Santri Gombara Tewas Di Sidrap

Empat orang anak santri yang sedang mengikuti Perkemahan English Camp dari tgl 21 s/d 26 April di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Desa Cipo Takari Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) berujung maut. 
Keempat santri yang tewas masing-masing, Magfira (13 thn) asal Makassar, Sulfiani Dwi ( 13 thn) asal Makassar, Muhlisa (13 thn) asal Sidrap dan Ayunita (16 thn) asal Makassar. Sementara 4 korban dalam keadaan kritis masing-masing, Muliati (15 thn) asal Riau, Nurul Annisa (13 thn) asal Makassar, Nurfadillah ( 13 Thn) asal Makassar dan Reski (14 thn) asal Makassar. 
Saat ini sedang di rawat di Rumah Sakit Arifin Nu’mang Sidrap. Sementara dua orang korban lainnya, belum teridentifikasi. Tragedi English Camp di Desa Cipo Takari Sidrap, saat peserta melakukan fieltrips melintasi sebuah Danau pada hari Kamis, 24 April 2013 Pukul 14.00 Wita. 
Kedalaman Danau di bagian pinggir 1,8 meter tetapi di bagian tengah mencapai 3 meter. Semua korban ternyata tidak bisa berenang, hal inilah yang disesalkan sejumlah pihak yang tidak memperhitungkan kondisi peserta latih. Kepolisian Sektor (Kapolsek) Panca Rijang yang dibantu aparat Polres Sidrap, masih tengah menyelidiki kasus tersebut. 
Pengurus Yayasan Gombara, Iqbal Djalil anggota DPRD Kota Makassar, sskaligus kandidat balon Walikota Makassar mengatakan, seluruh santriwati yang meninggal dunia adalah siswi Ponpes Darul Amman Gombara Makassar, pihak pengurus menyiapkan perlengkapan jenazah, ambulans untuk mengantar jenazah, tiga orang diantara jenazah akan dimakamkan di Kompleks Pemakaman di belakang Pesantren Gombara, sementara Anna Mukhlisa, siswi Kelas I SMA Ponpes Gombara dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Sidrap. 
Panitia pelaksana, Muhlisa kepada Pers mengatakan, insiden ini terjadi, saat peserta melintasi cekdam. Menurut dia, sebetulnya kedalaman cekdam di bagian pinggir 1,8 meter, mungkin di bagian tengah cukup dalam dan ternyata sebagian peserta tidak bisa berenang, inilah yang disesalkan sejumlah pihak, karena Panitia tidak memperhitungkan kondisi dan faktor keselamatan peserta yang tidak tahu berenang. 
Lain halnya dengan Tasrifin dari Banyumas Jawa Tengah, selain  pandai menyelam karena anak nelayan, sekaligus mampu mengambil alih tugas orang tua, menjaga dan memberi makan adiknya. 
Kisah pilu bocah Tasrifin yang berusia 12 tahun, putra Sartijo warga Dusun Persawahan Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah, tiba-tiba mencuat kepermukaan dan menjadi buah bibir nasional. 
Betapa tidak, Tasrifin bersama tiga orang adiknya yang tertua 9 tahun, yang nomor dua 8 tahun serta yang nomor tiga berusia 6 tahun, ditinggal oleh ibunya, akibat tertimbun longsor sewaktu bekerja sebagai penambang pasir. 
Ayahnya karena ketiadaan modal, berusaha kemudian hijrah ke Kalimantan, hingga Tasrifin mengambil alih tugas orang tuanya untuk menjaga dan memberi makan kepada ketiga adiknya. 
Akibatnya Tasrifin harus rela meninggalkan bangku sekolah dan mencari sesuap nasib untuk ketiga adiknya. Terhadap kisah miris yang menimpa bocah Tasrifin, memberi hikmah dan pelajaran kepada kita semua. 
Keikhlasan Tasrifin dan mengabaikan kesenangan yang harus dinikmati dimasa kecil, ditepisnya demi kepentingan adik-adiknya. Tasrifin bekerja keras, membanting tulang untuk sekedar makan, bagi adik-adiknya, kadang menjadi buruh nelayan dengan bayaran yang sangat murah atau diganti dengan beras untuk sekedar makan dua kali bersama adik-adiknya. 
Fenomena Tasrifin sungguh menggores perasaan kemanusiaan. Hikmah kepedulian yang dicontohkan Tasrifin sangat berbanding terbalik dengan kebanyakan orang, yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara merugikan orang lain. 
Mereka terjerumus dalam perbuatan nista,demi memanjakan nafsu individunya, seperti prilaku Preman yang memalak, perampokan, pencurian dan berbagai kejahatan lainnya yang merupakan penyakit sosial (patologi) yang masih selalu terjadi dalam kehidupan sosial. 
Tasrifin dan tiga adiknya, Riyanyi (9 thn), Dandi (7 tnn) dan Daryo (5 thn), kini telah menjadi perhatian publik berkat pemberitaan, baik melalui akun twiter SBY maupun info media televisi Trans7, dalam acara Hitam Putih ysng disiarkan secara nasional, Kamis malam 25 April 2013. 
Kisah hidup Tasrifin, menjadi tamsil bagi kita semua, sebagaimana diserukan dalam Ar-quranil kariem dalam surah Al-Kawthar, yang berbunyi : “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhan-Mu dan berkorbanlah, sesungguhnya orang-orsng yang membenci kamu dialah yang terputus. 
Semoga dengan tragedi maut yang menimpa siswa Ponpos Gombara di Sidrap dan Fenomena Tasrifin di Banyuwangi, senantiasa mengusik sisi kehidupan kita di mayapada ini, dalam nuansa semangat kesetiakawanan sosial yang dewasa ini, makin memudar dalam kehidupan, salamaki.


Salam Takzim

www.syakhruddin.com

SMS 081 2424 5938  Pin 2A2 7F 722

Email : syakhruddin@gmail.com

Email : syakhruddin@yahoo.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *