Gaji Pensiunan

Ada haru yang menyeruak ketika pertama kali mendatangi Kantor Pos dan Giro Cabang Mattoanging di Jalan Cendrawasih Makassar. Hari itu, Senin 8 Juli 2013 Pukul 14.00 Wita, untuk kali pertama menerima “Gaji Pensiun” Setelah mengabdi 32 tahun di jajaran Kementerian Sosial/Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar. 
Sejenak fikiran kami bawa kemasa silam dan kembali melakukan renungan akan perjalanan karier yang cukup panjang, mulai dari proses pengangkatan pada tgl 1 Pebruari 1979 sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan ditempatkan di Kanwil Depsos Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
Kemudian mutasi ke Kandep Sosial Kab. Pasir di Tanah Grogot, lalu mutasi ke Kandep Sosial Kab. Takalar di Pattalassang, terakhir masuk ke Kanwil Depsos Prov. Sulsel di Makassar. 
Lalu muncul badai reformasi yang berdampak dibubarkannya Kementerian Sosial/Departemen Sosial, kemudian kembali dihidupkan,  setelah tampuk kepemimpinan di pegang Presiden Megawati Soekarno Putri. 
Semua proses perjalanan karier, seakan terlintas indah dalam ingatan, disaat sedang duduk di bangku panjang di ruang tunggu Kantor Pos dan Giro Mattoanging. 
Sesekali menghela nafas panjang, “Akh, aku sudah pensiun”perassanku seperti saja baru kemarin mengabdi di jajaran Kementerian Sosial, padahal perjalanan waktu 32 tahun, bukan waktu yang singkat, “ujarnya sembari menyeka keringat yang mulai mengucur karena suasana Kantor Pos yang gerah. 
Kucoba bergeser duduk ke dekat pintu, sembari memperhatikan dari jauh, sang isteri yang sengaja saya ikutkan untuk mengetahui proses layanan pembayaran gaji pensiun, sehingga memberi pengalaman untuk selalu antri dalam menerima layanan. 
Jangan lagi berharap ada staf yang akan mengurus, jangan lagi menunggu hasil di belakang meja, kini semuanya telah berlalu dan saatnya untuk mengerjakan sendiri-sendiri. Disinilah terkadang seseorang bisa mengalami “Power Syndrom” bila mana tidak mampu menghadapi kenyataan hidup. 
Kalau semula, layanan dari para staf begitu cepat yang terkadang dibumbuhi sedikit marah-marah, kali ini harus antri dan diperlakukan seperti dengan janda pensiunan lainnya, yang harus duduk antri dibangku panjang,  sembari menanti namanya dipanggil. 
Mencegah suasana antrian yang panjang dan berjubel, Penulis memilih untuk tidak datang pada tanggal 4 setiap bulannya, melainkan memperpanjang jadwal penerimaan, memilih empat hari sesudahnya, sehingga selain tidak lagi antri juga membuat petugas Pos dan Giro bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat. 
Usai menerima gaji, melanjutkan ziarah kubur ke almarhumah Ibunda Sittiara Daeng Lebang di Jalan Onta Lama Makassar, sebagai rangkaian ritual tahunan sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1434 H. Di depan makam kembali tafakur setelah menatap makam dengan saksama, Wafat 19 Pebruari 1963 (50 tahun silam) 
Berarti kala itu, Penulis masih berusia 6 tahun sudah ditinggal ibu kandung. Tiga adik saya yang satu ibu, masing-masing Nurtia Daeng Sanga, Abd. Salam dan Alimuddin semua sudah mendahului, semoga di bulan suci Ramadan tahun ini, melalui doa-doa malam, kupersembahkan bacaan ummulkitab “Al-Fatihah”agar senantiasa tenang di alam kubur, Insya Allah. 
Sementara dikinian, hiruk pikuk penentuan awal dimulainya puasa Ramadan menjadi fenomena sosial yang patut menjadi catatan, setelah bukan lagi Presiden Soeharto yang memimpin, maka ketegasan akan penentuan awal puasa bahkan penentuan satu syawal selalu saja menjadi polemik yang berkepanjangan.
Karena warga Muhammadiyah yang menggunakan metode Hisab (perhitungan) sementara kalangan Nahdatul Ulama (NU) memakai pola rukyat (melihat bulan). Dimasa pemerintahan Presiden Soeharto, kedua ormas terbesar di tanah air ini, mampu di ayomi oleh pemimpin negara dan rakyat seakan satu barisan. Sekarang kita menyaksikan fenomena yang sebaliknya, semuanya mau benar dan menang sendiri, akhirnya debat kusir dan tontonan diskusi di media televise, terkadang sudah tidak menarik lagi. 
Terlepas dari kedua kondisi yang mengharu biru itu, maka Penulis memilih untuk berpuasa, sesuai dengan kalender yang dikeluarkan Muhammadiyah, terlebih lagi di Negara Arab Saudi dan Malaysia serta Negara-negara Islam lainnya, sudah memulai awal Ramadan Selasa, 9 Juli 2013.
Semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terindah, terlebih lagi sudah tidak ada beban untuk menjadi Pengurus Jamaah di Masjid Kantor yang bernama Al-Muawanah Sosial. Pasca pensiun, Penulis lebih memusatkan perhatian dan menjadi jamaah tetap di Masjid Al-Abrar Jalan Sultan Alauddin Makassar, yang kini sudah direnovasi menjadi masjid megah bertingkat tiga. 
Hanya saja, ibu-ibu yang sudah berusia uzur, tidak mampu lagi naik ke tangga tiga, sehingga pihak Pengurus masjid memberi konpensasi duduk di syaf belakang di lantai dua, sementara yang masih belia dan anak-anak langsung di giring ke lantai tiga. 
Sebelum tulisan ini berakhir, tertitip salam manis untuk segenap sanak keluarga, family dan handai tolan, baik yang ada di Kota Kembang Bandung Jawa Barat, Sulawesi Barat di Polman, dan sahabat Tagana di berbagai penjuru Nusantara.
Kami ucapkan, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1434 Hijriah, semoga Allah SWT. senantiasa memberikan rakhmat, maqfirah kepada kita semua selaku pengikut Nabiullah Muhammad SAW. dan memperoleh mandat sebagai hamba yang dibebaskan dari kobaran api neraka, amin. 
Salam Takzim,
ww.syakhruddin.com   
SMS : 081 2424 5938 PIN 2A2 FC 722

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *