Bila tak ada aral melintang, Insya Allah, 5 Februari 2013 akan memasuki masa purnabakti alias PENSIUN dari Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan dengan pangkat terakhir Pembina (IV/c). Menelusuri kembali perjalanan karier, saat diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tanggal 1 Februari 1979 dan ditempatkan pada Kantor Wilayah Departemen Sosial Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
Kemudian mutasi ke Kantor Departemen Kabupaten Pasir di Tanah Grogot, lalu kembali ke kampong halaman dan ditempatkan pada Kantor Departemen Sosial Kabupaten Takalar di Pattalassang tahun 1985. Karena sering menulis di mass media, akhirnya Kakanwil Depsos Prov. Sulsel menarik dari Kabupaten Takalar dan menempatkan sebagai Humas pada Kantor Wilayah Departemen Sosial Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar tahun 1990.
Semua peristiwa perjalanan karier, sepertinya masih terasa baru kemarin berlalu. Hari ini, 1 Muharram 1434 H yang bertepatan dengan penanggalan 15 November 2012 kalau mau berhitung dengan cermat, maka datat dikatakan, sisa 90 hari lagi lamanya akan mendapatkkan predikat baru sebagai Purnabhakti Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan.
Sekalipun suara-suara di luar pemerintahan mengatakan, akan memperpanjang masa pensiun menjadi 58 tahun, akan tetapi, kini harus siap menghadapi kenyataan yaitu PENSIUN. “Pensiun” merupakan saat-saat yang paling tidak diinginkan kehadirannya oleh siapa saja yang bekerja sebagai pegawai, baik sebagai Pegawai Negeri Sipil maupun sebagai Pegawai Swasta.
Keharusan berpisah dengan instansi tempat bekerja dan mengabdi selama puluhan tahun, sama halnya dengan dipisahkan oleh sesuatu yang telah lama melekat dalam diri, tentu akan sangat berat untuk merelakannya.  Oleh karena itu, ketika seseorang mulai memasuki dan menjalankan pensiun,  rasa sedih, kaget, dan gelisah siapapun orangnya pasti akan merasakannya. 
Ketika saat pensiun tiba, ada tiga hal yang akan hilang yaitu, pertama hilangnya kegiatan rutin yang dilakukan sejak berangkat di pagi hari sampai pulang bekerja, keduakehilangan teman kerja, dan terakhir hilangnya sebagian pendapatan. Berapa lama seseorang  yang baru menjalankan pensiun dapat beradaptasi dengan lingkungan baru? 
Jawabannya tergantung dari kesiapan diri untuk menjalankan pensiun. Menghadapi kondisi yang akan terjadi, maka kita saatnya menata ruangan depan rumah, sebagai kantor utama, tradisi menulis adalah salah satu solusi. Ruang tersebut benar-benar harus ditata sebagaimana sebuah kantor mini yang nantinya akan menjadi pusat kegiatan, agar suasana batin tidak menjadi kikuk karena predikat pensiun. 
Sebagai seorang anggota TAGANA (Taruna Siaga Bencana) masih terlalu banyak aktifitas yang harus dilakukan, menulis buku, sebagai narasumber diberbagai pelatihan atau dosen luar biasa, penyiar radio adalah solusi dalam mengisi hari-hari panjang di masa pensiun, upaya tersebut dilakukan, agar tidak mengalami derita batin yang bisa berdampak kepada timbulnya penyakit stress, strok dan bisa stop. 
Masa pensiun adalah masa yang indah, saatnya bersama keluarga menikmati sisa-sisa kehidupan, memperbanyak ibadah di masjid yang terdekat, bersilarturahmi ke rumah kerabat dan yang paling utama, selalu menjaga sikap mental sebagai penulis.
Berolah raga dan tentunya menikmati hidup dengan perasaan riang yang dilandasi rasa syukur akan pemberian Allah kepada hambanya, serta menjalani ketentuan takdir hingga tiba saatnya menghadap kepada Sang Khalik, Salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>