Motor Mio milik sopirku
Berjalan lambat di jalur utama
Pikiran menerawang
Keangkasa raya


Keheningan memenuhi kediamannya
Dalam balutan air mata
Sang anak mengingatkan
Akhiri semua ini… ayahku


Jangan bebani kami dengan 
Beban yang tak mampu kami pikul
Jangan lagi hempaskan kami
Dalam cibiran yang penuh nista
Hasutan dan kampanye hitam
Telah meluluhlantahkan pertahanannya
Air matanya membuncah memenuhi dapurnya
Kami terdiam menyaksikan mereka
Kami larut dalam dekapan nestapa
Kami tersungkur dalam kelalaian
Mereka adalah anak-anak zaman 
Yang tak sanggup melihatku terus dalam kegundahan
Maafkan anakku, janganlah ada airmata
Aku berjanji kembali ke jalan-Nya
Aku ingin hidup dalam dekapan berkah
Hingga maut datang menjemputku
Maafkan ayah, wahai ananda
Bila kebanggaanmu kini pupus
Sisakan untukku sekelumit hati untuk bangkit
Agar aku bisa tersenyum di seberang sana
Izinkan ayah pamit dari sisimu
Menerobos dunia yang penuh onak
Ijinkan kami untuk tobat
Taubatan Nasuha
Sangat wajar bila dirimu kecewa padaku
Kupahami akan kegalauanmu
Kuharap inilah yang terakhir
Jangan lagi ada airmata mengalir
Getiran Kalbu, 8 November 2012
Sebagai bahan renungan menuju
Keharibaan Sang Khalik
Di sisa akhir pengabdian sebelum pensiun tiba

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>