PAPA UCI DI RUANG ICU

Untung tak dapat di raih malang tak dapat ditolak, demikianlah kondisi yang melanda adik ipar, Muhammad Darwis, suami dari adik Sitti Rabiah.DN yang akrab di sapa Bapak UCI. Dia harus dilarikan ke Rumah Sakit Awal Bros di Makassar, sebuah rumah sakit yang cukup berkelas dengan peralatan yang lengkap. Kami datang bersama pendamping dengan menggunakan sepeda motor.

20140501_180223

Bapaknya UCI

Ironisnya dalam perjalanan ke Rumah Sakit, hujan deras di tengah jalan, kami menepi di salah satu bank di kawasan Boulevard Panakukang. Sejenak anganku melayang ke angkasa raya, seiring gemercik hujan membasahi kotaku, sang pendamping yang berdiri mematung sekitar tiga meter asyik dengan telepon genggamnya dan membicarakan tentang model-model pakaian yang akan digunakan pada pesta keluarga bulan depan.

Sementara anganku dipermainkan oleh suasana di seberang sana, dimana seseorang dengan setia menanti dan memberikan semangat untuk selalu berkarya, saling memberikan dorongan dan spirit hidup. Hujan makin deras, sementara orang yang menepi dan berlindung dari guyuran hujan semakin banyak, akan tetapi seluruh isi otak kepala masih dipenuhi dengan paras wajahnya.

“Anggun sekali, gumanku dalam hati, ” tiba-tiba ku sadar karena sang pendamping mencolekku dan mengajak melanjutkan perjalanan ke rumah sakit karena hujan mulai reda.
Tiba di rumah sakit Awal Bros yang merupakan rumah sakit milik salah seorang kandidat Cawapres ini, memang cukup refresentatif, mulai dari lahan parkir hingga sarana ibadah, terlebih lagi di kawasan ini bebas online.

Kami diarahkan memasuki ruang ICU (Intensive Care Unit), alhamdulillah Muhammad Darwis tersenyum melihat kami datang, dan langsung saya berikan sugesti, wah…. sudah bercahaya seperti anak muda, tuturku memberi semangat.

Iye Daeng, sudah tiga hari disini, kondisi saya sudah agak lumayan, insya allah besok akan pindah ke ruang perawatan di lantai 10, sebenarnya hari ini tapi di kamar 10 belum keluar pasiennya, nanti besok pagi, kata isterinya menjelaskan kepada kami.

Sekilas pandangan saya melihat perangkat minitor yang sengaja dipasangkan di dada dan memonitor denyut jantung, sementara lainnya untuk mengukur kadar gula.
Sebuah slang yang menghubungkan jalur pernafasan karena ada indikasi asma akut, semua peralatan monitor berfungsi dengan baik dan setahap demi setahap menunjukkan angka normal.

Penyakit memang tak pernah mengenal siapa, itu sudah sunnatullah, maka kesimpulannya, mari kita mensyukuri nikmat yang diterima dari Sang Khalik, nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan kepada kita semua, Alhamdulillahi rabbil alamien.

Waktu terus berlalu di ruang ICU kami sangat dibatasi, sebagaimana angan kami selalu dibatasi oleh ruang dan waktu, akan tetapi dengan kehadiran kami yang singkat telah memberikan semangat hidup pada Bapaknya UCI di ruang ICU.

Kami memang selalu memberikan spirit “Semangat Pagi” sebagaimana seseorang di kejauhan sana yang selalu menanti dorongan dan kekuatan dari sebuah ungkapan kalbu yang bernama “semangat pagi”

Renungan untuk Papanya UCI
RS Awal Bros di Urip Sumiharjo makassar
Kamis, 1 Mei 2014

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.