Usai sholat subuh, segera kupersiapkan sepeda yang sekian tahun tak pernah digunakan, sehari sebelumnya, sepeda tersebut sudah dibenahi oleh adik ipar. Selain membersihkan seluruh komponen yang tertutup debu, memberi minyak pelumas untuk girnya, menambah angin kedua bannya. Inti nya sepeda siap di kayuh kemana saja.


Pagi ini, Selasa 5 Peb 2013, sepeda kucoba ku kayuh dari Jalan Andi Tonro menuju rumah cucu yang ada di kompleks Perumahan Andi Tonro Sungguminasa Gowa, sehingga terkesan dari Andi Tonro ke Andi Tonro. Ini perlu Ane jelaskan, bahwa tempat tinggal Ane, di Jalan Andi Tonro I Makassar menuju Kompleks Perumahan Andi Tonro yang beralamat di Sungguminasa Kabupaten Gowa. 

Dalam perjalanan melewati Kantor dan Lembaga Pemasyarakatan (Penjara,red) di Gunung Sari Makassar, sejenak fikiran tertuju, kepada Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang diciduk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Jakarta. Beliau harus mendekan dalam Lembaga Pemasyarakatan di Jakarta karena kasus inpor daging sapi. Betapa kehidupan dalam Lembaga itu, semua serba terbatas dan jauh dari silaturahmi dengan sanak family, semoga saja Ane tak menghuni itu, selama hayat di kandung badan, gumanku dalam hati.

Sepeda terus kukayuh dengan lincah, selain karena suasana subuh masih sepi, juga jalan raya masih lengang, dipersimpangan batas Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, sepeda saya banting ke kiri dan terus melayu, hingga melewati Makam Syekh Yusuf, Tuanta Salamaka di Kampung Lakiung Kab. Gowa.

Dalam bangunan kubah itu, bersemayam seorang “Syekh Besar” yang kesohorannya sampai di Benua hitam Afrika. Sosok yang penuh kharismatik dan ajarannya, dalam Tajul Khalwatiyah Al-Makassari, masih hidup di tengah masyarakat Suku Makassar pada khususnya dan berbagai suku di jazirah Sulawesi Selatan hingga ke Mancanegara. Syekh Yusuf, Tuanta Salamaka, adalah Pahlawan Nasional pada dua benua Indonesia dan Afrika.

Akhirnya tiba juga di rumah cucu dengan naik sepeda, sebelum sampai, mampir membeli penganan untuk sarapan pagi. Nama kue tradisional itu “Putu Cangkiri” bahan bakunya dari beras dan ditengahnya di isi dengan parutan kelapa muda. Intinya “Putu Cangkiri” ini belum punah sekalipun kue lainnya dipasaran, semakin banyak dan beraneka ragam.

Sang cucu  masih kami temukan dalam keadaan tidur, untuk mempercepat bangkit dari pembaringan, maka dilakukan kompetisi, “Siapa yang cepat bangun dapat lima ribu” kedua cucu saya, langsung bangun dan cuci muka, lalu mengambil lembaran Sudirman dari tanganku,” Sebuah kebahagiaan Sang Nenek yang sangat mahal nilainya.

Setelah bercengkrama, kami pamit pulang karena jam sudah Pukul 07.00 wita. Dalam perjalanan pulang, di batas kota sudah begitu banyak bersiliweran kendaraan, mulai dari truk, angkutan umum, kendaraan pribadi, sepeda motor dan “Pagandeng” (pedagang) sayuran yang akan membawa jualan mereka  ke Kota Makassar.

Setelah “bersepeda” selama 45 menit, akhirnya tiba di rumah dan semua persendian mulai terasa kram, ini disebabkan karena lama tak naik sepeda, semoga di usia pensiun ini, dapat dimanfaatkan untuk menjaga stamina, sekaligus memperkuat produksi tulisan di blog pribadi, sehingga tercipta kondisi “Badan Sehat, Hidup Tenang.”

salam takzim


www.syakhruddin@gmail.com
SMS 081 2424 5938  PIN 2A2 7F 722

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>