Tersebutlah nama Daeng Taco, perempuan paruh baya, dari Desa Bonto Ramba Kabupaten Takalar. Taco mengelilingi Kota Makassar, berjualan “Penampi Beras” atau Tampi yang dalam bahasa Makassar disebut “Pattapi atau Paddinging”.
Dimasa lalu, kalau seseorang membeli “Paddinging” maka dia harus menghitung ikatan yang ada dipinggirnya, dengan memulai hitungan, 
Bassoro,cipuru,bassoro,cipuru”  begitulah hitungan yang dilakukan, hingga akhir lilitan dari penampi. Bila berakhir dengan kata “cipuru” (lapar), maka penampi itu ditinggalkan. Akan tetapi, bila hitungan berakhir dengan “Bassoro” (kenyang), maka tampi lalu di tawar, tampi itu, diyakini akan membawa rejeki, beras yang akan ditampi selalu ada rejekinya, itu menurut kepercayaan yang masih hidup dalam komunitas warga dipinggiran Kota Makassar.
Dengan kemajuan tehnologi, penampi ini mulai tergerus zaman, sekarang sudah dalam bentuk “beras packing” dan dijual dalam ukuran lima kiloan di supermaket yang tersebar di  Kota Makassar. 
Namun pada kawasan pinggiran kota, penampi ini masih setia digunakan oleh warga masyarakat. Itulah yang membuat, Daeng Taco memasarkan dagangannya dengan memikul tampil ke lokasi yang dianggapnya pangsa pasar yang membutuhkan dagangannya.  
Daeng Taco (47 thn) menawarkan harga tampi Rp. 17.000,- setelah ditawar oleh ibu-ibu yang menjadi calon langganan, melepas dengan harga Rp 15.000,- per buah. Sebenarnya barang ini, saya juga beli di Pasar Pattalassang Takalar. 
Selanjutnya tampi dipasarkan ke Kota Makassar, dengan harga Rp 15.000,- bila rejeki sedang baik, maka Daeng Taco dapat memasarkan sekitar 20 buah perhari, itu setelah di potong untuk modal Rp 10.000,- per buah, biaya angkut mobil pete-pete dari Takalar ke Makassar, makan  di jalan, maka Daeng Taco dapat memperoleh hasil bersih Rp 3.500,- per buah.
Bagi Daeng Taco (47 thn) yang suaminya bernama Daeng Noto,  tidak dapat bekerja karena kondisi kesehatannnya yang mengharuskan istirahat dirumah. Taco berinisiatif, mengambil alih tugas sebagai kepala rumah tangga dan menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga. 
Lewat tetesan keringatnya, Taco memasarkan tampi keliling kota untuk membiayai sekolah anaknya, kondisi yang sama juga dialami oleh seseorang yang nun jauh disana, beliau harus menyingsingkan lengan baju, demi anak dan suami yang bertugas membenahi rumah, bahkan terkadang meninggalkan isteri dan kembali ke rumah orang tuanya, sungguh ironis.
Daeng Taco, perempuan tegar dari Takalar, tak pernah mengeluh akan panasnya mentari dan dinginnya  air hujan yang menerpa tubuhnya yang ringkih. Prinsip hidupnya, rejeki harus di jemput di rumah pelanggan, makanya pembeli harus di datangi di rumah mereka, baik di kompleks perumahan maupun di kawasan pinggiran kota, sambil berteriak, Pattapi berasa…..pattapi berasa… sambalu” (Penampi beras, penampi beras, wahai langganan).
Sesekali suaranya lirih, membuat kita iba mendengarnya. Daeng Taco harus memaksakan diri untuk tersenyum, saat di panggil oleh calon langganannya, namun di balik senyum  itu, sulit untuk menyembunyikan jeritan batin yang dialaminya. 
Daeng Taco, adalah sosok perempuan yang tegar menerima kenyataan hidup, dia jalani dengan tekun, persoalan jualan laku atau tidak, baginya terus bertekad mencari rezeki demi suami dan lima orang anaknya.
Dua diantaranya sudah berumah tangga dan tiga lainnya masih sekolah dan membutuhkan biaya.
Andai saja Pemerintah Kabupaten Takalar melalui Institusi Sosial yang ada di daerah itu, mau mendata mereka dan memberi modal kerja melalui Program Kube Fakir Miskin, maka Daeng Taco dapat meningkatkan produksinya. Atau andai saja, Partai Politik yang selama ini gemar beriklan untuk membantu ekonomi rakyat, mau dan ikhlas membantu Taco-toca yang tersebar di daerah ini, maka Daeng Taco tentu masuk katogori yang layak terima. 
Taco adalah profil perempuan tangguh yang mampu menepis rasa malu yang membelenggu dirinya, berani memikul tanggungjawab, sebagaimana keberaniannya memikul tampil jualannya mengelilingi Kota Makassar. 
Dia tak lagi memperhatikan derunya suara mesin mobil angkutan kota dan suara knalpot bentor (becak motor) yang bersilewaran mencari penumpang.
Demikian halnya  dengan  kompotitornya Daeng Taco. Seseorang lelaki paruh baya yang akrab disapa MAS, juga berjualan barang yang sama, bahkan lebih lengkap,  jualannya mulai dari tampi hingga bak sampah,. Pedagang yang satu ini, memakai sepeda dan  banyak pilihan yang dijajakan, berbeda dengan Daeng Taco, hanya Tanpi bersama semangat juang yang tak pernah pudar.
Saat melintas di Kawasan Perumahan Andi Tonro Kelurahan Pa’Baeng-Baeng Makassar. Cuaca sedang rintik, Daeng Taco mencari tempat untuk berlindung dan mampir kerumah untuk menjajakan jualannya. 
Semula kami tak berminat membelinya, namun melihat pikulannya masih berat, Saya menyarangkan untuk membelinya dua buah. Kiallemi anne rua, kibayarami tallung pulo sabbu,” Silakan diambil dua buah, di bayar saja Rp 30.000,- ujarnya dengan nada sedikit berharap.
Kami membayarnya dengan tunai, Daeng Taco begitu bahagia menerimanya, bahkan melengkapi dengan memberinya biskuit untuk dibawa pulang ke Takalar, dengan satu permintaan, bisa di foto bersama jualannya. 
DaengTaco langsung pasang aksi dan siap di foto dengan kondisi apa adanya. Kini jualannya sudah berkurang, karena kami membelinya dua buah. Wajahnya sumringah, namun dibalik senyumnya itu tersimpan derita batin mendalam, Daeng Taco (47 thn) harus terus berjuang mencari rejeki halal, dibalik relung-relung kehidupan, salamaki.
salam takzim,
SMS : 081 2424 5938 PIN 2A2 7F 722
Email : syakh01@tabloidbawakaraeng.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>