempet bagian kiri mobil Penulis, tentunya ini sangat mengganggu kenyamanan mengendara di jalan raya.

Dari balik kaca spion, Penulis perhatikan cara mengendara tidak seperti pengemudi lain, menjelang lampu merah di pertigaan Labuang Baji, motor butut itu menggoreskan stand stirnya ke belakang mobil.

Penulis lalu turunkan kaca lalu memperhatikan gerakannya, “Hati-hati kalau naik motor”, yang bersangkutan malah tertawa cengengesan. Karena lampu sudah berwarna hijau, akhirnya kami harus maju.

Setelah tiba di seberang jalan, tepatnya di Jalan Landak Lama, Penulis meminggirkan kendaraan dan turun melihat bagian mana yang tergores, sambil memperhatikan bekas goresan, terdengar seperti pintu terbuka “Krek” tapi tak menyangka kalau itu pintu “Si Putih “ yang dibuka.

Sejurus kemudian, tas yang ada di bagian belakang, sudah dibawa lari oleh seorang pengendara sepeda motor yang ada membuka pintu di bagian kanan.

Hanya dalam hitungan menit, kami kembali naik ke mobil, tanpa memperhatikan kalau tas hitam yang berisi laptop, ipad dan BB itu hilang.

Setelah tiba di Kampus mau masuk menghadap ke Ketua Jurusan, ternyata tas hitam itu sudah “RAIB” Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Sejurus kemudian Penulis sampaikan kepada Adinda Adhy Casanova (staf adminsitrasi)pada jurusan Kesos, malah masih sempat memberi honor kepadaku. Pak, ini ada sedikit uang honor, katanya.

Musibah kehilangan tas, disampaikan kepada Adhy dan menyarankan agar melapor ke Polsek Mamajang, karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) masuk wilayah tanggungjawab Polsek Mamajang termasuk kawasan Jalan Landak Lama dekat RS. Labuang Baji.

Si Putih segera di pacu menelusuri jalur Samata, Hertasning belok ke kanan melalui Jalan A.P.Pettarani kemudian melintas di Jalan Mongisidi, belok ke kiri di Jalan Bulukunyi hingga parker di halaman Polsek Mamajang di Jalan Lanto Dg Pasewang  Makassar.

Di Polsek Mamajang, Penulis di terima petugas jaga sembari  antri menunggu layananan. Mengingat hari inibanyak yang kehilangan dan sedang menanti giliran. Ada korban melapor karena kehilangan kartu ATM, ada kasus pencurian AC dan ada juga masalah perkelahian karena wanita cantik.

Akhirnya tibalah giliran Penulis, di terima  Aiptu Maslot Siregar (Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) grup “A” Selama dua jam di Polsek Mamajang, akhirnya surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor : STPL/85/X/2014/Sek.Mamajang yang ditandatangani Aiptu Maslot Siregar selesai.

Namun berkas itu masih harus dikirim lagi ke Lantai II pada bagian Reskrim untuk dibuatkan berita acara kehilangan. Semua proses dijalani dengan sabar, kemudian setelah tuntas, kembali menuju ke Kantor BNI Cabang Mattoanging untuk melaporkan berita kehilangan “buku tabungan BNI”.

Kali ini, dilayani petugas bernama “Wiwiek” setelah menceriterakan kronologisnya, Wiwiek berujar “Astagafirullah, kenapa bisa Pak” ya begitulah, semua terjadi dan sudah menjadi ketentuan Allah.” Iii, tawwa Bapak, pasrahnya, ujar Wiwiek dalam dialek Makassar.

Karena Penulis merupakan nasabah terakhir dilayani, maka pintu pagar BNI Cabang Mattoanging sudah di tutup pihak sekuriti, hanya beberapa petugas bank sedang berkemas, yang lain menghitung uang dan clening service lalu lalang menyapu lantai.

Setelah semua proses selesai, akhirnya nomor rekening dan kartu ATM BNI resmi diblokir dan akan diganti dengan rekening baru besok pagi di Kantor BNI di Jalan dr. Ratulangi dengan took buka Agung, karena disana awal pendaftaran dahulu. Kehilangan memang menyakitkan, namun semua ini adalah bagian dari sebuah proses untuk menjadi seorang hamba yang ikhlas, salamaki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *