Bakhtiar dan Ramli,dua orang sopir nyaris adu jotos dan menjadi tontonan gratis bagi warga yang bermukim, di simpang empat lampu merah Sungguminasa Kab. Gowa. 

Peristiwanya terjadi, Senin 20 Mei 2013 sekitar Pukul 16.00 Wita, disaat para pegawai pulang kantor dan suasana ramai di lampu merah, dimana para  pengguna jalan sedang dalam keadaan padat merayap.

Bakhtiar dengan pakaian Hansip, mengemudikan Bus DD 3172 A milik Pemkot Makassar yang mengantar pegawai pulang kantor, nyaris memukul kernet sopir truk. Sang Karnet sangat ngotot kalau Bapaknya Ramli (Sopir truk) DD 9757 NB menyerempet bus yang dikemudikan Bakhtiar. 

 Cuaca yang panas membuat keduanya hampir jasa menjadi petinju gratis dan menjadi tontonan warga dan pemakai jalan di seputar lampu merah Sungguminasa. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan, Penulis yang kebetulan berada di sekitar lokasi, langsung mendatangi, kemudian mengulurkan tangan sambil menanyakan duduk masalahnya. 

Setelah diberi pengertian, kedunya mafhum. “Begini kalau keberatan, kami arahkan ke Polisi, tapi kalau masih bisa diselesaikan segera kekeluargaan, kita bicara disini dengan kepala dingin.” Bakhtiar lalu menimpali. Tidak Pak, sebenarnya persoalan ini bisa kami selesaikan. 

Hanya ini kernet, beritegang mengatakan, saya yang salah. Padahal sangat jelas bagi penumpang saya, Pegawai yang saya antar, berteriak dalam mobil dan menyaksikan dengan mata kepala, kalau truk yang dikemudikan Ramli menyerempet kami di lampu merah sana. “ 

Oke, katakanlah, Ramli salah, apa kerusakannya dan berapa beayanya. Itu spion saya rusak.  Spion yang rusak itu, berapa harganya, ujarku dalam nada bertanya. Ramli menimpali, harganya hanya sekitar Rp 30.000,-. 

Bagaimana Pak Ramli, bisa diselesaikan harga kaca spion ???. Siap Pak, Ramli lalu menarik uangnya dari saku celananya dan mau menyerahkan uang Rp 50.000,- Namun Bakhtiar menolak, tidak usah Pak, itu nanti saya laporkan ke kantor saja. Sebenarnya, persoalannya, itu anaknya Pak Ramli yang menjadi kernet, tidak usah ngotot dan ikut campur dan kita bicara baik-baik. 

Malahan, karnetnya yang mau menyalahkan kami. “Itu yang saya tidak terima, tutur Bakhtiar kepada Penulis.” Bila demikian, saya mewakili mereka, minta maaf dan mari kita melanjutkan perjalanan, seraya saling mendoakan, semoga semuanya selamat dalam perjalanan ke depan. 

Mereka pun saling berjabat tangan dan Bakhtiar meninggalkan lokasi peristiwa, diiringi dengan pandangan mata dari warga yang menonton. Tak lama kemudian, Ramli naik ke truknya yang membawa kelapa untuk di bongkar di Pasar Sentral Sungguminasa. 

Dari insiden diatas, maka dapat kita menarik kesimpulan, bahwa pihak ketiga, terkadang bisa menjerumuskan para pihak yang bersengketa. Padahal persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan, malah bisa memanas dan menimbulkan perkelahian. Kedua sang sopir, sudah berusaha untuk saling memahami, karena kondisi alur lalu lintas yang padat, sehingga Ramli harus membanting stir ke kanan, sementara bus dari arah Makassar yang dikemudikan Bakhtiar, juga sudah telanjur masuk lampu hijau. 

Disini diperlukan juru damai. Orang lain yang tidak tersangkut dengan peristiwa tadi, ternyata keduanya dapat menerima kehadiran pihak ketiga, sebagai pembawa amanah perdamaian, penyelesaian secara adat dan saling menghargai. 

