Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui kegiatan Pendampingan Sumber Daya Manusia (SDM) melakukan kegiatan akbar, berupa kunjungan ke lokasi KAT di Jayapura dengan mengikut sertakan enam Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) se-Indonesia.

1

Di bawah koordinasi Kepala Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, DR.Ir.Raden Harry Hikmat,M.Si bersama para Kepala BBPPKS dari Padang, Yogyakarta, Bandung, Banjarmasin, Makassar dan Papua, sejak tanggal 22 s/d 25 Mei 2014.

Dari berbagai lokasi KAT yang sudah mendapatkan pembinaan awal dari Dinas Sosial Provinsi Papua, maka untuk peningkatan SDM KAT di Papua, keenam Balai Besar diharapkan peran sertanya untuk mengambil bagian aktif dalam menuntaskan SDM KAT di Papua.

Oleh panitia lokal dan pertemuan para pimpinan Balai di BBPPKS Regional VI Papua, masing-masing Tim BBPPKS dari regional 1 s/d 6 mendapatkan lokasi KAT untuk dikunjungi bersama dua orang pendamping.

Regional I Padang, di KAT Kampung Amgotro Distrik Web Kabupaten Keroom yang berbatasan dengan Papua Nugini (PNG), adapula BBPPKS Yogyakarta, Banjarmasin, Yogyakarta, Makassar dan khusus BBPPKS Regional VI Papua, akan menyusul kemudian, mereka akan melakukan kunjungan dan penjajagan pada lima lokasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Bumi Papua.

Secara khusus tim BBPPKS Regional V Makassar, beranggotakan 12 Orang dipimpin langsung kepala Balai, DR.Abdul Hayat,M.Si, untuk menjangkau Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang berada di belantara hutan Papua, tepatnya di Kampung Witi Distrik Kaureh. untuk menjangkaunya dibutuhkan perjuangan ekstra, baik fisik maupun mental. Hal ini di karenakan medan yang ditempuh cukup menantang.

Sebelum melakukan perjalanan ke lokasi masing-masing, semua anggota tim dari masing-masing BBPPKS, mengikuti upacara pelepasan di halaman BBPPKS Regional V Papua di Distrik Kamkei dengan pembina Upacara, Bapak Sekretaris Badiklit, Drs.Hari Kristanto,M.Si

3

Selanjutnya, rombongan memulai perjalanan dari BBPPKS Papua di Kemtuk Abepura, dengan menggunakan tiga buah kendaraan rental, menempuh perjalanan darat menerobos jalur pegunungan, melintasi sungai dan kawasan perkebunan kepala sawit milik PT. Sinar Mas Regional II Papua.

Setelah melalui perjalanan selama delapan jam, akhinya tim BBPPKS Makassar dengan semangat “Pantang Tugas Tidak Tuntas” melanjutkan petualangannya dengan jalan kaki selama dua ja m.

Untuk bisa sampai dengan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kampung Witi Distrik Kaureh, anggota rombongan harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama dua jam, menelusuri jalan rel yang dibuat warga setempat untuk mengangkut kayu dari hutan belantara.

Para anggota rombongan harus berjalan melalui titian kayu dan jembatan gantung yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Beruntung karena pemandu kami Sdr. Ferry yang bernama lengkap Fermenes Sobor dan Bapak Leo dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Papua,

Sudah lebih awal menginformasikan kehadiran kami kepada warga, sehingga dari mulut jalan sudah ada enam orang tim penjemput yang akan memikul barang-barang.

Baik itu untuk kebutuhan kami selama di lokasi berupa mie instant, beras dan air mineral serta perlengkapan diklat lainnya, berupa baju kaos, tas dan peralatan komunikasi termasuk bahan bakar untuk kepentingan genset yang ada di lokasi.

Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya tiba di Kampung Witi, disambut warga yang mendiami areal 200 meter persegi dengan 15 bangunan permanen yang dibangun Kementerian Sosial dua tahun lalu, serta enam orang Petugas Sakti Peksos yang di Kampung Witi.

6

Pada malam harinya, kami memulai kegiatan dengan perkenalan warga, sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami. Bahwa kehadiran BBPPKS Regional V Makassar di Kampung Witi memberikan Diklat Pengembangan SDM Papua. Para peserta setelah mengerti kedatangan kami, mereka mulai mafhum dan siap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Oleh panitia pelaksana dibawah koordinasi Ibu Dorkas, mengawali kegiatannya dengan memperkenalkan semua anggota tim, selanjutnya menyalurkan perangkat diklat berupa baju kaos dan tas untuk para peserta, dilanjutkan dengan pemutaran film dengan operator Sdr. Kamiseng.

Keesokan harinya, acara pembukaan diklat oleh Kepala Balai Besar Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional Makassar yang memakai busana lengkap adat khas Bugis/Makassar. Demikian halnya dengan Kepala Suku (Ondo Afi) dan beberapa warganya yang berpakian khas untuk keperluan penjemputan tersebut.

Pelaksanaan acara berlangsung marak, diawali pembukaan diklat di sebuah gereja kampung dengan konstruksi kayu dan papan yang banyak terdapat disekitar pemukiman.  Tim widyaiswara beranggotakan, Drs.Thomas Tupen Palan,M.Si, Drs.Baharuddin,MM dan Cucuk Suhendar,S.Sos bersama pemandu acara Drs.H.Syakhruddin.DN,M.Si diakhiri dengan pembacaan doa oleh Koordinator Sakti di Kampung Witi, Pendeta Yosias Simson Kadun,ST,M.Th

Menjelang siang, kami mendapat informasi dari penghubung kampung bahwa Kebadiklit tengah menuju kampung Witi bersama Kepala Balai Regional VI Papua, Bapak Drs. Isak Sawo,M.Si beserta Sekretaris Ibu Endang, perjalanan ke lokasi KAT di Kampung Witi Distrik Kaureh, adalah Kepala Kampung Yadauw Bapak Yohannis Burian, yang kemarin sempat mengantar Kepala Badan menginap di kampong sebelumnya di Yamho.

Perjalanan Kabadiklit ke lokasi ini, tentunya dapat dikatakan sedikit nekad. Betapa tidak, setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, menempuh rimbunnya tanaman pohon kelapa sawit, akhirnya tiba dengan selamat, disambut Kepala Suku (Ondo Afi) bernama Ruben Lewi alias Lewi Doribya yang merupakan nama baptisnya.

Tarian selamat datang di Kampung Witi, di pimpin langsung Ondo Afi, bersama warganya. Dengan menggunakan busur panah sebagai senjata perburuan, dua orang yang membawa tas yang bahannya terbuat dari kulit pohon sagu, sebagai sarana untuk membawa perbekalan dalam pertempuran.

Tarian yang berupa gerakan loncat-loncat di tempat ini, sesekali ada suara riuh dari seluruh anggota Suku Uriya, membuat suasana penyambutan makin semarak. Ruang utama Gereja Pantekosta menjadi bergetar, karena gerakan meloncat dari 30 peserta diklat dan hadirin yang turut menyambut kedatangan Bapak Kepala Badan Diklat Kementerian Sosial RI.

20140522_141907

Dalam dialog dengan Kepala Suku Uriya dan para tokoh adat yang terbilang sangat menguasai kawasan hutan, bahkan secara rinci, Ondo Afi menyebutkan batas-batas kawasan adat, baik yang berada di Distrik Dore, Kampung Witi, Muara Pasrah, Rebo, Uria, Nandalsi, Bebo dan Ures.

Kawasan perkampungan Witi, saat ini telah dihuni 15 warga yang menetap di Dusun Witi, kelak akan menjadi Kampung, bilamana warganya telah bertambah menjadi 22 KK sebagaimana persyaratan dan ketentuan adat untuk menjadi sebuah kampung.

Kehadiran pendamping KAT Sdr. Fermenas Sobor yang akrab di sapa Ferry, memang sangat membantu warga untuk mengkomunikasikan apa yang menjadi impian warga. Di tangan Ferry banyak melakukan teroobosan untuk membuka isolasi, menemui warga yang masih bermukim di hutan-hutan belantara Papua.

Ferry yang kini sudah diangkat menjadi sekretaris kampung terus berupaya bersama-sama Sakti Peksos memikirkan kemajuan Suku Uria, terutama mereka yang hidup secara mengelana dan jauh dari perkampungan.

Dikatakan oleh Ferry, Kawasan pemukiman KAT Kampung witi, dihuni 15 Kepala Keluarga, ke depan merencanakan untuk kembali buka lahan baru untuk pembangunan Balai Kampung (Rumah Sosial), Pustu, Ruang kelas I sd kelas IV serta membuka akses yang dapat menghubungkan jalur ke Perkebunan PT. Sinar Mas sehingga warga suku Uriya ini, tidak lagi terpencil sebagaimana dengan Saudara-saudara mereka yang sudah lebih awal penerima proses untuk sebuah perubahan.

Kehidupan di Kampung Witi, memang masih membutuhkan perhatian dari semua SKPD yang ada di Papua, yang menjadi prioritas pertama adalah bidang kesehatan, berupa sarana air bersih, pendidikan untuk anak-anak mereka dan akses jalan yang dapat di jangkau dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Untuk memehuni kebutuhan air minum, warga mengandalkan air tadah hujan atau melalui anak sungai yang ada di belakang rumah mereka, dengan kondisi air yang berwarna kecoklat-coklatan. Selain itu, mereka juga membutuhkan peningkatan SDM, pemberantasan hama penyakit tanaman, sanitasi lingkungan serta pasar yang bisa menjadi pusat kegiatan untuk jual beli hasil panen mereka.

Dusun Witi yang merupakan pemekaran dari Kampung Yadauw, memiliki sumber alam berupa pohon sagu, kayu besi, kayu lawan, rotan, pinang, coklat, pisang, umbi-umbian, rambutan dan hutan belantara yang masih perawan.

Sehingga membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh masyarakat, pemuda dan kepala suku bersama para sakti Peksos sebanyak enam orang yang ada di lokasi Witi, yaitu, Yosias Simson Kadun,SE,M.Th (Koordinator), Dwi Dayanto,S.Sos, Irham Wida Perwira,S.Sos, Hario Pri Asmara,SKM, Merlina Melmambesy,S.Sos,MA dan Demilka Parangan,S.Sos diharapkan menjadi motor penggerak dalam mempercepat proses tumbuh kembangnya Dusun Witi sebagai salah satu kawasan Komunitas Adat Terpencil di Tanah Papua.

Keprihatinan dan keterbelakangan memang menjadi pemandangan sehari-hari padahal dilatar depan perkampungan terdapat PT.Sinar Mas yang merupakan pusat tanaman kelapa sawit regional II Papua, andai saja ada kesepahaman dan kemauan untuk membuka akses jalan, maka bukan sesuatu yang sulit.

Mengingat peralatan yang dimiliki berupa eskavator maupun truk-truk pengangkut bahan galian banyak yang bersiliweran mengangkut hasil perkebunan kelapa sawit. Pertanyaannya kemudian, adakah niat baik untuk membantu Suku Uriya ini untuk bisa menikmati jalan tembus yang bisa mengakses pusat pusat keramaian milik PT. Sinar Mas.

Atau kurangnya perhatian terhadap Saudara-saudara kita di Dusun Witi dan membiarkan mereka tetap berada dalam kebersahajaannya atau karena warga sudah merasa puas dengan kondisi tempat tinggal yang sudah dibangun Kemensos melalui program pembinaan KAT.

Disini memang dibutuhkan kehadiran Sakti Peksos sebagai penyambung lidah dan sekaligus negosiator serta menemukenali seluruh potensi dan mencari sistem sumber. Pada gilirannya nanti, diharapkan dapat menjembatani dengan segmen pasar, agar kehidupan warga Dusun Witi dapat lebih layak dengan kondisi yang ada sekarang.

Naskah : Syakhruddin.DN.
Anggota Tim BBPPKS Eregional V Makassar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>