Hujan rintik yang membasahi Kota Sukabumi membuat pepohonan di sekitar Hotel Taman Sari  bagai bersuka cita, sebagaimana anak-anak yang tengah mandi di kolam renang hotel.

Begitu bahagia mereka, anak-anal itu melompat ke kolam yang berwarna biru, ada di antara mereka sedang bermain ban dan sebagian lainnya menyelam dengan berganta-ganti gaya, setelah beberapa waktu di dalam kolam, anak-anak itu ke darat sembari melakukan gerakan-gerakan tambahan di pandu seorang instruktur, mungkin saja sedang mengikuti kursus renang.

Sementara orang tua mereka mengawasi dari pinggir kolam sembari menikmati kopi dan roti bakar dari café yang tersedia di sudut kolam.
Sejenak anganku melayang jauh, kepada seseorang yang sedang melakukan kunjungan kerja di Danau Toba Sumatera Utara, mungkin saja kondisi yang dialami juga sama, sebagai petugas yang bertanggungjawab dalam pengembangan wisata, maka beban tugas itulah yang menuntut tanggungjawab untuk banyak melihat obyek wisata di persada nusantara bahkan ke mancanegara.
Sekilas bayangan itu menghilang dan berganti menyaksikan mendung yang berarak ke timur dari Kota Sukabumi, entah kemana mereka dibawa angin, kami tak mampu mengikuti dalam pandangan mata, perasaan hati terus bergejolak, kemana mereka akan terbawa, hanya sang pengatur yang Maha Mengetahui.
Sementara deru suara mobil yang sedang berseliweran di depan hotel membuatku terhentak dalam lamunan, pelajaran untuk petang hari sengaja kutinggalkan dan menikmati panorama alam dari lantai II Hotel Taman Sari Sukabumi.
Disini semua gejolak batin dan kecamuk perasaan di eksplorasi untuk mengarahkan daya fikir dan nalar, hingga kemana akhir tulisan ini bertanda titik, semuanya kubiarkan berjalan seiring dengan desah nafasku.
Atmosfir Kota Sukabumi membuatku makin larut dalam lamunan, kutelusuri seluruh suara-suara sukma itu dalam nuansa batin yang sedang bercengkrama dengan alam sekitar.
Sukabumi, kota di belahan barat Parahiyangan ini telah membuncah perasaanku, menggugat setiap detak jantung untuk mengenang seseorang yang jauh dari pandanganku.
Kuhadirkan dia dalam bayangan semu, namun tak mampu juga mengikis semua kenangan lama bersamanya. Sejurus kemudian, keadaan dan kondisi batin tersadarkan, saat suara merdu dari masjid dekat hotel yang sedang melantunkan dzikir dan pujian kepada Sang Khalik, sementara penjual bakso yang ada di pintu gerbang hotel juga memukul-mukul mangkok sembari menanti pembeli dari warga yang bermukim di sekitar Hotel Taman Sari Sukabumi. 
Sungguh Kota Sukabumi dengan ikon “Mochi Sukabumi” penganan yang selalu diburu setiap pendatang, telah menjadikan kawasan ini yang di Zaman Belanda menjadi tempat lahan tanaman the sejauh mata memandang. Kini kawasan itu telah berubah fungsi menjadi tempat pemukiman, kawasan pemukiman penduduk dan lokasi pendidikan bagi Kepolisian Republik Indonesia.
Waktu terus berpacu, sebentar lagi rekan-rekan akan mengakhiri materi pelatihan sementara tulisan ini juga harus rampung sebelum rekan saya masuk ke kamar 325 di Lantai II Teratai Room Taman Sari Sukabumi, akhirnya senja di Kota Sukabumi telah memuaskan seluruh dahaga batin yang selama ini membuat sesak dan pekerjaan rutin yang teru menumpuk di meja kerja, hari ini semua menjadi lapang, dengan semangat membaja, akan kulangkahkan kaki kembali ke kampung halaman setelah mereguk semua apa yang menjadi impianku selama ini.
Sukabumi 18 Oktober 2012
Kupersembahkan kepada pembaca
Yang selalu setia mengikuti Blog ini, Salamaki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>