Untuk level internasional, juru damai dalam perdamaian dunia itu, bernama Yusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden R.I.) yang mengadakan pertemuan di Makassar dengan sejumlah Kepala Negara. Pertemuan yang disebut dengan CAPDI (Centrist Asia Facifik Democrat Internasional) menunjukkan kapabilitas JK sebagai Bapak Bangsa, Juru runding, Tokoh perdamaian dunia, termasuk pendamai dalam kasus Pilkada yang terkadang berujung sebagai Pilpahit bagi gagal meraih kursi nomor wahid. 

Pada kesemptan pertemuan di Makassar, Gubernur Sulsel, H.Syahrul Yasin Limpo, memanfaatkan kesempatan, dengan mengangkat Perdana Menteri Kamboja SUMDECH HUN SENsebagai warga kehormatan di Gubernuran Makassar. Sumdech diberikan kostum perang prajurit Gowa, berupa Passapu Patonro dan Badik Emas De’de Taeng sebagai sebuah simbol kehormatan masyarakat Sulawesi Selatan. 

Damai itu indah, sebuah slogan yang senantiasa di upayakan dalam sebuah konflik sosial, tapi bagi Polantas (Polisi Lalu Lintas) Damai itu berarti Rp 200 ribu, artinya diselesaikan di tempat pelanggaran. Cara seperti inilah yang kadang mengundang kritikan, demontrasi dan antipati, sehingga demo Mahasiswa di Makassar terkadang anarkis dengan membakar kantor Polisi. Merusak rambu lalu lintas, berbagai fasilitas yang ada dihancurkan, sehingga terkadang, Penulis merasa risih bila ke Pulau Jawa. 

Karena pertanyaan kawan-kawan disana, Makassar demo lagi. Ya, itulah kenyataan, itulah kondisi di kekinian. Walau sesungguhnya di balik kekerasan yang ada, masih bisa diselesaikan dengan arif dan bijak, bilamana pendekatan yang dilakukan humanis dan saling memahami. Bukan dengan senjata, apalagi dengan ancaman. 

Karena itu, mari kita mencoba untuk saling memahami, inilah yang terkadang hilang di tengah masyarakat, disebabkan para pemimpin bangsa, pemegang amanah yang seharusnya memberi suri teladan, tengah beronani dengan kekuasaannya, malahan dia yang duluan melanggar. Contoh nyata, kasus Djoko Susilo,dengan kekayaan yang tersebar dari Jakarta, Jawa Tengah hingga Bali dan sejumlah isteri yang cantik. 

Kita juga mengetahui, bagaimana partai Islam yang bernama PKS, Presidennya harus berurusan dengan KPK yang memunculkan Don Yuan bernama Ahmad Fatanah, yang ternyata juga orang Makassar. Sehingga sempurnalah, apa yang menjadi image orang di luar sana. kalau orang Makassar itu, Pa’bambangan Na Tolo (Cepat panas dan tidak menggunakan otak)

Pantas saja. Menjadi olok-olokan sahabat saya di Jawa Barat yang mengatakan, pernah diadakan kontes otak. Ketika semua otak -otak dikumpulkan, mulai dari Otak Jerman, Otak Cina dan Otak Indonesia/Makassar. Maka yang duluan laku dipasaran adalah otak Indonesia. 

Setelah ditelusuri, ternyata otak dari Indonesa, masih berat, karena jarang dipergunakan.Dari ejekan diatas itu, ternyata itu hanya sekedar anekdot, sebagai hiburan peneman minum kopi. Karena survey membuktikan bahwa juru damai bernama JK. 

Daerah ini juga melahirkan jenderal bersih yang bernama Jenderal Yusuf dari Kajuara Bone, masih ada Polisi yang punya nyali, namanya Yusuf Mangga Baranidan lebih akbar dikenal masyarakat adalah, Syekh Yusuf Al-Makassary yang menjadi Pahlawan nasional di dunia Negara.  

Mari kita mencetak Yusuf-yusuf yang lain, agar bangsa ini dapat berada dalam kondisi “bahagia dan sejahtera sebagaimana impian pendahulu kita, yang ingin menciptakan Indonesia yang sejahtera, dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, Salamaki

Salam Takzim,   

www.syakhruddin.com   
SMS : 081 2424 5938 
PIN 2A2 7FC 722  
email : syakhruddin@yahoo.co.id  
email : syakhruddin@gmail.com    

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>