Zero To Zero

syakhruddin
Read Time3 Minutes, 5 Seconds

Syahdan di masa silam, ada seorang pemuda yang sedang pusing karena di saat menjelang lebaran tidak memiliki uang, berbagai keperluan yang mendesak seperti cicilan rumah belum terbayar, uang sekolah anaknya juga belum lunas, terlebih perangkat IPAD mengalami kerusakan.

Sehingga butuh perbaikan. Dengan percaya diri, Sang Pemuda melangkah meninggalkan rumahnya, baru beberapa langkah dia nyaris terjatuh, karena kakinya tersandung dengan kepingan uang logam berwarna keemasan.


Setelah diteliti, maka dibawalah ke tukang emas, sesudah diperiksa ternyata bukan emas. Namun disarankan agar dibawa saja ke kolektor uang kuno, karena uang tersebut sudah terlalu lama dan memiliki nilai sejarah yang tinggi (barang antik).

Setelah tiba di rumah sang kolektor, uang logam (benggol, red) dinilai Rp 300 ribu. Dalam hati Sang Pemuda, Dia ingin membeli lemari baru, tapi kalau lemari yang sudah siap dibeli tidak cukup dananya, maka Sang Pemuda memiliih beli balok dan papan untuk produksi sendiri. 
Sang Pemuda tadi lalu membeli balok dan papan. Dalam perjalanan pulang kerumah, dia melintas di depan rumah penjual lemari. Si penjual lemari menawar balok dan kayu yang dibawa Sang Pemuda karena bagus motif kayunya.

Berapa harga kayunya dik, ujarnya dalam nada tanya, “Saya tidak jual Pak, karena saya mau buat lemari,” begini saja, silakan pilih lemari yang ada disini, asal kayu dan papan yang Anda bawa, disimpan saja, karena saya suka motif dari kayu itu.” 

Setelah berfikir sejenak, Sang Pemuda setuju, dalam hatinya kan saya mau beli lemari ??? sekarang lemarinya sudah siap pakai, jadi tidak usah lagi repot-repot membuatnya !!! 

Kalau begitu, baiklah, silakan ambil kayu ini dan berikan lemari yang sudah siap, tapi permohonan saya, tolong pinjam gerobaknya untuk bawa pulang ke rumah.


Sang Pemuda membawa lemarinya, pulang kerumah dengan gerobak, betapa riang hatinya karena sudah memiliki lemari impiannya. Di jalan masuk ke rumahnya, di depan lorong ia tahan oleh seorang ibu yang berminat untuk membeli lemari. Harga lemarinya ditaksir Rp 4 juta rupiah. Setelah berfikir-fikir, akhirnya dia setuju dengan harga yang ditawarkan.

Lemari diserahkkan dan uang tunai Rp 4 juta sudah dikantongi. Sang Pemuda tadi kembali berjalan untuk membeli lemari di tempat yang lain. Dalam perjalanan mencari lemari, tiba-tiba dia dihadang oleh sekelompok Preman. “Mana uangmu, ini kawasan pemerasan” tidak ada uang saya, kata Sang Pemuda.

Tidak mungkin, kami disini sudah berpengalaman memeras, kami hanya melihat cara jalan seseorang, antara orang miskin, dengan orang yang berduit. Dari cara jalanmu, pasti kamu memiliki uang. 

Mana itu duit, keluarkan sekarang, ujarnya sambil menggertak. Sang Pemudapun menyerahkan kepada Preman yang memerasnya. Rupanya peristiwa itu disaksikan dari jauh oleh seorang Ibu.


Usai insiden itu, Sang Ibu lalu bertanya ??? “Apanya yang diambil ??? ujar Ibu dalam nada bertanya. Oh dia mengambil barang yang memang tiada, ujar Sang Pemuda dengan tenang. 
Maksudnya, Ibu itu semakin penasaran, tadinya kan saya tidak punya uang, dapat uang logam (benggol) kemudian bernilai Rp 300,- lalu beli lemari, kemudian lemari terjual dan harga penjualan Rp 4 juta, kini diambil Preman. Jadi awalnya memang tidak ada, jadinya Zero to Zero.

Dari tamsil diatas, dapat kita menarik kesimpulan, bahwa sesungguhnya apa yang kita miliki sekarang, hanya titipan Allah semata, semuanya sifatnya sementara dan tidak ada yang abadi.
Jadi kalau rumah nanti terjual, IPAD rusak atau jabatan dicopot, kita hanya bisa berkata ” La Tahzan (Jangan bersedih), karena sesungguhnya semua itu, berasal dari Nol dan akan kembali ke Nol.

Tugas kita sekarang, sebagai anggota jamaah Masjid Jami Al-Abrar, mari kita memanfaatkan sisa akhir ramadan 1434 H dengan lebih banyak berserah diri kepada Allah SWT. mensyukuri segala nikmat yang diperoleh, baik nikmat kesehatan, kesempatan maupun kemauan untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Demikian uraian Sang Ustaz dihadapan Jamaah Sholat Subuh, Sabtu 2 Agustus 2013 untuk menjadi bahan renungan dalam menjadi hidup dan kehidupan  di mayapada ini, Salamaki.
Salam Takzim,

www.syakhruddin.com
email : syakhruddin@gmail.com
email : syakhruddin@yahoo.co.id
SMS 081 2424 5938 PIN 2A2 FC 722
0 0
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Guru Dahlan

Postur tubuhnya yang ceking dan senyumnya yang khas, belum banyak berubah. Beliau masih tampak sehat, bahkan hingga saat ini, terkadang masih menjadi Imam di Masjid Raya Limbung. Pak Guru Dahlan Daeng Rongrong inilah yang memperkenalkan kepadaku, tentang bagaimana seseorang menjadi anggota Praja Muda Karana (Pramuka) yang handal.  Di sekitar tahun […]

JOIN US

untuk mendukung berdirinya web ini