Majalah triwulanan Solidaritas yang diterbitkan Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, di sambut baik khalayak pembaca, ironisnya di kalangan interen masih ada juga yang sewot menyaksikan kehadirannya, bahkan menyebutnya dengan Majalah Tagana. 

 Hal ini disebabkan, mereka adalah pejabat yang menduduki posisi tinggi dan mapan, namun kemampuan untuk menulis dan mempublikasikan apa yang sudah dilaksanakan mengalami kesulitan, saat Majalah Solidaritas akan terbit, bahan yang akan disajikan belum siap, tentu redaktur akan memilih jalan pintas dengan mengambil dari  “Syakhruddin Blog” yang sudah siap saji. 


Majalah Solidaritas, kini hadir ke publik, banyak yang memberi acungan jempol tetapi ada pula yang hanya sibuk  mencibir, padahal sebuah penerbitan yang sifatnya triwulanan harus menonjolkan apa yang diraih dalam tiga bulan terakhir. 

Secara kebetulan momentum penghargaan Menteri Sosial bagi Gubernur Sulsel sebagai pembna Tagana merupakan suatu prestasi yang layak disiarkan. Bagi Penulis, para pencibir itu menjadi   menarik dan bahan analisis, agar penempatan personil di posisi penting, salah satu kreterianya harus mampu menulis dan menjabarkan programnya dengan tertulis. 

Karena ketidakmampuan mereka, sehingga apa yang dilakukan dan diakui orang lain, justeru malah menjadi bahan cercaan. Dalam Lontara Makassar, terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi, “Punna eroko di calla, aggauko…. Nasaba tena gau taena calla na” dalam artian harfiah, “Bila engkau mau di cela berbuatlah, berkaryalah, karena tidak ada perbuatan atau karya manusia yang tidak ada titik celahnya”

Majalah Solidaritas dengan segala ketidaksempurnaan, sudah hadir di tangan pembaca, sebahagian besar menyambut baik dan penuh antusias membacanya, namun sebagian lainnya malah mencibir dan memberi komentar miring yang belum tentu juntrungannya. 



Hanya karena ketidakmampuan menyajikan naskah dalam waktu relatif singkat, keterbatasan kemampuan menjabarkan dalam tata naskah yang enak di baca dan dirasakan perlu, atau karena mereka kelabakan mencari dokumentasi yang akurat.  

Semoga dengan Majalah Solidaritas edisi kedua ini akan semakin mempererat tali silaturahmi di kalangan para pengabdi sosial, membangun komitmen kebersamaan dan menjauhkan syakwasangka yang dapat  meruntuhkan sendi-sendi kesetiakawanan. 

Hakekat Solidaritas adalah ajang pemersatu, tempat bergantung harapan dan menghimpun idea untuk saling memperkuat diantara sesama, karena roh solidaritas adalah persatuan dan saling memperkuat bukan sebaliknya, semoga dengan lahirnya tulisan ini sebagai refleksi akan cibiran bagi pembaca yang belum puas, maka di edisi ketiga diharapkan mampu hadir dengan segala tulisan-tulisan yang bernas dan berbobot, salamaki…!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>