Mungkin anda sudah pernah berkunjung ke Pasar tradisional Terong Makassar ??? Letaknya di Jalan Terong samping Masjid Al-Markaz. Disini menjadi pusat pasar tradisional terlengkap di Kota Makassar dan harga-harga jauh lebih murah dibanding pasar tradisionil lainnya yang ada di Makassar, seperti Pa-Baeng-Baeng, Maricayaya, Mattoanging atau Pasar Bacan yang ada di Kota Makassar.

Pada suatu kesempatan, Penulis mendapat tugas mengantar pendamping ke pasar terong. Sayang tidak sempat masuk pasar tapi menunggu di Pos Polisi Terong sambil menanti hasil belanjaan dari pendamping. Disini sempat Penulis sempat menyaksikan bagaimana para juru parkir menata kendaraan, penjual kelapa muda yang laris manis di bulan ramadan, jasa angkut belanjaan, begitu pula dengan jasa untuk pompa dan tambal ban yang kempes atau bocor.

Dari hiruk pikuk kehidupan di kalangan masyarakat, terbukti kalau kita mau berusaha, bekerja dengan tulus tentunya akan mendapatkan hasil, persoalannya kita kadang memilih dan memilah jenis pekerjaan. Hanya mau bekerja bila menjadi pegawai negeri sipil saja padahal begitu banyak lapangan pekerjaan yang tersedia.

Dalam proses menanti berbelanja sang pendamping, kucoba untuk mengutak atik perangkat handphone, kubiarkan nalar ini mengembara keangkasa raya, menari di tengah hiruk pikuk lalu lintas di kotaku.
Tak peduli dengan orang-orang yang berseliweran di jalan raya, tuts hape terus ku tindis dan lahirlah sebuah tulisan yang kuberi judul “Pasar Terong”

Dulu di depan Pasar Terong sebelum diambil lahannya untuk Pembangunan Masjid Al- Markas Al-Islami merupakan Kampus Universitas Hasanuddin. Adalah Almarhum Prof. Dr. Achmad Amiruddin untuk memindahkan Unhas ke Tamalanrea, yang dulu dikatakan daerah terluar, sekarang malah menjadi jantung kota.

Di Kampus Baraya dulu, Penulis pernah mengecap pendidikan, kala itu masih diterapkan kelas matrikulasi, selama enam bulan kuliah tanpa jurusan, nanti setelah ujian final barulah diarahkan ke jurusan mana seseorang mahasiswa harus dikembangkan.

Sayang tidak sempat selesai karena keburu terbit surat keputusan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Provinsi Kalimantan Timur. Perasaan menjadi mendua, antara bekerja atau kuliah, akhirnya diputuskan bekerja dengan syarat harus kawin sebelum merantau.

Kenangan perantauan di tahun 1979 kembali terkenang dalam lamunan di kantor Polisi Terong hingga tak sadar pendamping tiba di depanku membawa tiga bungkusan hasil belanjaan. Hey….. ngantuk ya ??? tidak, hanya ingat dulu waktu merantau, tuturku sambil menaiki motor Honda DD 5157 JS yang merupakan plat nomor pilihan karena lahir tanggal 5 Januari 1957.

Alhamdulillah, perjalanan panjang dari Pasar Terong menelusuri Jalan Veteran, Sultan Alauddin dan tiba di Andi Tonro. Alangkah kagetnya, saat memasuki rumah, semua burung tekukur piaraanku berbunyi, hanya saja kali ini bunyinya agak aneh karena dia menyebut nama salah satu kandidat Capres :

Kerukuk …kerukuk …Jokowi …Jokowi …Jokowi, apakah ini pertanda kalau Jokowi – JK yang akan menjadi pemenang hasil pemilihan rakyat tanggal 22 Juli mendartang ??? wallahu alam bissawab, biarlah waktu yang akan menjawabnya, salamaki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>