Berita tentang sakitnya ibu mertua, Hj.Zainab Donding,  yang beralamat di Jalan Macan No. 25 Makassar, di terima melalui pesan singkat saat berada di Mol Panakukang, ketika sedang di pijat refleksi oleh lelaki Oval. Setelah mendengar berita duka itu, langsung tancap menuju Jalan Macan No 25 Makassar. 

Akan tetapi, adik ipar sudah mengambil sikap dengan membawa ke Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Setelah di periksa di ruang gawat darurat, ternyata tidak bisa dilanjutkan karena kamar tidak tersedia.

Akhirnya, kami segera larikan ke Rumah Sakit Akademis menggunakan mobil Suzuki Ertiga putih. Alhamdulillah, setelah negosiasi dengan pihak rumah sakit, kami ditempatkan di Kamar Satu Melati RS. Akademis Jaury Yusuf  Putra, Jalan Bulusaraung Makassar. 
Hasil analisis dokter, sementara dikategorikan bahwa ibu mertua terkena stroke ringan, sehingga perlu penanganan secara intensif. Setelah mendapat perawatan oleh tim dokter di UGD (Unit Gawat Darurat), akhirnya sang pasien dipindahkan ke kamar perawatan di Melati Satu RS.Akademis Makassar.

Peristiwa gawat darurat seperti ini bagi seorang anggota Tagana merupakan pekerjaan rutin, kegiatan emergency adalah pekerjaan harian yang butuh ketepatan waktu, kesigapan gerakan dengan koordinasi dan emosi yang terkontrol. 

Intinya jangan panik dalam menghadapi setiap permasalahan darurat. Pengalaman emergency semacam  itu, pernah terjadi di RS. Muhammadiyah Bandung Jawa Barat. Kali ini yang menjadi pasien adalah seorang Panglima Tagana dari Timur dan perawatnya juga suster khusus. 
Saking peniknya, sang susterpun harus mendatangkan Tagana dari Sumedang. Kemampuan siaga Tagana Sumedang datang membawa kursi roda. Namun sang Panglima, menolak dengan halus. Terima kasih dik, seorang Panglima tidak bisa naik kursi roda, baginya hanya ada satu pilihan, pantang tugas tidak tuntas dan jangan pernah naik kursi roda, ungkap Herman yang tengah berseloroh di depan kamar Unit Gawat Darurat yang disampaikan kepada adik-adiknya yang sedang berkerumun. 
Sementara menunggu di ruang gawat darurat RS.Akademis Makassar, tiba-tiba datang seorang Polisi bersenjata lengkap dengan membawa seorang perwira Polisi yang terkena anak busur panah pada kaki sebelah kanan. Sejurus kemudian, berdatangan sejumlah anggota Polisi Perintis dari Polrestabes Makassar. Korban anak panah (busur) ini, masih terkait dengan insiden perkelahian antar kelompok di Jalan Kandea Makassar. 
Pertanyaan kemudian, kenapa masih sering terjadi perkelahian kelompok di kawasan kumuh. Ternyata karena kemiskinan masyarakat perkotaan, kurangnya akses dan lunturnya semangat kesetiakawanan sosial. 
Semua ini tentu membutuhkan sentuhan tangan dari para Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Namun dalam upaya penanganan yang terpadu, dibutuhkan kehadiran tokoh masyarakat dan pemimpin yang memiliki perhatian serta konsep yang jelas untuk menuntaskannya. 

Namun amat disayangkan, karena anggaran yang sangat terbatas dan personil yang masih butuh sentuhan pengetahuan profesi pekerjaan sosial, kedua hal tersebut diatas, kini tengah berada dalam suasana “GAWAT DARURAT” sebagaimana kondisi ibu mertua, yang membutuhkan penanganan yang cepat, taktis dan tidak panik, salamaki.
salam takzim,

www.syakhruddin.com 
SMS : 081 2424 5938 PIN 2A2 7F 722 
Email : syakhruddin@gmail.com  
Email : syakhruddin@yahoo.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>