Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  bekerjasama dengan PT.Reka Spasia Indonensia (Urban & Regional Planning and Management Consultant) yang berlangsung di Grand Clarion Hotel & Convention Makassar yang berlangsung sehari, Jumat 9 November 2012.
Para peserta pertemuan terdiri dari, utusan dari Kodam VII Wirabuana, Unsur Kepolisian, Dinas PU, Dinas Sosial, BPBD Sulsel dan unsur terkait termasuk dari Perguruan Tinggi dan BMKG Sulawesi Selatan.

Dalam diskusi terbatas, para peserta telah memberikan masukan untuk melihat permasalahan, dimana dalam kasus bencana, ada tiga hal yang perlu dilakukan, yaitu sebelum bencana, saat bencana dan sesudah bencana terjadi.

Dikatakan, bahwa ada delapan ancaman bencana di Sulawesi Selatan, yaitu ; ancaman keamanan/sabotase, banjir, gelombang pasang dan abrasi, kekeringan, epidemi dan wabah penyakit, konflik/kerusuhan sosial, angin puting beliung serta tanah longsor.
Sementara itu, ada pula yang disebut bencana lainnya, seperti  ancaman Kaldera Bawakaraeng yang masih tersisa 120 juta tumpukan material yang sewaktu-waktu dapat terjadi. 
Pihak Asisten Kodam VII / WB melaporkan bahwa TNI telah menugaskan personil untuk penanganan korban bencana yang terjadi di Sulawesi Barat pada tgl 7 November 2012, mengakibatkan 10 orang hilang, 4 buah rumah hanyut dan pihak TRC-TNI sudah ada di lokasi bencana.

Melengkapi pembahasan profil ini, para peserta dapat mengirimkan informasi lanjut melalui email > rekaspasiaindonesia41@gmail.com dengan subyek, penyusunan profil BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada pertanyaan  sesi kedua, Firdaus Daud dari Universitas Negeri Makassar  dalam pertemuan tersebut, mengharapkan adanya sosialisasi lebih awal, sehingga kegiatan penyusunan kesiapsiagaan ini diawali dengan memperkuat kegiatan sosialisasi tentang dampak bencana di masyarakat, tuturnya kepada narasumber PT. Reka Spasia Indonesia Jakarta. 

Selain itu, Sujarwo dari BMKG Wilayah IV yang meliputi Wilayah Sulawesi Maluku, menjelaskan, bahwa pihaknya telah memiliki radar cuaca di Kabupaten Maros, di tambahkan pula, bahwa dari aspek kesiapsiagaan, sejarah kejadian  gempa di Luwu, karena pengaruh Palung Koro, demikian halnya Patahan Saddang yang menyambung sampai ke Kabupaten Selayar.

Penegasan lainnya dari Pak Buttu yang menjadi Pendamping Bantuan Australia  di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan mengatakan, Penyusunan Profil Kesiapsiagaan di Wilayah Timur, masih dibutuhkan keterlibatan semua stakeholder termasuk para pemerhati bencana, begitu pula dari unsur Perguruan Tinggi, tuturnya.  



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>