Kisah perjalanan kepemimpinan Bupati Garut Prov. Jabar, memasuki babak penutup, seiring diterimanya, Surat Keputusan Presiden SBY, yang melengserkan dirinya sebagai orang nomor satu di Serambi Pasundan, seiring diterimanya Surat Keputusan tentang pemakzulan dirinya,  Senin 26 Feb. 2013 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat.
Aceng yang lahir di Garut, 6 September 1972, telah dikarunia 4 anak dari isterinya yang bernama Nurrohmah, akan tetapi pernikahannya yang berumur 4 hari dengan Fany Octara (18 thn), adalah sebuah bentuk perilaku pelecehan, penghinaan dan kesewenang-wenangan terhadap perempuan.
Aceng HM. Fikri yang doyan daun muda, menerima konsekwensi jabatan karena ulahnya sendiri, melakukan nikah siri dengan wanita Sunda, berakhir dengan perceraian melalui SMS. Sebuah tragedi rumah tangga, setelah mereguk “manisnya keperawanan” dari sang gadis, lalu memutuskan melalui SMS.
Upaya Sang Bupati Aceng dengan melakukan “Islah” setelah sejumlah LSM melakukan “protes keras” akan tindaktanduk Bupati yang senang “daun muda” termasuk protes dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, namun tidak dapat menolong dirinya, keluar dari kemelut yang membelenggu dirinya, apalagi Wasekjen DPP Golkar Nurul Arifin, dengan tegas meminta peenjelasan dari DPD Golkar jawa Barat, yang menjadi tempat bernaung Aceng HM. Fikri.
DPRD Garut bersama segenap jajarannya melakukan sidang impeachment,menggugat Sang Bupati yang rajin memakai kopiah hitam dan baju koko, demikian pula lawan politiknya, mengugat Aceng di Polda Jawa Barat, sehingga Alumni dari Institut Agama Islam Al-Musaddadiyah Garut (IAIM) ini, harus berjuang keras mempertahankan jabatan, namun sayang, karena nasi sudah menjadi bubur.
Akhir dari perseteruan itu, sudah dapat diterka, Aceng HM Fikri dilengserkan oleh Presiden R.I. dan penyerahan Surat Keputusan telah diserahkan melalui Gubernur Jawa Barat, Senin 26 Feb 2013 disaksikan unsur Muspida Jawa Barat.
Tindakan Aceng yang melanggar Undang-undang perkawinan, berakhir dengan “pemakzulan” dirinya, sebuah resiko jabatan, Acengpun harus ikhlas melepas Lambang Garuda yang selama ini melekat didadanya.

Lain halnya dengan Ketua DPRD Enrekang, Andi Natsir yang terancam dipecat oleh partainya, karena diketahui melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan menceraikan isteri yang telah memberinya tiga orang anak.

Andi Natsir kawin dengan daun muda, gadis yang bernama Andi Ernawaty (19 thn), ternyata sang isteri baru itu, adalah mantan pacar anak sulungnya. Tindakan Ketua Parlemen Kab. Enrekang ini, dinilai mencoreng partainya, Partai Golongan Karya, sehingga Ketua DPD I Golkar Sulsel, yang dipimpin Syahrul Yasin Limpo, memerintahkan untuk menginvestigasi peristiwa pribadi yang melanda Andi Natsir, yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Golkar di Kab. Enrekang.
Sesungguhnya Andi Natsir digadang-gadang menjadi bakal calon Bupati Enrekang, bahkan balihonya sudah menghiasi Bumi Masserempulu mulai dari pintu gerbang di perbatasan Sidrap hingga ke perbatasan Kab. Tana Toraja.”
Bilamana partainya, menetapkan melanggar kode etik dan disiplin, maka Andi Natsir, dipastikan gagal mendapatkan mandat dari Golkar, pada gilirannya akan mendapatkan label, “Layu Sebelum Berkembang”
Kedua fenomena sosial yang terjadi, rata-rata terkait soal “Wanita”maka benarlah apa yang sering diingatkan pendahulu kita, hatihati dalam memimpin, karena seorang itu jatuh dari puncak kepemimpinan, disebabkan karena 3 TA yaitu Harta, Tahta dan Wanita.
Kini kedua pejabat publik, menghiasi pemberitaan media, baik surat kabar maupun elektronika, menjadi buah bibir masyarakat dan membebani fikiran bagi pelakunya. Ternyata  kedua sang pemimpin itu, tidak sanggup menjalankan amanah rakyat dan mereka termasuk manusia yang lupa daratan, semoga kedua peristiwa ini, menjadi tamsil yang nyata bagi kita, untuk tidak mengikutinya, salamaki.
Salam Takzim,
www.syakhruddin.com
SMS 081 2424 5938 PIN 2A2 7F 722

email : syakh01@tabloidbawakaraeng.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>