Alhamdulillah, demikian kalimat yang sering kita dengar usai pelaksanaan amaliyah ramadan. Namun kalimat ini bisa bermakna ganda, bagi mereka yang senang ramadan pergi, mereka akan berkata, “Alhamdulillah” kita sudah bebas makan selama sebelas bulan ke depan.

Bagi sebahagian hamba yang mendapatkan fadhilahnya ramadan akan melanjutkan tradisi atau kebiasaan selama satu bulan lamanya mengikuti training di bulan yang penuh rakhmat, maqfirah dan ikkunminannar.

Oleh sebab itu, mari kita sempurnakan puasa ramadan itu, dengan berpuasa selama enam hari lamanya di bulan Syawal 1435 H. Puasa ini bisa dilakukan dengan pola puasa Senin-Kamis atau dimulai hari Senin selama enam hari berturut-turut dan itu lebih bagus.

Demikian halnya dengan “Sholat Malam” seperti taraweh, qiyamul lail atau tahajjud, semua itu adalah untuk menenangkan hati manusia. Betapa besar fadhillah sholat malam, sampai Allah berjanji, “Adakah hambaku yang sholat di sepertiga malam”

Adakah hambaku yang mengajukan permohonan dan akan kukabulkan permintaanya. sungguh sangat luar biasa, makanya mari kita melanjutkan tradisi ramadan pada sebelas bulan mendatang.

Kebiasaan membaca ayat suci Al-Quran mari kita teruskan di luar bulan suci ramadan dengan mengulang-ulang membaca, sehingga Al-quran akan menjadi peneman hidup dan kelak di yaumil akhir akan menjadi perisai dan pendamping yang setia.

Sungguh ramadan telah berlalu akan tetapi hasil pelatihan dan kebiasaan selama bulan suci ramadan mari kita teruskan, dengan sholat tepat pada waktunya secara berjamaah, melanjutkan puasa sunat dan kebiasaan membaca Al-quran tetap dilestarikan.

Betapa ramadan telah mendidik kita dan melakukan pembersihan sifat-sifat yang tidak terpuji, karena itu mari kita terus memilihara jiwa dengan melakukan “Istiqfar” menghilangkan nafsu kebinatangan seperti menyakiti perasaan orang lain demikian halnya dengan nafsu syetan yang ingin berkuasa dengan target utama, tahta, harta dan wanita.

Ramadan juga telah memberikan pelajaran berharga, berupa pesan sosial untuk mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah. Semoga sebelas bulan mendatang, kita masih senantiasa untuk bersedekah dan membantu saudara kita yang membutuhkan, bukankah ringan tangan itu akan memudahkan segala urusan kita.

Di bulan Ramadan yang bartu lewat, kita telah melaksanakan “Jihad” dengan melawan hawa nafsu dan alhamdulillah kita telahberhasil melewati dengan baik, mari kita tetap menjaga agar sebelas bulan ke depan tetap terpelihara, karena kata orang bijak “ Merebut itu gampang tetapi mempertahankan itu butuh perjuangan”

Sungguh tantangan itu, membutuhkan ketangguhan mental untuk mempertahankan, pesan ramadan menyebutkan, “Mudah-mudahan engkau termasuk orang yang bertakwa.”

Pertanyaannya kemudian, apakah itu “Taqwa” dari berbagai informasi yang disampaikan para ustad di Masjid Al-Abrar Makassar menyimpulkan bahwa Taqwa itu sesungguhnya adalah “SABAR”.

Menjadi seorang yang “SABAR” itu gampang-gampang susah, betapa seorang hamba yang selama ini berpisah jauh karena bidang tugas yang memaksa berpisah tempat, harus bersabar manakala kiriman sms terlambat datang atau kiriman email tak terbalas karena asyik bersilaturahmi.

Maka sesungguhnya semua itu membutuhkan kesabaran yang luar biasa, sebagaimana dengan seorang perantau bernama Daeng Lewa harus bersabar menanti datangnya bantuan di sisa akhir kehidupannya.

Mudah-Mudahan tulisan ini sekaligus menjawab keraguan dari pembaca blog yang selama ini dengabn setia memberikan motivasi untuk terus menulis dan dengan SABAR menanti hadirnya karya tulis yang monumental, terima kasih atas segalanya dan Selamat Idul Fitri 1435 H, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, Salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>