Subuh Yang Indah

Gema suara adzan berkumandang di Masjid Al-Abrar Gunung Sari Makassar, suara itu menjangkau kawasan Mannuruki, Andi Tonro dan Bontoduri. Warga yang terpanggil tentunya segera bergegas menuju Masjid Al-Abrar.

Suasana subuh di Hari Rabu 21 November 2012, menjelang saat datangnya musim hujan, tentu membawa berkah tersendiri. Sesama jamaah saling mengingatkan untuk antisipasi banjir. 
Kalau kita amati, memang sepanjang  Sultan Alauddin Makassar, terdapat saluran air besar (got utama) yang memiliki tumpukan sampah yang menghambat lajunya air di musim hujan nant.
Bilamana Pemkot Makassar lambat mengantisipasi dan hanya sibuk dengan berbagai kampanye untuk bursa Gubernur Sulsel, maka dapat diprediksi, Makassar akan kebanjiran lagi dan impian Makassar menjadi Kota Dunia, tentu akan jauh panggang dari api alias sulit terwujud.
Terlepas dari kondisi got yang mempet dan peranan warga yang acuh dengan kondisi disekitarnya, tentu semakin memperburuk citra untuk meraih adipura. Maka sesama jamaah, saling mengingatkan untuk saatnya membersihkan diri dan lingkungan masing-masing.
Rata-rata jamaah yang datang sholat subuh adalah mereka yang sudah pensiun dan mulai sepuh, jarang kami menyaksikan anak muda, kalaupun ada itu dapat dihitung jari.  
Benarlah apa yang menjadi kekhawatiran orang Barat, kami akan was-was bilamana umat Islam, sholat subuhnya sama ramainya dengan “Sholat Jumat”. Ternyata tidak semua warga mampu melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Mungkin disebabkan karena pengaruh begadang atau menonton televisi hingga larut malam, ini salah satu siasat Barat untuk mempengaruhi sikap mental dan meninabobokan warga sehingga tak mampu melakukan sholat subuh.
Akh… jangan salahkan siapa, ujarku berguman sendiri, akan tetapi bentengi dirimu dengan sholat, laksanakan dengan penuh kesadaran sehingga apapun tantangannya, insya allah akan terlaksana kegiatan sholat itu lima kali sehari semalam.
Memasuki jalur Andi Tonro, para jamaah yang sudah kembali dari Masjid Al-Abrar, sejenak tinggal di ujung jalan, sambil menyaksikan pintu gerbang yang baru saja selesai di pasang dengan anggaran gotong royong. 
Disini terlihat betapa indahnya kebersamaan, ke mesjid sama-sama, dialog di saat pulang dan membangun bersama, semua ini karena hadirnya kepemimpinan dalam tataran ORT dan ORW.
Kebersamaan warga adalah kunci suksesnya silaturahmi dan terbangunnya nilai-nilai ukhuwah diantara sesama, menciptakan kedamaian dan rasa saling mencintai karena Allah.
Subuh yang indah, merupakan topik tulisan adalah gambaran suasana diantara jamaah dan sekaligus sarana silaturahmi yang efektif dan pada saatnya nanti menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan warga menuju masyarakat sejahtera yang bernuansa Islami.
Selanjutnya, di awali tahun 2013, warga akan memasuki ajang pemilihan Gubernur Sulsel dengan tetap bertumpu pada landasan rasa kasih sayang, sehingga benar-benar dapat melaksanakan dan memilih pemimpin yang senantiasa memikirkan masalah sosial kemasyarakatan dan kesejahteraan warga.
Karena itu,s eorang pemimpin tidak pernah berhenti pada apa yang telah dicapai saat ini tetapi akan terus bergulir seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman dengan salah satu kata kunci, “Dont Stop Komandan”, salamaki ki pada salama.

Di tulis pada hari Rabu 21 November 2012
Saat kembali dari Sholat Subuh di Masjid Albar
Gunungsari Makassar

syakhruddin

Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Generalis) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.