Jenderal adalah salah satu pangkat dalam ketentaraan. Dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI), pangkat Jenderal digunakan oleh TNI Angkatan Darat dan dilambangkan oleh bintang.

Jenderal dapat berarti sekelompok pangkat-pangkat yang mengandung kata ‘jenderal’ yang disebut juga perwira tinggi, atau dapat juga berarti salah satu pangkat dari kelompok pangkat-pangkat tersebut yang dilambangkan oleh empat bintang.

Sosok Jenderal, adalah seseorang yang telah memperoleh pendidikan dan latihan yang mumpuni, sehingga dapat meraih gelar sebagai seorang yang berpredikat “Jenderal”.

Di lapangan sepakbola, kita mengenal nama-nama beken, seperti Maradona, Messi dan Ronaldo, merupakan Jenderal lapangan hijau yang mampu mempertontonkan permainan sepakbola.

Menyatukan seni dan tehnik bermain tingkat tinggi, sehingga kepadanya diberikan label jenderal lapangan hijau, dalam beberapa pertandingan sepokbola yang digulirkan oleh para industriawan bola mancanegara.

Di KPK, seorang Inspektur Jenderal Irjen) Pol. Djoko Susilo, mantan Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Indonesia,  yang kesandung kasus “Simulator Kemudi” harus pasrah menerima nasib, semua barang miliknya dikategorikan hasil korupsi. 

Harta bendanya yang tersebar dari kampung halaman, di Jeron Beteng Yoguakarta  sampai Tabanan di Kuta-Bali, Dua belas buah rumah mewah, empat mobil, lahan pertanian di Jawa Timur dan seorang isteri yang tercatat resmi di instansinya, dan dua lainnya yang dinikahi dengan diam-diam, termasuk mantan Putri Solo, yang dinikahi dengan mahar Rp 15 milyar, kini  visa perjalanan keluar negerinya, sudah diblokir pihak Dirjen Bea & Cukai. 

Pendek kata “Sang Inspektur Jenderal” yang satu ini menjadi bulan-bulanan  pemberitaan media massa. Mantan Gubernur Akademi Kepolisian yang cukup rajin berumah tangga, harus pasrah menjadi buah bibir nasional, sebagai resiko dari sepak terjangnya. Hingga kelak, Sang Inspektur Jenderal yang ganteng ini,  memasuki “Hotel Prodeo” pascapemeriksaan di KPK pimpinan Abraham Samad.

Lain halnya dengan tujuh orang mantan Jenderal bersilaturahmni ke Cikeas.  Para Jenderal ini, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhiyono, yang merupakan senior dan adapula yuniornya di Akademi Militer. Sebelumnya, telah menghadap Bapak Jenderal Sutrisno, dalam kapasitas sebagai Ketua Partai Gerindra.

Ketujuh 7 purnawirawan Jenderal yang menemui orang nomor satu di republik ini, pada Rabu (13/3) adalah, Luhut Panjaitan, Subagyo HS, Fahrul Rozi, Agus Wijoyo, Johny Josephus, Sumardi, dan Suaidi Marasabessy.

Selain temu kangen sebagai alumnus  pendidikan militer, pertemuan tersebut disinyalir bukan pertemuan biasa, apalagi jabatan Presiden SBY, karena kehendak Undang-Undang, harus mengakhiri masa jabatan periode kedua tahun 2014 mendatang.

Dengan sendirinya harus mempersiapkan lebih dini kader pengganti beliau. akan tetapi pertemuan itu, mendapat tanggapan dari para politisi dan penantang lainnya yang menyaksikan pertemuan itu, dengan konotasi bahwa kepemimpinan SBY sekarang telah gagal.

Mengingat sejumlah Menteri dan perngurus teras Partai Demokrat terlibat skandal mega korupsi, termasuk didalamnya “Skandal Bank Century” yang dananya diduga dipergunakan untuk pemenangan pasangan “SBY-Budiono” sehingga patut kiranya,untuk dilakukan penggantian kepemimpinan, agar bisa berada di jalur yang benar.

Sejumlah kalangan menyebutkan, kalau langkah memberhentikan Presiden sebelum akhir masa jabatan, adalah sebuah langkah yang kurang bijak, karena beliau  dipilih oleh rakyat Indonesia. 

Akan tetapi, hal itu juga menjadi catatan penting bahwa bilamana dalam pelaksanaan pemerintahan, Presiden menyimpang dari rel, maka wajib hukumnya, untuk mengganti dan mengembalikan kepada jalannya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, bukan seperti impian Jenderal Nagabonar yang kesohor karena ulah kocaknya.

Ke tujuh Jenderal itu, merekomendasikan kandidat Presiden sebagai hasil survey, masing-masing ;

  1. Yusuf Kalla
  2. Jokowi
  3. Prabowo Subianto
  4. Megawati Soekarno Putri
  5. Mafhud, MD
  6. Aburizal Bakrie
  7. Suaidi Marabessy

Sementara itu, HMI sebagai sebuah organisasi yang pernah dipimpin oleh Anas Urbaningrum, dengan jelas menolak kehadiran Presiden SBY di Kongres HMI Jakarta, bilamana dipaksakan hadir, maka sebuah gerakan lempar sepatu akan berlangsung.


Sebuah ancaman buat seorang Presiden Indonesia di era reformasi, kalau di masa Pemerintahan Soeharto, sikap seperti ini, maka yang mengancam,  langsung berhadapan dengan Tim Anti Teror termasuk didalamnya para Penembak Misterius (Petrus).

Belum usai kasak-kusuk mengenai pertemuan para mantan Jenderal di Cikeas, tiba-tiba harga bawang merah dan bawang putih melangit, hingga mencapai seratus persen, di pasaran harganya sekitar Rp 70.000,- hingga Rp 90.000,- per kilo gram.

Presiden menjadi cemas, Menteri Pertanian di tuduh tidak kafabel, Presiden marah dan rakyat menanti turunnya harga. seiring dengan perjalanan waktu yang semakin dekat dengan masa Pemilihan Presiden di tahun 2014.

Rakyat sudah mulai disuguhi janji-janji politik baik oleh para Ketua Partai Politik (Parpol) maupun para Jenderal, yang akan bertarung di Pilpres nanti. Masih akankah kita memilih seorang “Jenderal” untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Akankah kita kembali memilih ketua partai, atau sebuah kombinasi antara seorang Jenderal dan seorang birokrat, sehingga mampu membawa negeri ini menuju sebuah Indonesia baru, Wallahu Alam, Salamaki.

salam takzim


www.syakhruddin.com
SMS : 081 2424 5938 PIN : 2A2 7F 922
Email : syakh01@tabloidbawakaraeng.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>