Seminar Internasional Pekerja Sosial dengan tema “Profesionalisme Pekerja Sosial Di Era Persaingan Bebas” berlangsung di Bosowa Managemen Devolopment Institute (BMDI), Sabtu 23 Peb. 2013, dihadiri Sekjen Kemsos, diwakili DR.Hj.Sahawiah Abdullah,M.Si
Empat narasumber, masing-masing Prof.Martha Heffey,MSW,DSW,LCSW dari Amerika Serikat, Miryam Nainggolan,P.Si,M.Sw selaku Sekjen Konsersium Pekerja Sosial Indonesia (KPSI), Drs.Tata Sudrajat,M.Si Ketua Ikatan Pekerja Sosial Professional Indonesia (IPPSI) dan DR.Hj.Sahawiah Abdullah,M.Si (Anggota Dewan Pakar KPSI) bersama moderator tunggal, Nurul Eka Hidayati,M.Si
Sekjen Kemsos diwakili Sahawiah Abdullah mengatakan, keberadaan profesi pekerjaan sosial sudah setengah abad di Bumi Pertiwi Indonesia, saat ini terdapat 35 sekolah dengan latar belakang bidang pekerjaan sosial.
Oleh sebab itu, komunitas pekerja sosial yang dikoordinasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Tamalanrea Makassar,  menyelenggarakan seminar internasonal di Kota Daeng-Makassar, ini suatu kemajuan. Ke depan “Semua Pekerja Sosial (Social Worker) harus bersertifikasi”, sebagaimana tuntutan dari Undang-Undang No.11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Dalam paparannya, Prof.Martha Heffey menegaskan, perbedaan antara pekerja sosial professional dengan yang bukan professional itu, terletak pada kode etik, standar kurikulum, harus ada pengetahuan, regulasi dan adanya pengakuan negara terhadap profesi dimaksud, di Indonesia profesi pekerjaan sosial telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah.
Dalam prespektif pekerjaan sosial di masing-masing Negara itu berbeda-beda, namun ada kesamaan, diantaranya adanya perubahan sosial (social change), persamaan, pembebasan, intervensi dan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitar dan mencegah disfungsiserta meningkatkan hubungan individu, keluarga dan masyarakat.
Dikatakan oleh Martha dalam penyajiannya yang menggunakan Bahasa Inggeris dan dialihbahasakan oleh Miryam Nainggolan,P,Si,M.Sw bahwa professional mempunyai cara kerja yang sistematik, terarah, penetapan tujuan serta evaluasi, dari sebuah proses pemberian bantuan. 
Salah satu fungsi yang harus dijalankan adalah relasi sosial yang menimbulkan perasaan empati terhadap klien, membangun kepercayaan, penerimaan dan tidak menghakimi, refleksi serta kerahasiaan klien yang harus dijaga, tutur Martha.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI)  Drs.Tata Sudrajat,M.Si mengatakan, salah satu tantangan bagi pekerja sosial di tanah air adalah bagaimana peran social worker professional dalam pembangunan kesejahteraan sosial, terutama dalam menghadapi Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2015, satu diantaranya adalah penguasaan Bahasa Inggeris bilamana mau berperan diberbagai negara di Asia Tenggara. 
Ditambahkan oleh Sekretaris Konsersium Pekerja Sosial Indonesia (KPSI) bahwa dalam menyongsong era AFTA 2015, pihak KPSI telah melakukan langkah, menghimpun kekuatan yang ada, terutama yang memiliki akses di bidang kesejahteraan yang dimotori Kementerian Sosial, pihaknya telah melaksanakan Konferensi “ASEAN” Consersium of Social Work in Manila, March 2011 dengan hasil Kerangka “ASEAN” Consersium of Social Work Pratitioners, Educator And Schools” sebuah kerjasama supra-legal Indonesia dan telah menerbitkan jurnal pekerjaan sosial dalam Bahasa Inggeris.
Pada kesempatan tanya-jawab dengan peserta seminar terdiri dari Mahasiswa STIKS, Pimpinan Panti Asuhan, Para Pekerja Sosial, Dinas Sosial Kota Makassar dan komponen sosial yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan dan Kota Makassar. Narasumber memberikan ulasan yang mendalam tentang pentingnya penanganan masalah kesejahteraan sosial yang berbasis masyarakat.
Di penghujung acara seminar, Pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Tamalanrea Makassar, Drs. Husain Yusuf  menyerahkan cindera mata kepada para narasumber dari Jakarta, dan semua peserta mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Prof.Martha dari Amerika Serikat, Ketua IPSPI dan Ketua STIKS Tamalanrea Makassar, dilanjutkan dengan pengukuhan Pengurus Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Provinsi Sulawesi Selatan, masa bakti 2011-2014 yang dipimpin DR.Hj.Ronawati Anasiru,M.Si dibantu Tim Pengarah dan Pengurus harian lainnya.
Pelaksanaan acara berlangsung lancar, dihadiri Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, DR.H.Burhanuddin, Pimpinan UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kementerian Sosial, termasuk Drs. Aladin, pimpinan baru Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Wirajaya Makassar dan sejumlah undangan yang memenuhi ruangan Lantai V Bosowa Managemen Devolopment Institute (BMDI) di Jalan Lanto Dg Pasewang Makassar.
Adapun sekolah dan Perguruan Tinggi yang membuka bidan profesi Pekerjaan Sosial (Social Worker) di Kota Makassar, diantaranya Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Tamalanrea di Jalan Amana Gappa Makassar, Univer Islam Negeri (UIN) Makassar pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Kesejahteraan Sosial dan Universitas Teknologi Sulawesi (UTS) Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Kampus Borong Raya Makassar, termasuk Universitas Hasanuddin  di Fakultas Sospol Jursan Sosiologi dengan konsentrasi kesejahteraan sosial kerjasama Kementerian Sosial R.I. 

Salam Takzim,

www.syakhruddin.com
SMS 081 2424 5938 PIN 2A2 7F 722
email : syakh01@tabloidbawakaraeng.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>