Kamis 17 Januari 2013 bertepatan dengan penanggalan 5 Rabiul Awal 1434 H atau 6 Cap Jie Gwee Imlek 2563, Ibu Kota Negara Jakarta, dilanda banjir dan siaran televisi selama sehari penuh meliput peristiwa banjir, yang mengakibatkan kerugian sekitar Rp 35 milyar setiap harinya.

Ada yang mengatakan, Jakarta tenggelam, ada juga yang bertutur, Jakarta sedang di cuci dari segala dosa-dosa, kemudian JOKOWI dan AHOK akan memimpin dengan bersih.
Yang ironi adalah, ada warga yang tidak mau di evakuasi dan tetapi memilih tinggal di rumahnya, terutama mereka yang bermukim di Kampung PULO demikian halnya di dekat Sungai Ciliwung, terlebih dengan jebolnya bendungan di Latulharhari, mengakibatkan ibukota terkepung air banjir.

Akan tetapi, ada upaya paksa dari tim penolong, semua ini dilakukan demi menghindari jatuhnya korban, apalagi saat ini sudah ada 5 orang yang tewas, dua diantaranya karena tersengat setrum dari gardu PLN yang terendam air.

 Warga yang mengungsi umumnya minta air bersih dan WC mobile, hal ini bisa menjadi catatan penting bagi para penyelenggara penanggulangan bencana di tanah air.
Tim gabungan baik dari BNPB, Basarnas, Aangkatan Laut, Brimob, PMI dan TAGANA semua bahumembahu untuk penanganan darurat banjir dari tanggal 17 hingga sepuluh hari ke depan.
Dari peristiwa banjir ibukota ini, kita dapat menarik kesimpulan, betapa dahsyat dampak yang ditimbulkan, bilamana kita mengelola alam dengan membabibuta, lahan selama ini menjadi resapan air, beralih fungsi menjadi bangunan dengan tiang pancang dan beton-beton yang menghujam bumi.
Pepohonan yang selama ini tumbuh subur dan menyimpan air berubah menjadi vila-vila yang mewah, maka kini air tak ada lagi resapan akan tyetapi meluncur ke daerah rendahan dan membawa semua apa yang ada di jalur kerendahan.
Kota Jakarta seperti tenggelam, jalan-jalan utama bahkan Istana Negara turut mendapat kiriman banjir dari Katulampa di Bogor, hingga mereka yang selama ini tak pernah terjamah banjir, ikut menikmati datangnya kiriman banjir dari luar kota, apalagi hujan dan air laut yang sedang pasang, membuat warga harus diungsikan ke tempat yang lebih tinggi.
Di pengungsian tentu kondisinya serba darurat, kawasan Thamrin, Sudirman dan daerah elit di ibukota harus menjadi lokasi pengungsian bagi warga yang terkena banjir kiriman.
Semoga kejadian hari ini menjadi pelajaran yang sangat berharga, agar masyarakat tidak membuang sampah di kanal-kanal kota dan di sungai sehingga airan air dapat lebih cepat mencapai laut, kini Jakarta sedang di cuci oleh alam.
Bang Jokowi yang berbicara diatas gerobak seakan memberi sinyal kelabu akan wilayahnya yang dilanda banjir dan menggenangi Kampung PULO – Kampung Melayu khusunya, terlebih Jakarta Timur dan Jakarta Selatan bahkan merambah Jakarta Pusat, hingga air banjir jalan-jalan masuk istana.
Bang Jokowi yang baru dilantik awal Oktober 2013 baru sempat berfikir yang akan membenahi Jakarta dengan program bersih-bersih kali, rumah susun derek bahkan hibah bus kota, kini banjir sudah datang menghantam warganya.
Jokowi dengan topi merah dan jaket hitamnya, seakan berkata kepada para penentu anggaran dan  para politisi, mari kita turun dan menyaksikan warga ibukota, dan apa yang menjadi impiannya, supaya mendapat persetujuan dari Bapak dan Ibu yang duduk di DPR sehingga penggunaan anggaran dapat tepat sasaran.
Jakarta darurat banjir, warga berteriak minta air bersih, WC umum, selimut, makanan siap saji dan layanan kesehatan, semoga saja para petinggi di negeri ini, dapat mendengarnya dan menyediakan untuk kemaslahatan masyarakat.

Sementara itu para pakar dan pemerhati bencana banjir mengatakan, ada dua langkah pendekatan yang harus dilakukan secara terpadu, persoalan yang ada di hulu, berupa reboisasi, pembenahan Waduk katulampa dan rehabilitasi SITU-SITU sebagai penampung genangan. 

Sedang persoalan yang ada di hilir atau di jantung Kota Metropolitan, adalah kerja terpadu antara Pemerintah DKI Jakarta dibawah pimpinan Bang JOKOWI dengan Pemerintah pusat, terutama pembuatan gorong-gorong, pembenahan folder yang ada di Melati dan kawasan pluit. Ini menuntut segera untuk penanganannya, bukan banjir berlalu kemudian melupakan persoalan dasarnya.

Semoga banjir lima tahunan kali ini, menjadi pelajaran yang mahal bagi warga ibukota dan mari kita mendoakan bersama untuk cepat surut airnya dan kembali beraktifitas seperti sedia kala.    

    • Syakhruddin Makassar says:

      Itulah balasan bagi mereka yang mengeksploitasi hutan dan menggantinya dengan tiang pancang dan jadi vila, kini resapan air mulai berkurang, semoga musibah banjir ini menjadi pelajaran yang mahal harganya bagi warga, untuk kembali menanam di hulu agar ada resapan air dan pemerintah harus memiliki kebijakan untuk membuat daerah aliran sungai semakin lebar dan warganya jangan membuang sampahnya ke kanal/sungai.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>