Ayam Ketawa Apel Pagi

Setiap hari selalu ada saja nuansa kegembiraan, membuat hati menjadi riang. Kali ini, ceritera tentang “Ayam Ketawa Apel Pagi” beberapa hari terakhir ini, setiap pulang dari sholat subuh bersama jamaah Masjid Al-Abrar, ANE melanjutkan olah raga naik sepeda ke Pantai Losari.
Tiba di rumah tepat Pukul 07.30 Wita, setelah menikmati “kopi dan kue khas Makassar, berupa “Putu cangkiri” kemudian menuju ke samping rumah, sambil membawa “Jagung makanan ayam” 
Serentak ayam peliharaan itu berkotek, ribut sekali. Seekor diantaranya, berkotek sambil mengeluarkan vocal, laksana sedang tertawa yang sangat panjang.
Ada juga yang memelas, yang satu ekor, malah loncat-lancat dalam kandang. Semua tingkah ayam ini, sepertinya ini menyantap, jagung yang ada dalam kantongan plastik, tidak sabar lagi, dan tingkahnyapun bermacam-macam.
Semakin lama saya tatap, semakin kuat mereka berkokoh, seperti anggota saja, Anggota Korpri yang sedang memberikan penghormatan umum kepada Irup. 
Suaranya makin rebut, sampai ada yang mengeluarkan “maaf” kotoran ayam dan langsung jatuh ke kolam ikan, selanjutnya ikan Nila piaraan itu, langsung menyantap kotoran tadi sambil menari dalam kolam.
Semua pemandangan ini, menjadi hiburan di pagi hari. Sang Ayam lalu diberi jagung, sambil makan dan menikmati jagung, sambil berkokok-kokok, seakan mengucapkan terima kasih kepada tuannya.
Untuk sekedar refreshing, sesekali ayam ketawa di lepas, tapi menggunakan tali di kakinya.
Ada seekor ayam ketawa, begitu dilepas langsung menuju ayam betina yang sengaja tidak dikandangkan. Betapa lincahnya mencari pasangan, bahkan memburu hingga “syahwat ayamnya” tersalurkan pada kesempatan pertama. 
Kami dapat merasakan kondisi ayam, kalau selama ini selalu dikandangkan, pada begitu ada kesempatan, sang ayam tak akan menyia-nyiakan.
Lain halnya dengan Aceng HM Fikri, Sang Bupati Garut di Jawa Barat, begitu pula dengan Muh. Natsir, Ketua DPRD Enrekang, beliau berdua tidak dikandangkan. Malah dilepas, merdeka dan bebas menentukan jalannya.
Hanya saja, amat disayangkan karena kebebesan itu telah disalahgunakan, akhirnya petinggi di negeri ini, melengserkan dirinya sebagai bupati, sementara Ketua Parlemen di Enrekang, Muh. Natsir kini terancam jabatan, karena dianggap mencoreng partai yang berlambang “Pohon Beringin”.
Dari dua fenomena yang ada, antara ternak ayam dengan para petinggi, ternyata keduanya masih tersangkut dengan “syahwat” untuk disalurkan dengan tertib.
Persoalan yang muncul kemudian, karena aspek pengendalian yang kurang terkontrol, ujar salah seorang jamaah Masjid Al-Abrar, “Sesungguhnya Iman sudah Aman, akan tetapi si “Emen” yang selalu gelisah dan perlu penyaluran segera.
Disaat seseorang berada di puncak kebahagiaan, maka semua akan dianggap mudah dan remeh, termasuk kawin dengan “daun muda” sebagaimana dengan kondisi tanaman teh di Subang-Jawa Barat, yang tidak pernah tinggi batangnya, karena setiap daun muda muncul, langsung dipetik oleh jari manis, dari para pemetik teh di Subang.
Kembali ke ayam ketawa tadi, setelah melakukan hajatnya, saya langsung mengambilnya, lalu mencuci badannya dan selanjutnya kembali dikandangkan, setelah kandang bersih.
Sang ayam sudah berada dalam kandang, sambil “tertawa terbahak-bahak, sebagaimana anda saat ini, “tertawa membaca tulisan ini” salamaki.
www.syakhruddin.com
SMS : 081 2424 5938 PIN 2A2 7F 722
email : syakh01@tabloidbawakaraeng.com

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *