Seorang wanita paruh bayu, bernama DALIMANG, sesenggukan di dada petugas verifikasi korban bencana kebakaran,  dengan rambut yang memutih, hidup sebatang kara di kampung halamannya di Kelurahan Tamanroya-Boyong Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Peristiwa kebakaran yang menghanguskan isi rumahnya bersama 23 tetangganya, dalam sekejap musnah di lalap si jago merah. 
Tinggallah Dalimang seorang diri, meratapi nasib, keluarga dan sanak family sudah tiada, ia hanya janda seorang diri, yang harus bertahan di lokasi bencana dengan sisa-sisa harapan untuk tetap bertahan hidup di  usia yang kian menua. Dalimang adalah profil wanita Turatea yang memiliki ketabahan dan kepasrahan yang tinggi, hingga datanglah pertolongan, dengan hadirnya bantuan BBR (Bahan Bangunan Rumah) melalui Kementerian Sosial R.I. c.q. Direktorat PSKBS (Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial)

Dengan akumulasi anggaran sekitar Rp 15 juta bagi rumah yang musnah dan Rp 5 s/d 10 Juta untuk rumah yang tergolong rusak ringan sampai rusak berat, disinilah pentingnya kehadiran petugas verikikasi. Dalimang terkesima, masih ada asa (harapan) untuk hidup di Tamanroya, mimpinya untuk bisa memiliki rumah walau hanya  sekedar bisa hidup sebentar lagi akan terwujud.
Akan tetapi semua ini dapat terwujud manakala seluruh komponen bergerak untuk membantu para korban. Lurah Tamanroya harus menerbitkan KTP, minimal surat keterangan domisili, surat keterangan kepemilikan tanah, yang menegaskan bahwa rumah yang akan di bangun benar-benar berada di lahan milik pribadi dan bukan dalam status menumpang atau sedang mengontrak, hal ini perlu ditegaskan sebelum bantuan mengalir ke rekening korban bencana. 
Kemiskinan yang membuat Dalimang berharap banyak pada pemerintah dan para dermawan, agar impiannya bisa terwujud sebelum musim hujan tiba, ungkap tetua kampung yang ikut nimbrung pada pertemuan antara Pak Sigit Nugroho dari Kemsos dengan warga korban bencana di Tamanroya, Jeneponto Sabtu 10 November 2012. 
 Kemiskinan memang bukanlah hal yang mudah untuk diberantas karena untuk dapat memberantas kemiskinan diperlukan juga kerjasama antara semua pihak, termasuk para penyandang predikat miskin tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia, selama masih ada semangat untuk berusaha merumuskan kebijakan untuk menanggulangi pembengkakan kemiskinan di negara kita ini tanpa merugikan pihak lain. 
Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang mengalir ke kabupaten yang dipimpin Bupati Radjamilo diantaranya PKH (Program Keluarga Harapan), ASKESOS (Asuransi Kesejahteraan Sosial) kerjasama JAMSOSTEK dan bantuan langsung kepada korban Kebakaran, ini menunjukkan bahwa, 
Para penyelenggara negara di bidang kesejahteraan sosial terus berupaya untuk memiliki lahan penghidupan melalui program-program yang dikucurkan dari provinsi ke kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, dibawah komando Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang mengusut tagline pada pemilihan gubernur jilid II, dengan tagline. ”Dont Stop Komandan” yang bernuansa simbolik, bahwa tak ada kata berhenti untuk memikirkan kesejahteraan rakyat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>