Pengakuan

Suasana di ruang kerja yang asri di iringi lagu-lagu sentimentil, telah membuat semangat menulis yang membara. Entah kemana tulisan ini akan berakhir, kubiarkan saja semua yang ada dalam benakku, untuk kutumpahkan dalam desah nafas, seirama dengan lagu Daerah Makassar yang sengaja kuputar mengiringi tulisan ini.
Kucoba menghimpun semua daya nalar yang ada, sejenak anganku mengingat akan kehadiran seseorang yang begitu bermakna, Dia telah mengisi semua relung-relung kehidupanku. Dari padanya, Penulis belajar banyak tentang kearifan, kesetiaan dan sekaligus ilmu ranjang yang begitu mempesona.
Akh, kenapa perasaan ini terus menggelayut, guman Herman yang selama ini rajin menulis di blognya, semua uneg-uneg dan perasaan hatinya ditumpahkan, setiap kali berhadapan dengan keyboard, intinya tiada hari tanpa menulis.
Banyak hal yang membuat Herman harus berfikir panjang, kariernya sebagai pegawai negeri juga akan berakhir di tahun yang bershio ular (2013), tentunya semua itu, harus berfikir dan mengatur strategi, agar semangat pengabdian yang selama ini ditunjukkan, tidak harus kandas dan hilang tanpa jejak, seiring dengan predikat purnatugas alias pensiunan.
Herman yang selalu aktif, terus mengalirkan energi yang memberi kekuatan jiwa serta menjaga perasaan hatinya, tulisannya begitu lancar mengalir seakan tanpa konsep, namun dalam batok kepalanya yang kini mulai ditumbuhi rambut putih, sebagai tanda-tanda penuaan, akan tetapi semangat hidupnya, terus bersemangat sekalipun telah berada di ujung pengabdian.
Akh, tidak… pensiunan  bukan akhir dari segalanya, akan tetapi itu adalah awal dari sebuah pencitraan, Herman merasa yakin, karena kemampuan yang dimiliki memang bersifat langka, spesifik dengan pembawaan yang enjoy.
Akhirnya, tiba juga di ujung pengabdian dan kata terindah dalam setiap ujung pengabdian itu adalah pensiunan, disinilah nanti seseorang akan diuji akan kemampuan yang  dimiliki,  apakah masih terus berkiprah pascapengabdian atau menjadi beban keluarga dengan penyakit power syndrome.
Herman terus menulis dan menulis, enatah apa yang akan menjadi ujung dari tulisannya, akan tetapi batinnya terus berguman dan berkoar-koar, ayo …. ayoo…. teruslah menulis, hingga tiba pada suasana yang membuat dirinya lemas dan bergeser ke pembaringan, sekedar meluruskan badan, terlebih lagi lagu-lagu telah mengantarnya berlayar ke dunia kapok dan terbawa dengan mimpi-mimpi indahnya di siang bolong.
Setelah terbangun karena waktu dhuhur, Herman bergegas ke depan komputer dan mengulas kembali kenangan indah yang pernah dilaluinya, semuanya itu di rangkum dalam goresan pena yang bertajuk “Pengakuan” 
Sejurus kemudian segera ke kamar mandi dan membersihkan badan lagi menghadap ke Sang Khalik, Ya Rabb, Innasalati Wanasuki Wamahyaya, Wamamati, Walillahi Rabbil Alamien (Ya Allah, sesungguhnya Sholatku,Hidupku dan Matiku, hanya kepada-Mu semata)…. Salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *