Ittikaf

Sepuluh hari terakhir pada bulan suci ramadan merupakan saat yang tepat untuk melakukan “Ittikaf”  atau berdim diri di masjid, sebagaimana yang dilakukan junjungan kita, Nabiullah Muhammad SAW, demikian diungkapkan penceramah Prof.Dr.Syarifuddin Ondeng,MA pada malam ke-22 Ramadan 1434 H di Masjid Jami Al-Abrar Gunung Sari Makassar.

Dijelaskan, junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW pada sepuluh hari terakhir semakin giat beribadah, sebaliknya kita sebagai pengikut Muhammad, sepuluh hari terakhir, banyak yang tereleminasi, masjidpun mengalami kemajuan shaf. Oleh sebab itu, perlu menjadi renungan bagi kita semua. Tapi alhmadulillah, jamaah Masjid Jami Al-Abrar Gunung Sari Makassar, masih memiliki semangat untuk terus memakmurkan masjid, apalagi dengan kondisi bangunan masjid yang baru perlu selalu dimakmurkan, tuturnya.
Lebih lanjut Syarifuddin Ondeng, mengemukakan “Ittikaf” artinya “Diam” atau “Berhenti” yang dimaksudkan dengan kalimat berdiam diri di masjid semata-mata bertakarruf ilallah, yaitu melakukan proses pendekatan kepada Tuhan melalui berbagai rangkaian kegiatan, seperti memperbanyak membaca Al-Quran, sholat-sholat sunnah, melakukan tilawah Al-Quran sesuai dengan makhrafnya, panjang pendek atau tebal tipisnya bacaan Al-Quranil kariem, dan hal ini sebaiknya dipimpin oleh seorang yang ahli, tandasnya.

Selain itu, melalui kegiatan “ittikaf” ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antar jamaah serta saling membahagiakan diantara sesama. Sedangkan yang kedua, dimaksudkan untuk untuk memakmurkan masjid, karena itu kepada warga diharapkan senantiasa untuk selalu hadir di masjid.

Kegiatan lainnya, adalah “Taksiyah tun nas, artinya hati selalu disucikan dari segala penyakit, seperti penyakit dengki. Jika seseorang yang mengalami “sakit hati” maka melalui kegiatan ittikaf ini maka penyakit-penyakit hati seperti, takabur,angkuh,sombong dapat disembuhkan.

Selain itu, melalui kegiatan ittikaf dan amaliyah ramadan, tentunya akan menambah ilmu pengetahuan dan mudah-mudahan dengan senantiasa hati selalu terpaut di masjid, menjadikan para jamaah untuk menghimpun segala amalan untuk bekal masa depan.

Selama ramadan, tentunya pengetahuan yang diperoleh baik melalui ceramah tarwih, ceramah subuh maupun melalui siaran televisi dalam program “tafsir Al-Quran” oleh Prof.DR.Qurais Syihab, salah seorang pakar tafsir yang estiganya diselesaikan di Universitas Al-Ashar, namun dalam akhir ulasannya selalu mengikutkan kalimat, wallahualam bissawab, artinya hanya Allah yang Mahatahu.

Ini menunjukkan bahwa sikap beliau yang begitu tawaddu, amat berbeda dengan sebagian pakar kita yang seakan-akan kalau memahami sesuatu, hanya dirinyalah yang paling pintar atau paling cerdas dan orang lain dianggap tidak apa-apanya, hal ini disebutkan sebagai “kesombongan intelektual” semoga dengan kegiataan “ittikaf” ini dapat menyembuhkan segala penyakit hati yang ada dalam tubuh kita, salamaki.

Salam Takzim,
www. syakhruddin.com
email : syakhruddin@gmail.com
email : syakhruddin@yahoo.co.id
SMS : 081 2424 5938 PIN 2A2 FC 722

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *