Belajar Mengemudi

Entah siapa yang memotivasi, tiba-tiba saja, keinginannya disampaikan kepadaku, kalau dia mau kursus mengemudi. Pak, saya mau kursus mengemudi di Aliah ya ???, ujarnya dalam nada tanya, sejurus kemudian langsung kutimpali, silakan ! bagus itu. 
Bagus sih bagus…tapi bayarnya itu Papa, tutur Tri Puspita Sari yang kini duduk di Universitas Islam Negeri (UIN) jurusan kesejahteraan sosial.Mendapat jawaban yang menggembirakan, langsung menyelesaikan tugas-tugas rutinnya membantu ibunya membersihkan rumah, lalu ngacir ke Kantor Aliah untuk mendaftarkan diri sebagai siswi calon pengemudi.
Dari tarif yg disampaikan melalui SMS, diperoleh data kalau beaya kursus Rp 650 ribu sebulan dan tiap hari selama satu jam perhari, didampingi seorang instruktur. Kalau mau lengkap dengan SIM ditambah beaya Rp 400 ribu, sehingga total nilainya Rp 1.050.000,- dan dijamin bisa mengemudi dan memiliki SIM dari Polrestgabes Makassar.
Belajar adalah proses untuk pandai, oleh sebab itu, keinginan untuk belajar seorang anak harus cepat di respon, karena tantangan ke depan, bilamana usia makin lanjut, akan terbatas dalam melakukan aktifitas sebagai pengemudi, sehingga perlu disiapkan kaderisasi untuk generasi penerus.
Berbeda di zaman Penulis dahulu belajar mengemudi secara otodidak. Pemilik mobil kala itu, boleh di kata masih dapat dihitung dengan jari.Sejenak fikiran menerawang ke masa lalu, saat belajar bawa mobil truk milik orang tua, setelah memperhatikan cara-cara sopir membawa truk, beruntung karena Penulis, selalu dapat fasilitas duduk di depan dekat sopir.
Suatu ketika mobil habis di cuci, sopirnya tidur dan saya memberanikan diri untuk mengemudikan sampai depan garasi. Walau hanya gerakan maju sepanjang dua puluh lima tapi rasanya sudah puas, maklum kala itu masih terasa kikuk dan gemetar, apalagi baru pertama pegang stir.
Selanjutnya makin bernafsu dan tangan terasa gatal pengen pegang stir setiap saat. Sekali waktu, Penulis belikan rokok untuk sang sopir, setelah di terima saya meminta kepadanya supaya di jalan yang luas nanti Penulis yang bawa dan dia setuju sambil memberikan instruksi disamping Penulis.
Yang sempat teringat dari pesannya, kalau masuk lobang kurangi gas dan pindahkan gigi, setelah di lobang, tarik kopling dan gas perlahan-lahan, begitulah instruksinya, sampai akhirnya Penulis benar-benar mahir dan dipercaya untuk mengemudikan truk besar itu.
Kata orang bijak, lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena ditempuh. Dulu Penulis belajar pakai mobil truk, chevrolet 48 dengan 6 buah busi, perseneling tongkat dan stir yang sudah banyak los (artinya banyak kali putarannya) kemudian rem harus di kocok tiga kali.
Kalau ingat pengalaman pertama mengemudi, jadi geli deh? Apalagi waktu mobil laju dan lupa rem, nanti berhenti setelah kandas di pohon bambu, beruntung tidak ada yang rusak dan ayah tidak tahu insiden itu,  sampai beliau berpulang kerakhmatullah.
Di kekinian, belajar mengemudi sama mudahnya naik motor, asal nekat pasti bisa, apalagi kalau kepercayaan diri tinggi, yang penting jangan mengemudi sambil sakau karena urusannya bisa panjang.
Tentunya yang harus diingatkan pada pemula, bahwa mengemudi itu adalah sebuah seni menjalankan mobil, bilamana anda ahli dalam menjalankan mobil maka para penumpang senang dan akan tertidur didalamnya, salamaki
Salam Takzim
www. syakhruddin. com  
email : syakhruddin@yahoo.co.id  
email : syakhruddin@gmail.com  

 

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.